
Kania ingin sekali berdiri dan berjalan menuju ranjang miliknya, tapi ia tidak memiliki daya apapun untuk berjalan menuju tempat tidurnya karena kondisi tubuhnya masih sangat lemah dan belum bisa dipaksakan bergerak sama sekali.
Begitu juga dengan Alex, lelaki tampan itu juga tidak bisa melakukan apa-apa, ia tidak bisa berjalan dan membantu Keyla karena posisinya saat ini masih berada di kursi roda sama seperti Kania.
"Tunggu sebentar, Sayang, aku akan meminta perawat membantu kita."
Alex memencet bel agar salah seorang yang ada di rumah membantu mereka.
Ya, dalam hitungan detik, datanglah dua orang perawat yang bersiap untuk membantu Kania dan Alex.
"Apa ada yang Nona dan Tuan Muda butuhkan?" tanya salah seorang perawat ketika menghampiri Kania dan Alex.
"Saya ingin tidur, Suster, saya lelah," ucap Kania dengan nada suara lemah namun ekspresi wajah yang terlihat bersemangat.
"Baiklah, kalau begitu saya akan membantu Nona."
Dua orang suster membantu Kania untuk tidur di ranjangnya, menyelimuti dan memberikan pelayanam terbaik untuk si gadis belia itu.
"Apakah Tuan Muda juga ingin tidur?" tanya Suster sembari menatap ke arah Alex yang sedari tadi hanya diam memperhatikan Kania.
Alex menggeleng, ia tidak ingin tidur sekarang karena ia ingin melihat Kania tertidur serta melepaskan kerinduannya kepada kekasih hati yang sangat dicintainya itu. Alex tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya bertemu dengan Kania, apalagi ia tidak dapat memastikan kalau esok hari ia masih bisa melihat Kania atau tidak karena sifat papa Kania yang tidak bisa ia tebak sama sekali.
"Tuan Muda, sebaiknya ikut istirahat juga agar cepat pulih," jelas suster dengan senyuman. Namun, Alex tetap tidak ingin tidur karena ia ingin menikmati pemandangan saat kekasih hati sedang tertidur.
"Sayang, kamu tidur juga ya, istirahat! Aku ingin kamu juga ikut beristirahat agar kamu juga cepat pulih dan membaik," ujar Alex.
Ya, kalau sudah Kania yang meminta maka tidak ada yang bisa Alex lakukan selain menurut kepada kekasih hatinya itu.
"Kalau begitu kita bantu ya, Tuan Muda," ungkap suster sembari membantu Alex untuk berbaring di ranjangnya.
Jarak ranjang Alex dan Kania sekitar satu meter sehingga keduanya bisa tetap saling berpandangan dan saling menatap satu sama lain.
"Kalau begitu tidurlah, kalau ada apa-apa segera panggillah saya karena saya akan bersiaga diluar," jelas sang suster sembari berlalu pergi meninggalkan kamar Kania dan Alex.
Alex membalikkan badannya ke arah Kania, menatap kekasih hati yang sangat dicintainya itu dengan mata berbinar penuh dengan cinta hingga Kania menjadi salah tingkah kepadanya.
"Sayang, jangan mandangku seperti itu," ucap Keyla sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Rasanya aku sudah lama sekali tidak memandang wajah cantik itu," ujar Alex yang membuat Kania serasa melayang-layang di udara.
Memang Kania sudah berusaha keras untuk tidak baper dan menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang mendekatkan keduanya kepada zina, namun Kania tetap belum bisa seutuhnya melepaskan diri dari Alex, kata-kata putus masih sulit ia ungkapkan karena Alex adalah cinta pertama yang ia inginkan menjadi cinta sejati dan cinta terakhirnya.
"Sayang, sekarang aku ingin tidur, aku ingin bertemu dengan Abak dan Bundo dalam mimpiku walaupun cuma sesaat," ucap Kania dengan nada suara lemah.
"Sayang, kamu sudah tidur?"
