
Tangisan Kania langsung terhenti ketika ia mendengarkan suara logat Minang dari seorang lelaki yang ia peluk.
'Ini Syamsul bukan Alex? Apa yang terjadi?' ucap Kania di dalam hati.
"Siti, apa yang terjadi?"
Syamsul yang berwujud Alex itu duduk dari pembaringannya. Matanya menatap tajam mata Kania. Lelaki itu menghapus air mata yang jatuh membasahi pipi Kania. Ya, hal yang sama seperti yang Alex lakukan, menghapus air mata Kania dan tidak membiarkan setetes pun kristal-kristal bening itu jatuh membasahi pipi wanita cantik itu.
"Uda Syamsul, apa ini kamu?" tanya Kania dengan nada suara serak.
Syamsul terlihat heran, lagi-lagi wanita yang ada di depannya seolah tidak mengenal dirinya sama sekali.
Syamsul merasakan keanehan yang tidak biasa, ia juga melihat saat ini ia tidak berada di dunianya.
"Apakah aku sudah meninggal dan saat ini berada di surga?" ucap Syamsul dengan sejuta keraguan yang terpancar dari wajah polosnya.
Kania menatap Syamsul, ia paham apa yang saat ini dirasakan oleh lelaki itu karena itu sama halnya dengan yang Kania alami saat ia kembali ke masa lalu dan melihat dunianya berubah dari hal yang biasa ia lihat.
"Siti, apa kita telah meninggal?" tanya Syamsul sekali lagi dengan rasa heran dan bingung yang terlihat di wajahnya.
Kania menggenggam tangan Syamsul, akan tetapi lelaki itu menghindar karena ia sangat paham tidak seharuanya lelaki dan wanita yang belum halal bersentuhan seperti itu.
Kania juga terlihat malu dan salah tingkah karena saat ini ia berhadapan dengan Syamsul yang datang dari masa lalu, bukan Alex, sang kekasih yang teramat sangat ia cintai.
Kania juga sangat paham dengan sikap dan tindakan Syamsul yang menolak bersentuhan dengannya, walaupun Kania sangat tahu kalau Syamsul sangat menyukai dan mencintai Siti dan mengharpakan gadis cantik itu menjadi istrinya. Akan tetapi, kekentalam adat yang berpedoman pada Al-qur'an dan hadist membuat lelaki dan wanita Minangkabau menjadi berkelas.
"Maaf, Uda," ucap Kania dengan wajah tertunduk.
"Tidak apa-apa, Sit ...," Syamsul seolah ragu memanggil nama Siti lagi kepada gadis yang ada di depannya itu.
"Ka-nia," ucap Kania menyambung ucapan Syamsul.
"Jadi nama kamu Kania, pantas saja kamu terlihat berbeda 360 derajat dari Siti yang aku kenal," ujar Syamsul.
Lelaki yang bernama Syamsul itu terlihat tidak kaget sama sekali ketika Kania mengakui namanya kepada Syamsul.
"Uda, aku ingin menjelaskan kepada Uda tentang banyak hal, akan tetapi aku tidak tahu akan memulai dari mana. Tapi, satu hal yang perlu Uda ketahui, kalau saat ini Uda berada di masa depan. Saat ini Uda berada di tubuh Alex, lelaki yang merupakan Uda dari masa depan. Sementara aku, namaku Kania dan aku berasal dari masa depan," jelas Kania pelan dan hati-hati dengan harapan agar lelaki yang berada di depannya itu percaya kepadanya.
Awalnya terlihat ragu, tapi Syamsul adalah lelaki yang sangat cerdas, jadi ia berusaha bertanya secara baik-baik.
"Lantas, wanita yang aku temui beberapa hari yang lalu itu adalah kamu?" tanya Syamsul seolah ingin memastikan apa yang telah dilihat dan dialaminya di masa lalu.
Kania mengangguk dan membenarkan apa yang dipertanyakan oleh Syamsul.
"Sekarang tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Syamsul sembari menatap mata Kania serius.
Syamsul berharap Kania tidak membohonginya dan menceritakan semua hal secara mendetail.
"Baiklah," jawab Kania ramah.
"Apakah semua yang kamu katakan benar?" tanya Syamsul.
