WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Makan Malam Terindah



"Baik, Abak," jawab mereka serentak.


Kania dan keluarganya berjalan menuruni bukit, menyusuri pematang sawah hingga akhirnya sampailah di rumah. Abak dan Revano salat di musala yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka sedangkan Kania dan bundo segera memasuki rumah untuk melaksanakan salat magrib bersama.


Setelah selesai salat, Kania dan bundo menyiapkan hidangan makan malam.


Kali ini hidangannya terlihat berbeda dari biasanya, tergolong banyak dan mewah untuk ukuran keluarga mereka.


Kania juga merasa heran, semua makanan ini seperti dipersiapkan untuk menyambutnya dan Alex.


"Sayang, apa kamu heran kenapa banyak makanan malam ini?" tanya bundo sembari menatap wajah Kania yang memang memikirkan apa yang bundo tebak.


Kania menoleh ke arah bundo, dan menatap bundo dengan seksama, kemudian Kania mengangangguk sebagai pembenaran dari apa yang baru saja bundo pertanyakan.


"Nak, entah mengapa tadi pagi Bundo dan Abak memiliki firasat kalau kamu akan datang. Jadi Abak pergi memancing dan mendapatkan banyak ikan, Abak juga mengambil sayuran di ladang kita kemudian meminta Bundo untuk memasak semua makanan ini," jelas bundo sembari tersenyum manis kepada Kania.


Wajah keriput bundo terlihat sangat bersinar dan cantik walaupun hanya diterangi dengan lampu yang berbahan bakar minyak tanah dan dengan cahaya seadanya.


"Terima kasih banyak, Bundo, Nia senang sekali karena Nia memang sangat merindukan masakan Bundo," ucap Kanja dengan senyum terbaiknya.


Kania menggenggam tangan bundo sembari tersenyum manis kepada beliau dengan hati dan perasaan yang teramat sangat bahagia. Kania ingin menikmati waktu-waktu bahagia dan yang tersisa bersama bundo sebelum ia dipanggil kembali ke masa depan.


"Assalamualaikum."


Terdengar suara abak dan Alex baru saja pulang dari musala.


Kania dan bundo langsung menyambutnya, dengan senyum merekah yang tergambar jelas di wajah keduanya.


Sungguh, terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis sekali.


"Nak Alex, mari makan!"


Bundo menarik tangan Alex dan membawa lelaki tampan itu ke ruang makan, mengambilkan makanan dan menyajikan makanan terbaik untuk Alex. Seperti perlakuan seorang mertua kepada menantu yang sangat disayanginya.


"Nak Alex apa sudah pernah makan masakan Padang seperti ini?" tanya bundo ramah dan sangat sopan.


Alex mengangguk, hanya saja ia tidak pernah melihat masakan Padang seperti yang bundo sajikan. Semua makanan yang dihidangkan terlihat sangat enak sekali dan benar-benar sangat menggugah selera. Alex terlihat tidak sabar untuk segera menyantap makanan itu.


"Makanlah, Nak!" Seolah paham kalau saat ini Alex sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan, bundo mempersilahkan Alex makan.


Sementara Kania, ia mengambilkan makanan untuk abak, ia melakukan itu seolah ia mengambilkan makanan untuk papa yang teramat sangat dicintainya, setidaknya kerinduannya kepada sang papa bisa terobati.


"Abak, ini," ucap Kania terdengar ramah dan sopan.


"Sayang, ini Bundo telah mengambilkan makanan untukmu, makanlah, Nak!" ucap bundo dengan mata yang terlihat berbinar.


Kania menatap wajah bundo dengan tatapan penuh pengharapan, seolah ia ingin sekali mengatakan sesuatu, namun lisannya terlalu kaku untuk mengungkapkan.


"Sayang, apa kamu ingin disuapi sama Bundo?" ujar bundo yang juga sepertinya paham dengan isi hati Kania.


