
"Kania, Kania, kemarilah!"
Lamunan Kania dibuyarkan oleh suara seseorang yang terdengar tidak asing baginya.
'Mama, suara itu terdengar seperti suara Mama,' ucap Kania di dalam hati.
"Apakah Mama datang untuk memintaku mencari dan menyelamatkan Papa? Apakah Papa dalam bahaya?" ucap Kania di dalam hati dengan pikiran yang melayang-layang.
Ya, berminggu-minggu berlalu, belum ada tanda-tanda keberadaan papa.
"Mama, Papa, Kania sangat rindu sekali masa di mana kita jalan-jalan ke Bukittinggi tiga tahun yang lalu." Lamunan Kania kembali ke masa ia dan kedua orang tuanya berbahagia dalam keluarga kecil mereka.
Ya, pagi itu, Kania bersama keluarganya memutuskan pergi berjalan-jalan untuk menghilangkan gundah dan penat di hati dari sibuknya dan padatnya rutinitas pekerjaan.
"Nia, Nak, udah siap belum? Sebentar lagi Papa akan datang menjemput kita, Sayang!" teriak mama dari luar kamar Kania.
Kania masih sibuk membereskan barang-barang dan berbagai macam snack untuk mereka makan selama di perjalanan.
"Nia, cepat, Sayang," ucap mama lagi menghampiri Keyla ke kamarnya.
"Iya, Ma," jawab Kania dengan senyuman.
Kania dan Mama berjalan keluar rumah dengan membawa barang-barang mereka dengan dibantu oleh asisten rumah tangga mereka.
"Mama, Kania apa udah siap?" tanya papa Herman yang turun dari mobil menghampiri Kania dan mamanya
"Udah dong, Pa," jawab Kania bersemangat.
"Sayang, sini Papa bantuin!" Papa Herman membawa semua barang-barang yang ada di tangan Kania.
Papa Herman memang ayah yang sangat menyayangi keluarga dan sangat mencintai anak dan istrinya, karena bagi papa Herman waktu itu keluarga adalah harta yang paling berharga.
Kania, mama, papa dan beberapa asisten rumah tangga berjalan menuju parkiran mobil. Papa Herman memasukkan semua barang bawaan di bagasi mobil sementara Kania dan mamanya langsung masuk ke mobil.
"Pa, kita mau kemana? Jadi ke puncak 'kan?"
Kania sepertinya sudah tidak sabar menikmati pemandangan alam puncak dengan kebun teh yang sangat segar sekali dan dapat memanjakan mata.
"Iya, Sayang. Cieeh yang bahagia banget mau ke puncak ya, Sayang!"
Mama Kania terlihat sangat bahagia dan senang sekali melihat putri kesayangannya tersenyum bahagia.
Ya, bagi Kania waktu bersama keluarga adalah waktu terbaik dan terindah yang selalu ia rindukan. Papa Herman akan menyisakan waktu di tengah kesibukannya untuk menghibur Kania walaupun cuma hanya sekedar berjalan-jalan keluar kota. Bagi mereka kebersamaan sebagai sebuah keluarga adalah yang terpenting.
"Iya, Ma, Kania senang banget karena kita semua bisa jalan-jalan ke puncak," ucap Kania ceria dengan senyum merekah yang tergambar jelas di wajahnya.
"Masyaallah, anak Mama senyumnya benar-benar menyejukkan sekali, Mama senang melihat Kania selalu tersenyum ceria seperti itu," ucap mama Kania sembari memeluk putri kesayangan yang duduk di samping beliau.
"Ma, nanti kita pergi ke kebun binatang 'kan, Ma? Kania pengen ke taman safari," pinta Kania yang sepertinya sudah tidak sabar ingin bermain-main di kebun binatang.
"Iya, Sayang, kan jalan-jalan sekarang adalah kado ulang tahun Kania yang tertunda waktu itu," jelas papa Herman sembari menatap mata Kania yang terlihat berbinar-binar karena bahagia.
"Ini kado ulang tahunnya Mama juga 'kan, Pa?" Mama Kania juga tidak mau kalah dari putri kesayangannya.