Lelaki itu seolah tidak percaya dengan apa yang Kania katakan kepadanya, namun ia telah mengalami semua hal itu sendiri dan saat ini ia memang berada di masa depan dengan dirinya namun dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Uda, aku mengatakan yang sesungguhnya, tanpa dilebihkan atau dikurangi sedikitpun. Aku bahkan juga kaget melihat Uda berada di masa depan, namun aku percaya kalau kehadiran Uda disini untuk membantuku," ujar Kania dengan mata yang penuh dengan pengharapan.
Syamsul terlihat masih bingung dan linglung dengan semua yang terjadi, akan tetapi akalnya berusaha berpikir keras dan memahami semua yang Kania katakan.
"Lantas, apakah yang akan aku lakukan sekarang? Bisakah aku kembali ke masa lalu?" tanya Syamsul.
Bagaimanapun juga Syamsul terlihat lebih nyaman hidup di masa lalu sebagai Syamsul dari pada hidup sebagai Alex dari masa depan.
Kania terdiam, ia juga tidak tahu bagaimana mengembalikan Syamsul ke masa lalu. Ia juga memikirkan dimana keberadaan kekasih hati yang teramat sangat dicintainya itu saat ini.
"Kania, tolong jawab aku!" ucap Syamsul sembari menatap mata Kania dengan harapan gadis cantik yang berada di depannya itu memberikan jawaban sesuai dengan keinginannya, ia juga yakin kalau hanya Kania yang bisa membantunya sekarang
"Aku akan mencari cara, namun saat ini aku ingin meminta pertolongan darimu, Uda," ujar Kania.
Kania bepikir dan yakin kalau Syamsul datang dari masa lalu untuk membantunya, jadi ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan wajah mengiba dan penuh dengan pengharapan, Kania mengaitkan kedua tangannya untuk memohon kepada Syamsul.
"Kania, apa yang kamu lakukan?"
Tentu saja sebagai laki-laki Syamsul tidak ingin Kania memohon kepadanya. Baginya perempuan tetap harus dihormati dan dimulikan karena wanit itu berharga.
"Aku saat ini sudah tidak tahu lagi akan melakukan apa, aku butuh bantuanmu, Uda," ujar Kania dengan nada suara serak.
Air mata jatuh membasahi pipi Kania, ia merasa sangat sedih dan putus harapan, dadanya serasa sangat sesak dan otaknya serasa ingin pecah karena yang terbayang di benaknya adalah papanya yang saat ini tengah disekap oleh om Galih, lelaki tua bangka yang mengharapkan Kania menjadi istrinya.
"Kania, bisa kamu jelaskan apa yang terjadi? Tolong, jangan menangis!" ucap Syamsul dengan tatapan iba.
Syamsul sungguh tidak tega jika ada air mata yang jatuh membasai pipi seorang wanita.
"Saat ini Papaku tengah disekap oleh orang-orang jahat. Om Galih, lelaki itu mengharapkan aku menjadi istrinya, bahkan kedatanganku ke masa lalu karena aku menghindari menikah dengannya," jelas Kania dengan nada suara terisak-isak.
Kania mengepalkan tangannya, wajahnya terlihat sangat kesal dan ingin sekali ia berkelahi dengan semua anak buah Galih. Akan tetapi Galih bukanlah Datuak Maringgih yang berkuasa dengan bantuan anak buahnya saja. Galih adalah lelaki serakah yang bisa menghancurkan hidup seseorang dalam hitungan detik.
"Kania, apakah Om Galih itu adalah orang yang berkuasa di masa depan?"
Dengan nada suara tenang, Syamsul berusaha mencari tahu tentang si tua bangka yang bernama Galih itu. Ia seolah sedang menyusun rencana dan strategi yang tepat untuk melawan Galih.
"Iya, Om Galih adalah orang yang berkuasa di masa depan, sikapnya seperti Datuak Maringgih di masa lalu, namun kekuatan Om Galih itu di seluruh dunia. Ia akan dengan mudahnya menghancurkan hidup seseorang dengan kedua tangannya, maka dari itu kita perlu srategi yang tepat untuk melawannya," jelas Kania bersemangat.
"Kania, mari kita temui Om Galih!" ujar Syamsul.