WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Persiapan Pernikahan



"Sayang, rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat dan menikmati pemandangan alam nan asri seperti ini. Rasanya aku benar-benar seperti hidup kembali," ucap Kania di sela-sela perjalanan menuji taman rumahnya.


"Bersyukurlah, Sayang, karena Allah masih memberikan kesempatan bagi kita untuk bisa hidup dan menikmati keindahan alam seperti ini."


Alex melihat sekelilingnya dan memperlihatkan kepadaku kalau aku harus bersyukur atas apa yang telah kumiliki saat ini.


"Iya, Sayang, aku merasa sangat bersyukur sekali karena Allah memberiku kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Allah memberiku kesempatan untuk merubah semuanya, bahwa tidak semua orang seberuntung aku."


Air mata jatuh membasahi pipi Kania, pertanda aku terharu dan bersykur untuk semua yang terjadi di hidupnya.


"Sayang, jangan menangis, nanti Papa kamu lihat trus beliau malah jadi sedih."


Alex menghapus air mata yang jatuh di pipi Kania. Ia menghibur Kania dan berharap tidak akan ada lagi air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.


"Kania, Sayang, sini Nak!"


Terdengar oleh Kania suara papanya yang tengah melambaikan tangan kepadanya, tentu saja dengan senyum semeringah yang terlihat sangat indah dan menawan. Ya, walaupun di usia yang terbilang tidak lagi muda, papa masih terlihat tampan dan menawan untuk ukuran orang-orang seusianya.


"Sayang, bisa tolong cepat, aku sudah tidak sabar ingin makan bersama dengan Papa," jelas Kania yang sudah tidak sabar dan terlihat sangat bersemangat sekali.


Tampa pikir panjang, atau meminta persetujuan Kania, Alex langsung menghoyong tubuh Kania dan berlari mendekati papa Kania.


"Alex, segan sama Papa," ujar Kania.


"Tidak apa-apa, keadaannya darurat, lagian Papamu sudah mengizinkanku untuk menjagamu dengan segenap jiwa dan kemampuan yang kumiliki," jelas Alex dengan nada suara yang meyakinkan.


Keyla tersenyum, kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Alex sembari terus menatap kekasih hatinya yang terus berjalan tanpa mengenal lelah sama sekali.


"Sayang, duduklah!"


Alex mendudukkan Kania di tikar piknik yang ditata dan disusun sedemikian rupa oleh bibi, spesial untuk Kania.


"Sayang, semua makanan ini khusus Papa buatkan untuk anak kesayangan Papa," ucap papa dengan senyum sumringah.


"Alex ikut masak juga dong, Pa, untuk calon istri Alex yang teramat sangat Alex cintai," ujar Alex yang juga tidak mau kalah.


"Papa? Sejak kapan kamu manggil Papa sama Papa aku, Sayang?"


Seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat, Kania merasa sangat senang melihat dua orang yang sangat ia cintai terlihat sangat akrab sekali.


"Sejak hari ini Papa meminta Alex memanggil Papa karena sebentar lagi 'kan kalian berdua akan segera menikah jadi nggak perlu sungkan juga."


Papa merangkul pundak Alex, terlihat sangat akrab sekali, sungguh terlihat seperti ayah dan anak.


"Masyaallah, Kania senang sekali melihat Papa dan Alex akrab," ujar Kania dengan mata berkaca-kaca.


"Udah, Sayang, sekarang kamu makan ya, keburu makanannya dingin!"


Alex menyodorkan makanannya kepada Kania, dan Kania menikmati makanan itu dengan sangat lahap.


"Bagaimana Sayang, apa rasanya enak?"


Papa Haris menatap Kania dengan harapan mendapatkan pujian dari putri kesayangannya.


"Kayaknya kita udah bisa bikin restoran deh," ujar Kania sembari memberikan kedua jempolnya kepada papanya dan Alex.


"Apakah kita udah bisa bikin restoran, Nak? Serius?"


