WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Saling Melepaskan Rindu



Bundo langsung memeluk Kania dengan sangat erat, seolah ia tidak ingin melepaskan Kania dan tidak ingin Kania pergi dari hidupnya.


"Bundo, ini Kania bukan Siti," ujar Kania lembut karena Kania tidak ingin membuat bundo salah mengira siapa dirinya.


Bundo tidak peduli siapa yang saat ini beliau peluk karena bagi beliau Kania ataupun Siti sama-sama disayang oleh bundo.


"Bundo tahu kamu Kania, bagi Bundo sama saja karena kamu adalah anak Bundo yang sangat Abak dan Bundo sayangi," ucap bundo sembari menepuk-nepuk pundak Kania.


Bundo merasa sangat senang sekali karena Kania datang dengan menggunakan pakaian muslimah dan menggenakan hijab.


"Sayang, kamu terlihat sangat cantik sekali memakai jilbab itu. Apakah itu adalah model pakaian masa depan?"


Bundo terlihat takjub melihat putrinya dari masa depan.


Kania senang karena kehadirannya dirindukan oleh bundo, dan yang lebih membahagiakan lagi bundo memuji pakaiannya, baju yang dipilihkan oleh Alex untuk Kania kenakan.


'Alex, Sayang, kamu dimana?' batin Kania.


Kania tersadar kalau ia sedari tadi belum melihat Alex.


'Apakah cuma aku yang kembali ke masa lalu?' ucap Kania di dalam hati.


Bola mata Kania berputar, memperhatikan setiap sudut tapi tidak ada Alex lagi di sisinya.


"Sayang, apa kamu mencari lelaki yang mirip dengan Nak Syamsul?" tanya bundo yang sepertinya pahan dengan gelagat Kania.


Bundo melepaskan pelukannya dari Kania dan menatap wajah Kania dengan seksama.


Walaupun heran dengan pertanyaan bundo, Kania tetap menatap bundo, kemudian ia mengangguk.


"Dia pergi bersama Ayah ke makam Siti," ucap bundo dengan tatapan sedih.


Kania paham bagaimana perasaan bundo saat ini, beliau pasti merasa sedih. Namun, jawaban bundo membuat Kania sangat kaget.


'Apakah Siti meninggal? Kenapa? Ada apa? Secepat itu 'kah? Dimana Uda Syamsul? Apakah Datuak Maringgih yang membuat Kania meninggal?' ucap Kania di dalam hati.


Begitu banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Kania yang membuatnya penasaran.


Ingin sekali Kania bertanya kepada bundo tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun ia tidak ingin pertanyaannya malah membuat bundo sakit dan terluka. Ya, pertanyaan Kania mungkin saja akan menggoreskan kembali luka di hati bundo karena Siti adalah putri kesayangan beliau.


"Sayang, apakah lelaki yang mirip dengan Syamsul itu memperlakukanmu dengan baik?" tanya bundo kepada Kania.


Dari wajah bundo terlihat sekali kalau ia tidak ingin Kania terluka di masa depan.


"Bundo, nama lelaki yang mirip dengan Uda Syamsul itu adalah Alex. Ia adalah Uda Syamsul dari masa depan, dan ia adalah lelaki yang sangat baik. Alex mencintai dan menyayangiku dengan tulus, ia memperlakukanku dengan sebaik-baiknya dan ia tidak akan pernah membiarkan ada orang yang menyakitiku. Ia tidak akan membiarkan setetes air matapun jatuh membasahi pipiku," ujar Kania dengan rona wajah bahagia.


Kania tidak serta merta memuji Alex di depan bundo untuk menenangkan hati bundo, akan tetapi semua yang Kania sampaikan benar adanya, Alex benar-benar lelaki yang sangat baik yang diciptakan untuk Kania.


"Bundo, kenapa menangis?"


Kania menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi bundo karena ia tidak tega ada setetes air matapun jatuh membasahi pipi bundo.


"Bundo menangis bukan karena sedih, tapi karena merasa sangat bahagia," ujar bundo.


