
Kania keluar dari kamar sembari tersenyum kepada kekasih hati yang sangat ia cintai dengan segenap hati, namun saat membuka pintu yang ia lihat bukan lagi Alex tapi kedua orang tua Siti.
'Apa lagi ini? Apa yang terjadi? Kenapa aku berpindah tempat dalam dua dimensi waktu yang berbeda dengan sangat mudah?'
Kania merasa heran dengan keanehan-keanehan yang membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Siti, kita makan dulu yuk, Nak! Abak dan Bundo rasanya sudah sangat lapar," ucap bundo sembari menggandeng tangan Kania untuk keluar dari kamarnya.
"Kita mau kemana, Bundo?"
"Kita mau mencoba makanan-makanan khas Kota Bikittinggi," ungkap bundo bersemangat.
Mencoba menikmati makanan baru yang khas dari daerah lain memang menjadi kesukaan Kania.
Ya, kini mereka berkeliling menikmati kuliner pinggir jalan di sekitar jam gadang yang memang terkenal sangat menggugah selera.
"Abak, kita makan nasi kapai yuk," ucap bundo dengan bersemangat.
"Oke, terserah Bundo aja, Abak ngikut," ucap abak dengan senyuman yang terlihat sangat ikhlas.
"Kamu nggak capek 'kan, Nak?" tanya bundo lagi yang sepertinya sadar melihat nafas Kania yang ngos-ngosan karena berjalan menanjak dan menurun.
"Nggak kok, malahan Siti senang bisa berwisata kuliner seperti ini sama Abak dan Bundo," jelas Kania sembari menundukkan pandangannya.
Sebenarnya Kania merasa sangat lelah dan capek sekali berjalam, namun ia tidak bisa mengendalikan kakiknya karena ia setiap saat berganti ke dua dimensi waktu berbeda tanpa aba-aba.
"Siti? Siti siapa, Sayang?"
Kania mengangkat wajahnya, ia melihat sosok lelaki yang sangat ia cintai ada di depannya, bahkan yang aneh lagi, saat ini mereka ada di sebuah mall dan sedang memesan makanan, kegiatan yang persis sama dengan di masa lalu.
"Nggak apa-apa kok, Sayang. Maksud aku ice cre-"
"Kamu pasti mau ice cream ya, Sayang?" ucap Alex menebak.
Kania mengangguk, ia ragu dengan hati yang masih penuh dengan rasa heran.
"Sayang, kamu kok bisa ada disini?" tanya Kania memastikan.
"Aku terlalu rindu sama kamu, beberapa jam kita tidak berkomunikasi dan aku merasa sangat kehilangan," jelas Alex mengungkapkan isi hatinya.
"Ternyata kamu bisa gombal juga ya!" balas Kania dengan wajah cemberut.
"Siapa juga yang gombal, orang berkata jujur kok," ucap Alex sembari menatap tajam mata Bella.
"Kamulah, bisanya ngegombal aja," protes Kania.
"Habis kamu juga aneh, dari tadi ngomongnya ngaur, kenapa juga kamu nanya aku ada disini, ' kan kitanya lagi jalan-jalan, Sayang," ungkap Alex sembari mencubit hidung Kania.
"Sayang, terima kasih ya karena kamu telah ada untukku. Aku benar-benar tidak tahu apa apa yang terjadi padaku tanpa kamu," ucap Kania jujur dengan wajah yang tersipu malu.
"Iya, Sayang, aku juga bersyukur banget karena Allah menghadirkanmu untukku, menjadi malaikat ku."
Kania berkata tulus dari hati terdalam, ia merasa kehadiran Alex adalah untuk membantu permasalahan hidupnya.
Kania merasa sangat bersyukur sekali karena di kelilingi oleh orang-orang baik yang sangat menyayanginya. Setidaknya ia akhirnya bisa melupakan semua duka dan kesedihan di hatinya dengan dihibur oleh orang-orang yang sangat baik kepadanya. Sungguh, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan?
"Sayang, aku ingin sekali makan nasi kapau," ujar Kania tiba-tiba.
"Nasi kapau?"
"Iya, nasi Kapau yang ada di Bukittinggi," jelas Kania.