Papa Haris tetap berpikir seperti seorang pengusaha yang masih ingin mengembangkan usaha-usahanya. Ya, kali ini Kania dan Alex ingin mewujudkan keinginan papanya. Mereka berdua akan bekerjasama untuk menginginkan keinginan papanya. Mereka ingin berbakti kepada papanya dengan cara mewujudkan apapun yang diinginkan oleh papanya di hari tua.


Sungguh, Kania terlihat seperti orang yang sudah tidak makan sangat lama, terlihat lahap sekali.


"Ini, Nak, makan yang banyak agar Kania cepat sehat dan bisa beraktifitas seperti biasanya, apalagi kalian berdua akan menikah," ucap papa Haris dengan senyum tipis yang membuat Kania dan Alex malu-malu kucing.


"Kania, apa kita siapkan saja acara pertunanganan kalian, Nak?"


Pertanyaan bibi membuat jantung Kania berdetak sangat hebat, ia bahkan tidak bisa mengontrol perasaannya, ia benar-benar tersipu malu.


"Kak, kok pertanyaan Bibi nggak di jawab, Non?"


Bibi mencubit pinggang Kania hingga membuat gadis cantik itu merasa geli dan semakin tersipu malu.


Tidak terima dicubit, aku membalas dengan mencubit pinggang bibi juga, kami saling bercanda dan bercengkrama layaknya seorang ibu dan anak yang memang sudah sangat dekat sekali.


"Kania, Bibi, sudah!" ucap papa Haris memperingatkan mereka.


"Iya, Pa" ucap Kania patuh.


Ya, kini papa Haris begitu dimuliakan dan disegani oleh Kania, sama seperti dahulu, apa yang beliau katakan akan didengarkan oleh Kania termasuk oleh bibi sang asisten rumah tangga mereka yang sudah seperti keluarga.


"Nak, karena sudah sore, kembalilah ke rumah, nanti kamu sakit main lama-lama di taman!" ujar papa Haris ramah dan sangat sopan.


Kania dibantu bibi membereskan semua perpengkapan dan makanan yang mereka kawa ke taman kemudian dengan tertib mereka kembali ke rumah dengan hati dan perasaan yang lebih baik.


"Bi, apa Bibi malam ini mau tidur di kamar Kania?" tanya Kania dengan sorot mata penuh harap.


"Bibi segan, Non," tolak sang bibi.


"Kenapa segan, Bi?"


"Apakah sudah izin sama Tuan, Non?" tanya bibi engan wajah yang masih tertunduk, seolah tidak enak.


"Sudah, Bi," balas Kania dengan lembut dan sangat sopan.


"Serius, Non? Tapi sepertinya Bibi tidak bisa, Non," tolak bibi.


"Bi, memangnya Bibi mau ke mana?" tanya Kania sembari menatap wajah bibi yang tertundu.


"Bibi di kamar bawah saja, nggak kemana-mana kok, Non," jelas bibi dengan nada suara lembut.


Wajah bibi masih tertunduk, seperti menyimpan sesuatu di hatinya, walaupun pembawaannya saat ini lebih tenang dan sangat berbeda dari ia yang sebelumnya.


"Bagaimana kalau kita tidur barengan sajq, Bi?" ajak Kania sekali lagi


Kania sebenrar lagi akan menikah dan ia ingin menghabiskan waktu-waktunya sebagai seorang gadis bersama orang-orang yang sangat ia sayangi, seseorang yang ia anggap sebagai keluarga, orang tua dan saudara.


Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki dan janganlah kalian saling membelakangi dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya melebihi tiga malam," (HR. Bukhari).


Bibi memandang takjub kepada Kania yang tidak lain adalah majikannga itu, namun memperlakukannya sangat baik bahkan seperti keluarga sendiri bukan asisten tumah tangga.


"Masyaallah, Non, Bibi senang karena kita berdia terlihat akrab layaknya keluarga."


Bibi terharu dan mengeluarkan air mata bahagia, kemudian memeluk Kania dengan kelembutan dan kehangatan cintanya. Bibi mencurahkan kasih sayangnya kepada Kania dan Kania juga membalas hal yang sama kepada bibi.


"Masyaallah, berkat Bibi Kania merasakan pelukan Bundo," ucap Kania di dalam hati.


"Kania sayang sama Bibi."