Kania senang, rona wajah bundo terlihat sangat bahagia dan terlihat tidak ada beban sama sekali lagi.


"Bundo, jangan khawatir ya, Siti yang diberi nama Kania di masa depan yang tidak lain adalah diriku, hidup bahagia di masa depan, menjadi gadis yang sangat kuat dan berjuang hidup karena ditemani oleh lelaki yang teramat sangat baik," jelas Kania sembari memeluk bundo dengan erat.


"Sayang, Bundo senang mendengarnya. Walaupun zaman sekarang kamu menderita tapi setidaknya di masa depan kamu tidak lagi menangis," jelas bundo.


"Bundo, apakah Kania boleh berkunjung ke makam Siti?" ucap Kania dengan tatapan penuh harap.


Bundo mengangguk tanpa bertanya apapun kepada Kania. Beliau kemudian membimbing tangan Kania untuk keluar dari rumah gadang untuk mengunjungi makan Siti yang berada di bukit Gunung Padang.


Kania ingin mengucapkan selamat tinggal dan salam perpisahan kepada Siti, dan Kania berharap semoga arwah Siti akan tenang di sana.


"Sayang, apakah kamu bertemu dengan Siti di masa depan?" tanya bundo di sela-sela perjalanan menanjak gunung Padang.


"Kania sering bertemu dengan Siti di dalam mimpi Bundo dan ketika Siti hadir dalam diri Kania, maka Kania bisa mendengarkan dan mengetahui isi hatinya. Di masa depan, Siti dan Syamsul bertemu dan saling mengungkapkan penyesalan mereka. Terlihat sekali kalau Syamsul meminta maaf kepada Siti dengan tulus sehingga tidak ada lagi penyesalan, dendam dan rasa sakit di antara keduanya," jelas Kania jujur tanpa menambah atau mengurangi.


Kania ingin menyampaikan apa yang ia lihat dan dengar di masa depan kepada bundo agar perasaan bundo menjadi lebih baik.


"Kania, jika kamu bertemu lagi dengan Siti, katakan kepadanya karena Abak dan Bundo tidak bisa memberikan hidup yang lebih baik kepada Siti. Ia harus menanggung sakit karena terpaksa menikah dengan Datuak Maringgih karena akan membayar hutang keluarga sehingga merengget nyawanya," ucap bundo dengan raut wajah sedih dan menyesal.


Bundo terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah terjadi kepada putrinya hingga air mata Kania turut jatuh membasahi pipinya.


"Bundo, jangan merasa bersalah seperti itu karena di masa depan Siti hidup dengan sangat nyaman dan penuh dengan kemewahan, bahkan ia terlahir sebagai seorang putri yang dilayani oleh banyak pelayan," jelas Kania menjelaskan siapa dirinya di masa depan.


Kania bukan membanggakan diri dan kekayaan yang ia miliki, namun ia merasa kalau ia harus menceritakan semuanya kepada bundo agar bundo dan abak nantinya tidak lagi menyalahkan diri sendiri.


"Apakah benar apa yang kamu katakan, Nak?" tanya bundo lagi dengan raut wajah yang berubah menjadi rasa penasaran.


Kania mengeluarkan ponsel dari sakunya, ia ingin memperlihatkan buktinya kepada bundo bahwa apa yang ia katakan benar dan tidak mengada-ngada.


"Benda persegi empat pipih itu apa, Nak?"


Bundo juga merasa kaget dengan apa yang di bawa oleh Kania. Sesuatu yang belum pernah beliau lihat sama sekali.


"Bundo, ini namanya ponsel. Benda ini adalah benda mewah yang ada di masa depan. Benda ini membuat pemiliknya bisa melihat dunia dan bisa melakukan apa saja dengan benda pipih ini," jelas Kania dengan bahasa sederhan.


Ya, ponsel adalah alat canggih yang membuat dunia berada di dalam genggaman.


"Apakah masa depan itu secanggih itu? Apakah itu surga, Nak?"