"Okeh, siap!" ucap Kania dan mamanya serentak.
"Bismillah."
Kami berdoa bersama-sama dengan khusuk, berharap Allah melindungi kami selama perjalanan pulang dan pergi.
“Barang siapa yang ketika keluar dari rumahnya membaca doa “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa haula wa laa quwwata illaa billah”, maka dikatakan kepadanya : Kamu telah tercukup dan terlindungi, dan setan pun akan menjauh darinya.”
(HR. Tirmidzi).
Mobil papa Herman melaju menyusuri setiap jalan dengan kecepatan standar.
Perjalanan panjang di tempuh dengan pemandangan kota dan jejeran bangunan bertingkat, kemudian masuk ke lingkungan asri dimana terdapat hamparan kebun teh yang sangat luas membuat perjalanan mereka terasa menyenangkan. Pemandangan asri yang menyegarkan mata dengan udara sejuk menghiasi perjalanan itu.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan.
"Pa, nanti kita singgah dan makan di tepi jalan ya, Pa," pinta Kania bersemangat.
"Tentu, Nak, sudah lama sekali kita tidak makan sembari menikmati pemandangan kebun teh," balas papa Herman yang juga tidak kalah bersemangat.
"Jadi udah nggak sabar banget pengen makan banyak," sela mama Kania yang sepertinya juga sudah tidak sabar ingin menikmati makanan yang ada di pinggir kebun teh.
"Mama, ngidam tuh, Pa," sorak Kania yang juga tidak kalah bersemangat.
"Bilang aja kamu juga udah nggak sabar pengen makan, Nak, malah bilang-bilang Mama ngidam lagi," mama Kania becanda dengan putri kesayangan yang sangat dicintai dan disayanginya dengan tulus.
"Iih, Mama, apaan sih!" protes Kania sembari menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk mamanya.
Kania sudah tidak sabar membayangkan bisa makan sembari menikmati pemandangan kebun teh dan taman Safari yang teramat sangat indah, lukisan keindahan alam, ciptaan Allah SWT.
"Ma, Pa, Kania berharap keluarga kita akan tetap akur dan kompak selamanya. Kania berharap jika salah satu dari kita ada yang tersesat maka tugas kita adalah mengingatkan dan merangkul agar kembali lagi bersatu," pinta Kania sembari menatap kedua orang tuanya.
Kania tidak ingin ada perpecahan dan petengkaran yang akan menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka.
"Tentu, Sayang, kita adalah keluarga dan tidak ada yang bisa menghancurkan ikatan itu," jelas mama Kania dengan senyum menawannya.
Ya, ketika mama Kania masih ada, keluarga mereka adalah keluarga yang tergolong harmonis yang sangat bahagia, akan tetapi semuanya berubah ketika mama Kania tiada maka semuanya berubah, keluarga Kania hancur berantakan seolah tidak ada lagi sandaran mereka. Papa Kania semakin liar dan semakin tidak bisa dikendalikan karena yang beliau pikirkan hanyalah uang, uang dan uang. Beliau sudah tidak peduli lagi dengan anak semata wayang yang dulu teramat sangat disayanginya dengan tulus.
Jika waktu bisa diputar kembali Kania ingin sekali kembali ke masa dimana ia bisa hidup rukun dan damai bersama kedua orang tuanya.
"Andai waktu bisa di putar," ucap Kania di dalam hati.
"Siti, Nak, apa yang kamu lakukan di sana? Bukankah kita akan bersiap untuk jalan-jalan ke Bukittinggi?" sorak bundo memanggil-manggil nama Siti.
"Ha? Siti? Apa ini? Aku sedang berada dimana? Bukankah aku tadi bersama mama dan papa?" ujar Kania heran, karena tanpa ia sadari saat ini ia telah berada di halaman rumahnya Siti.
Kania kaget dan heran karena ia tiba-tiba kembali ke masa lalu.
"Apakah ini karena aku mengatakan kalau waktu bisa diputar kembali?" ucap Kania yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Siti, cepat sini, Nak, bantuin bundo!" teriakan bundo semakin keras.