Kania mengangguk malu, karena di usianya yang sudah tidak lagi muda, ia ingin sekali makan dari tangan bundo. Ya, hal yang dulu sering dilakukannya dengan mamanya ketika beliau masih hidup. Kania sering bermanja-manja dan meminta bundo menyuapinya ketika ia sedang mengalami hari yang sulit.


"Kania, kamu persis sekali seperti Siti, Nak," ujar bundo sembari mengingat putri kesayangannya yang kini sudah tidak ada lagi di dunia ini.


Siti juga adalah anak yang sangat manja, ia sering makan disuapi oleh bundo, dan gadis cantik itu akan makan dengan lahap dan banyak ketika makan dari bundo.


"Bundo, Kania pasti akan merindukan masa-masa indah seperti ini di mana kita makan malam sekeluarga dengan hati dan perasaan yang teramat sangat bahagia dan senang seperti ini. Kita benar-benar terlihat seperti keluarga sejati," ujar Kania.


Kania mengungkapkan isi hatinya, bahwa ia teramat sangat merindukan makan malam keluarga yang sangat indah seperti ini dengan keluarganya di masa depan juga, namun semua harapannya tidak lagi bisa jadi kenyataan karena mamanya sudah tidak lagi berada di dunia ini.


"Sayang, nanti setelah Papamu kembali ke rumah, maka masaklah masakan Padang seperti ini, insaallah hubungan ayah dan anak akan kembali erat, kesalahpahaman antara kalian berdua akan segera mencair, karena semua orang tua sayang sama anaknya dan tidak ada seorang pun orang tua yang tega menyakiti anaknya. Mereka hanya menyembunyikan luka di hatinya dan rasa sakit di hatinya yang ia simpan sendiri pasti sangat menyakitkan sekali karena ia telah melukai hati dan perasaan anaknya," jelas abak.


Abak terlihat sangat paham dengan perasaan Kania saat ini, apalagi setelah Kania bercerita tentang kedua orang tuanya dan bagaimana nasipnya di masa depan yang hampir sama dengan Siti.


"Iya, Nak, tidak ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya, mereka hanya tertekan dan berada dalam situasi sulit," ucap bundo membenarkan apa yang abak katakan.


"Nak Alex, kamu bilang kalau kamu akan menikahi Kania bukan?"


Abak memutar wajahnya menatap Alex, terlihat sekali keseriusan abak, seolah ia berbicara dengan calon menantunya.


"Iya, Abak," jawab Alex dengan suara lantang.


"Kamu jaga Kania, bahagiakan dia dan jangan pernah menyakiti hati dan perasaannya karena harga diri seorang lelaki adalah ucapannya dan bagaimana ia memperlakukan orang yang ia sayangi."


Nasehat abak adalah nasehat terbaik yang pernah ku dengar, nasehat dari orang tua yang akan memberikan anak gadis kesayangannya kepada calon menantu pilihan anaknya.


Abak juga berpesan kalau Alex dan Kania harus menjalani pernikahan yang berlandaskan agama di mana al-qur'an dan hadist adalah pedomannya. Di tambah lagi, pesan abak agar kami menjalankan adat istiadat Minangkabau dalam menjalani kehidupan modern yang mungkin saja sangat jauh dari agama dan adat.


"Iya, Abak, terima kasih banyak atas semua nasehat yang Abak dan Bundo berikan kepada kami. Rasanya kami benar-benar beruntung kembali ke masa lalu seperti ini," jawab Alex sembari tersenyum.


"Apa kalian tinggal disini saja, Nak?" ucap bundo.


Bundo seolah ingin sekali Kania dan Alex tinggal di masa lalu, menjalani hidup bahagia bersama abak dan bundo. Namun, apa yang harus Kania lalukan jika ia mempunyai tanggung jawab di masa depan yang menjadi tanggung jawabnya.


Kania sangat paham sekali kalau kedua orang tuanya di masa lalu sangat menyayangi dan mencintainya serta mengharapkan ia untuk tetap berada di masa lalu, namun ada yang lebih membutuhkan Kania yaitu papanya yang saat ini masih di sekap oleh om Galih.