Nasi kapau adalah makanan khas dari kota Bukittinggi yang biasanya dijejerkan di sekitar jam gadang, lokasinya berada di jantung kota Bukittinggi, menjadi lokasi wajib yang harus dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun wisatawan luar.
Kawasan strategis dengan menyajikan makanan khas dengan kuliner-kuliner khas yang dapat memanjakan selera seperti berbagai jenis rendang, gulai-gulai, ayam pop, ayam singgang dan beberapa dari sekian banyak kuliner yang siap menanti untuk dinikmati sembari menatap jam gadang dan tidak lupa teh es sebagai pelengkapnya.
Di sekitar jam gadang terdapat pedagang-pedagang kecil yang menyajikan makanan-makanan yang bisa dinikmati langsung berhadapan dengan jam gadang. Ada juga restoran dan kafe-kafe untuk kalangan menengah ke atas dan kalangan anak muda elit, dengan hidangan-hidangan mewah dengan harga terjangkau juga di sekitar sana. Kania memang pernah beberapa kali menikmati nasi kapau bersama mamanya ketika sang mama masih hidup, saat keduanya menemani sang papa perjalanan bisnis. Kania ingat mamanya sangat suka sekali nasi kapau, sama seperti bundo.
"Nia, temenin Mama memesan makanan," ucap mama bersemangat dan terlihat sudah tidak sabar lagi untuk menikmati makanan khas Bukittinggi yang benar-benar menggugah selera.
"Baik, Mama," jawab Kania sembari berdiri dari tempat duduknya.
Kania mengandeng tangan mamanya untuk segera berjalan menuju warung pinggir jalan yang menyediakan makanan-makanan khas Bukittinggi.
"Sayang, Mama mau nanya sama kamu, kenapa kamu menerima Alex menjadi kekasihmu waktu dulu, Nak?" tanya mama disela-sela perjalanan mereka.
"Kania juga tidak tahu kenapa, Ma. Kania hanya yakin saja memilih Alex dibandingkan dengan lelaki lain yang mendekati Kania. Satu hal yang menambah keyakinan Kania, karena ia adalah lelaki baik yang sepertinya bisa menjadi sahabat dan kekasih untuk Kania," jelas Kania kepada mamanya dengan jawaban serius dan tentu saja dengan membanggakan Alex, kekasih hatinya.
"Nia, lantas apakah kamu masih mencintai Alex?" tanya mama lagi penasaran dengan cerita putri kesayangannya.
"Untuk saat ini Kania belum menyerahkan cinta ini seutuhnya untuk lelaki yang belum menjadi suami Kania, Ma," jelas Kania dengan sangat yakin.
"Nia, pantesan saja Alex suka banget sama kamu, sampai menolak banyak cewek yang ingin dekat dengannya. Lelaki tampan dan pintar walaupun tidak dari kalangan anak orang kaya tetap menjadikan Alex populer, tidak hanya itu, semua gelar yang disandangnya tidak menjadikan ia sombong. Ia tetap setia dengan satu cinta yaitu kamu, Nak," jelas mama membanggakan Alex, anak sekretaris yang bekerja di perusahaan papa Haris.
"Apa Mama ingin Alex menjadi menatu Mama?" tanya Kania dengan gelak tawa di wajah cantiknya.
"Aduh, Sayang, masih SMA udah bahas nikah, kamu ingin nikah muda, Nak?" goda sang mama.
Kania hanya tersenyum geli, ia merasa sangat bersyukur karena memiliki seorang mama yang mencintainya dengan tulus dan tidak membeda-bedakan orang kaya dan orang yamg tidak berada.
"Sayang, Mama berdoa semoga kamu dan Rasya berjodoh suatu hari nanti."
Mama membelai lembut rambut Kania dengan penuh cinta dan kasih sayang. Belaian yang membuat air mata Kania jatuh membasahi pipinya karena saat ini ia hanya bisa mengenang semua kenangan indah tentang mamanya yang kini sudah tenang di surga. Ya, Kania akhirnya menyadari kalau kembalinya ia sesaat ke masa lampau adalah untuk mengenang nasi kapau yang disukai mamanya.
"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Alex yang menyadarkan Kania dari lamunannya.