Alex menatap Kania dan memanggil-manggil nama gadis cantik itu beberapa kali tapi tidak ada sahutan kecuali suara dengkuran yang membuat Alex tersenyum.
Di dalam hati Alex berkata,' Ternyata gadis cantik dan sempurna seperti Kania bisa ngorok juga ya.'
Alex tersenyum sembari terus menatap wajah Kania yang tetap terlihat cantik walaupun tengah tertidur pulas sambil mendengkur.
"Abak, Bundo, Kania rindu!"
Seketika Alex mendengar Kania memanggil nama abak dan bundo dengan wajah yang sedang tersenyum bahagia dalam mata yang tertutup rapat itu.
"Sayang, alhamdulillah, akhirnya kamu bertemu juga sama Abak dan Bundo walaupun dalam mimpi," ujar Alex dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes membasahi pipinya. Ia bukannya bersedih, tapi merasa terharu karena impian kecil sang kekasih akhirnya menjadi kenyataan.
Kania benar-benar telah berubah menjadi gadis yang lebih baik, ia tidak lagi bahagia dengan kemewahan dan segala hal yang dimilikinya di dunia ini, tapi hal kecil seperti pertemuannya dengan orang tuanya di masa lalu walau hanya dalam mimpi membuat Kania merasa sangat bahagia.
"Sayang, aku akan mengajakmu mengunjungi Mamamu setelah kita berdua sehat, jadi sekarang kamu berbahagialah dan lepaskan semua kerinduan akan masa lalu, hingga ikhlaskanlah semua takdir hidup yang telah terjadi dengan menyambut hari baru yang lebih baik," ujar Alex sembari menghapus air matanya.
Bagi Alex, kebahagiaan Kania adalah kebahagiaannya juga dan sedihnya Kania adalah sedihnya juga. Kania adalah harta terindah yang Alex miliki, kekasih hati yang ingin ia nikahi dan tidak akan ia sia-siakan.
"Sayang, aku berjanji setelah kita sehat maka aku akan melamarmu kepada kedua orang tuamu, aku akan berjuang dan aku akan membahagiakanmu."
Alex terus menatap Kania yang tengah tertidur dan mengutarakan isi hatinya, kalau ia akan membuat Kania bahagia dan tidak akan membuat setetes air mata pun jatuh membasahi pipi Kania.
"Apakah kamu yakin bisa membahagiakan Kania?" tanya seseorang yang masuk ke ruangan.
Alex melihat ke arah sumber suara itu dan melihat sosok papa Kania datang menghampirinya dengan wajah yang berwibawa.
"Om," sapa Alex sambil mencoba duduk dari pembaringannya.
"Kamu istirahat saja, jangan terlalu memaksakan diri," ucap papa Haris dengan nada suara ramah dan sangat sopan sekali, hingga membuat Alex merasa segan kepada beliau.
"Om, saya serius sayang sama Kania dan saya sangat ingin menjadi suami Kania. Saya ingin melindungi Kania dan saya akan menjaga Kania. Saya berjanji akan membuat Kania bahagia," ucap Alex dengan keseriusan yang muncul dari dalam hatinya.
"Apa yang bisa kamu berikan kepada Kania selain cinta dan kasih sayangmu itu? Apalagi kalian berdua masih SMA tidak bisa apa-apa," ungkap papa Haris yang merasa tidak yakin dengan janji seorang lelaki yang masih dianggap belia dan belum cukup umur.
"Saya punya rencana ingin mengembangkan usaha di bidang fashion dengan teman modern klasik, dimana saya ingin memadupadankan gaya modern dengan adat istiadat dan budaya Minangkabau," ucap Alex dengan bersemangat dan keyakinan penuh.
Kata-kata Alex terdengar brilian, bahkan papa Haris terlihat tidak percaya melihat Alex berpikir cerdas dan segemilang itu, apalagi Alex masih SMA.
"Bisa kamu jelaskan kepada saya apa yang kamu maksud?"