
Bagaimanapun jahatnya papanya, Kania tetap menyayangi papanya dan tidak tega meninggalkan papanya sendirian dalam sekapan om Galih.
Bukan juga karena Kania tidak ingin pulang kampung dan mengunjungi makam Siti, hanya saja Kania merasa tidak tega meninggalkan papanya. Namun, sebagian kecil hati Kania berkata kalau ia harus pulang kampung karena ia yakin ada petunjuk di kampungnya.
"Sayang, kita tidak perlu berlama-lama di kampung. Kalau kita menemukan petunjuk dalam satu hari maka kita akan segera kembali ke Jakarta, tapi jika dalam tiga hari kita tidak menemukan petunjuk apa-apa maka kita juga akan segera pulang ke Jakarta," usul Alex.
Alex sangat tahu bagaimana perasaan kekasihnya saat ini sehingga ia memberikan usul kepada gadis cantik itu, agar kekasihnya itu tidak merasa bersedih hati atau meragu.
"Baiklah, Sayang."
Dengan yakin, Kania setuju dengan rencana Alex. Kania percaya sepenuhnya dengan kekasih hatinya itu.
"Sayang kalau kamu sudah siap bagaimana kalau sekarang kita langsung ke yayasan?"
Alex menggandeng tangan Kania dan membawa gadis cantik itu untuk keluar dari apartemen menuju parkiran.
"Sayang, kita mau ke panti asuhan mana?"
Kania penasaran ke mana Alex akan membawanya kali ini.
"Kita akan ke panti asuhan yang berada di pinggir kota Jakarta, kita cari saja panti yang dekat dengan bandara," jelas Alex bersemangat.
"Lantas, apakah kita akan langsung berangkat ke Padang?"
Kania dan Alex bahkan belum menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk berangkat.
"Iya, Sayang, kita langsung ke Padang saja. Kalau masalah pakaian kamu tidak usah khawatir kita nanti bisa beli di sana saja. Kita sesuaikan saja bagaimana pakaian masyarakat Minangkabau."
Alex benar-benar berpikir sampai sejauh itu dan benar-benar sudah sangat yakin untuk berangkat ke Sumatera Barat.
"Sayang, apa kamu masih punya uang? Bukankah kamu sudah jadi pengangguran sejak sebulan yang lalu?"
Kania tidak punya apa-apa dan hanya menumpang hidup kepada Alex yang selama ini memiliki tabungan dari hasil bekerja paruh waktu. Jadi bagaimanapun juga Kania merasa sangat segan karena telah merepotkan Alex.
"Sayang, tenang saja, kamu tidak usah mikirkan masalah keuangan karena aku akan mengatasi semuanya, insaallah uangnya cukup untuk biaya kita berdua sampai beberapa bulan ke depan. Yang terpenting saat ini kita berusaha dulu melakukan yang terbaik dan nantinya kita rintis lagi usaha kita dari awal, jadi kamu akan terlepas dari Pak Galih," jelas Alex.
Kania terpana dan terpesona dengan kekasih hatinya itu. Ia memikirkan banyak hal secara mendetail, yang Kania sendiri bahkan tidak memikirkannya.
"Terima kasih, Sayang."
Kania tersenyum kepada Alex, karena ia merasa bahagia dan bersyukur memiliki kekasih sebaik Alex, yang tidak hanya pintar tetapi juga baik dan tampan.
Alex juga membalas Kania dengan memberikan senyuman terbaiknya, karena bagi Alex kebahagiaan Kania adalah yang terpenting baginya.
"Sayang, kita mampir dulu di supermarket untuk membeli sembako dan bahan makanan yang akan kita berikan kepada anak-anak," terang Alex.
Kania sangat ingat sekali ketika pertama kali Alex mengajaknya untuk berbagi kepada sesama yang membutuhkan, Alex mengatakan kalau berbagi itu tidak akan mengurangi harta, malah akan dilebihkan oleh Allah jika dilakukan dengan ikhlas dan tanpa pamrih.
"Sayang, kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa aku setampan itu?" tanya Alex yang merasa sangat bahagia ketika Kania menatapnya.
"Narsis!" cibir Kania.
Kania adalah tipe gadis yang tidak ingin mengakui sesuatu, bahkan jika sudah tertangkap basah seperti itu tetap saja Kania tidak ingin mengakui ketampanan dan karisma kekasihnya.
"Sayang, bagaimana dengan rencana kita untuk membuat restoran dan toko yang menjual pakaian adat dan sesuatu yang unik dan khas dari Ranah Minang," tanya Alex bersemangat dengan ide cemerlangnya.
Dengan pulang kampung dan berkunjung ke Sumatera Barat, maka mereka bisa survey untuk usaha yang akan mereka lakukan setelah ini.
"Aku setuju dan aku serahkan semuanya kepadamu, karena yang terpenting bagiku saat ini adalah membantu Siti dan keluarganya serta menyelamatkan Papa dari sekapan Om Galih sehingga aku tidak perlu menikah dengan tua bangka itu," ucap Kania.
Kania percaya kalau Alex adalah lelaki yang sangat kompeten dalam berbisnis, bahkan ia sudah cocok untuk memiliki perusahaan sendiri, jadi suatu hari nanti, jika ia telah mewarisi perusahaan papanya, Kania berniat menjadikan Revano CEO di perusahaannya dan Kania akan membantu dan mendukung Alex dari belakang.
Kania dan Alex akhirnya membeli perlengkapan yang akan dibagikan di sebuah supermarket yang lokasinya tidak terlalu jauh dari panti asuhan. Panti asuhan tahfidz al-qur'an yang sering dikunjungi oleh Kania dan Alex ketika melakukan kegiatan amal.
"Alhamdulillah, Sayang, kita akhirnya bisa kembali ke panti asuhan ini dan berbagi sedikit kebahagiaan kepada mereka."
Kania terlihat bahagia dan bersemangat ketika mereka baru saja keluar dari mobil.
"Iya, Sayang, aku juga merasa sangat senang karena kita masih diberikan rezeki yang berlebih untuk bisa membantu orang-orang yang membutuhkan," jelas Alex yang juga tidak kalah bersemangat.
Rona wajah bahagia tergambar jelas di wajah keduanya, betapa berbagi dengan sesama itu bisa mendatangkan kebahagiaan.
"Assalamualaikum," ucap Kania dan Alex serentak ketika melangkahkan kaki memasuki panti asuhan.
"Waalaikumsalam, Kak Kania, Mas Alex."
Para anak-anak dengan usia 4-10 tahun menyambut dan menghampiri Kania dan Alex yang memang telah mereka kenal.
Kania sebelumnya tidak pernah ingin berinteraksi dengan orang-orang yang kurang beruntung seperti dirinya, namun kehadiran Alex mengajarkan Kania untuk rendah hati dan bersyukur atas nikmat yang Tuhan berikan dengan cara berbagi dengan orang lain. Ya, awalnya Kania merasa terpaksa, namun lama kelamaan Kania menemukan kebahagiaan tersendiri dengan bertemu dan dekat dengan anak-anak di panti asuhan.
"Kak Nia, Mas Alex, sudah lama tidak ke sini, kami rindu."
Itulah kata-kata yang selalu keluar dari anak-anak yang kurang beruntung itu. Wajah mereka terlihat bahagia dan selalu ceria di tengah keterbatasan mereka. Ya, senyum mengembang selalu mereka perlihatkan walaupun hati mereka mungkin saja pernah bersedih dan menangis sama dengan manusia lainnya.
"Maaf ya adik-adik, Kakak dan Mas sekarang sedang ada urusan yang harus diselesaikan jadi kami jarang mengunjungi adik-adik," balas Kania sembari tersenyum bahagia.
"Kakak, apapun masalah atau urusan Kakak, kami akan berdoa semoga Allah memperdahnya," ucap salah seorang anak yang terdengar sangat dewasa.
"Benarkah?"