
Kania mendengar bundo memanggil-manggil namanya, hingga ia akhirnya tersadar kalau saat ini ia ada di masa lalu bukan lagi ada di masa depan.
"Siti, kamu ngapain disitu?" teriak bundo sembari melambaikan kedua tangan beliau.
"Bundo, Siti lagi menikmati pemandangan," jawab Kania yang masih kaget dengan perpindahan waktu yang tidak disangka-sangka.
Kania berjalan berhalan menghampiri bundo dan abak dengan senyum semeringah yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Entah apa yang terjadi rasanya saat ini, Kania hanya merasa teramat sangat bahagia sekali.
"Sayang, Fatimah sedari tadi mencari mu, Nak!"
Kania heran, siapa Fatimah yang dimaksudkan bundo, karena ia tidak punya kenalan siapa-siapa di masa lalu.
Dengan ragu Kania menatap Fatimah, gadis yang berdiri di samping bundo. Ya, Kania kemudian tersenyum manis dengan ramah kepada gadis cantik dengan penampilan sederhana itu.
"Siti, kamu dari mana saja? Aku sedari tadi mencari mu!"
Wanita yang bernama Fatimah itu mendekati Kania yang ia anggap sebagai Siti. Fatimah menggenggam tangan Kania dengan hangat layaknya sahabat yang sangat tulus sekali.
Kania kikuk, ia tidak tahu akan mengatakan apa kepada Fatimah, tapi ia tidak ingin ketahuan, kalau ia bukanlah Siti melainkan Kania yang datang dari masa depan.
"Fatimah, kita kesana yuk!
Kania merangkul Fatimah dan memperlakukannya layaknya sahabat sendiri dan membawa Fatimah melihat pemandangan gunung Merapi dan gunung Singgalang yang terletak indah berdampingan.
Kania tidak memiliki sahabat dekat yang tulus kepadanya dan harapan Kania adalah agar ia bisa memiliki seorang sahabat baik tempatnya berbagi dan berkeluh kesah, tapi selama ini ia hanya mendapatkan teman yang berteman dengannya hanya karena ia berasal dari keluarga kaya.
Kania senang, ia sangat bersyukur karena di masa lalu ia diberikan kesempatan memiliki sahabat, wanita yang bernama Fatimah, wanita yang terlihat baik dan sangat saleha, persis seperti Siti.
"Siti kamu kenapa? Ada yang salah denganku?"
Fatimah menatap mata Kania, ia seolah heran dengan tingkah sahabatnya yang sedari tadi terus menatap wajahnya seolah baru bertemu untuk pertama kalinya.
"Aku hanya bersyukur," jawab Kania singkat dengan senyum yang terlihat sangat indah.
"Siti, sudah sepantasnya kamu bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepadamu. Hidupmu benar-benar sangat sempurna. Aku saja terkadang iri kepadamu!"
Fatimah menggenggam kedua bahu Kania dengan tangannya kemudian menatap sahabatnya itu dengan hangat.
"Siti, kamu harus bangkit! Kamu bisa!" ujar Fatimah memberikan semangat kepada sahabat kesayangannya itu. Fatimah seolah mengetahui semua hal tentang Siti, sehingga ia terlihat merasakan bagaimana perasaan Siti saat ini.
"Fatimah, terima kasih sudah menjadi sahabat terbaikku, aku benar-benar sangat bersyukur bisa memiliki sahabat sebaik kamu."
Kania menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Fatimah dengan kelembutan dan cinta yang tulus. Ia merasakan betapa Siti juga sangat menyayangi Fatimah.
"Siti, kamu beruntung memiliki semuanya termasuk kedua orang tua yang lengkap yang menyayangimu. Tidak seperti aku!"
Fatimah terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ia terlihat seperti anak yang sangat merindukan kedua orang tuanya.
Sungguh, rindu terpendam yang menyakitkan itu adalah merindukan seseorang yang telah tiada.
Kania turut merasakan kesedihan Fatimah karena ia juga merasakan kehilangan seperti yang Fatimah rasakan.
"Siti, Fatimah, buruan! Kita mau berangkat!" sorak bundo dengan melambaikan tangan beliau.
Siti kemudian menggenggam tangan Fatimah dan Fatimah membalas dengan senyum manis, dua sahabat itu berpegangan tangan lari menghampiri bundo dan abak.
Sungguh, saat ini Kania akhirnya merasakan kebahagiaan yang ia rindukan, bahkan ia sudah mulai paham sekali kalau agama islam sangat memuliakan kedua orang tua.
Berangkat dari Puncak Lawang setelah ashar dan baru sampai di kota Bukittinggi sebelum magrib. Jarak dari puncak lawang dengan Kota Bukittinggi biasanya bisa di tempuh dengan waktu sekitar 4-5 jam dengan menggunakan becak yang dikayuh oleh abak. Tapi, mereka melakukan perjalanan sembari singgah diberbagai tempat wisata sembari menikmati keindahan alam ciptaan Allah SWT hingga perjalanan memakan waktu lama, tapi seru dan sangat berkesan.
Kania melihat sekelilingnya, sungguh pemandangan alam pedesaan membuat ia takjub dan memuji Tuhannya. Ya, perjalanan panjang ini terasa jauh, namun Kania menikmati keakraban dan pemandangan alam bersama keluarga yang sangat disayanginya.
"Bundo, kita menginap dimana?" tanya abak yang sedari tadi masih bersemangat mengayuh becak dan membawa keluarganya pergi menikmati pemandangan alam yang indah.
"Tenang, Abak, kita nanti cari penginapan murah saja di sekitar jam gadang," jawab bundo bersemangat.
"Jadi kita semua akan penginapan di daerah mana, Bundo?" tanya Kania penasaran.
Ya, Kania ingin tahu bagaimana keadaan jam gadang dan penginapan-penginapan di sekitarnya di masa lalu.
"Sekitar pusat kota dong, Nak, Biar dekat ke jam gadang,toko, pasar atas dan pasar bawah, yang terpenting dekat ke kebun binatang soalnya saya udah lama nggak ke kebun binatanh, pengen ngadem di sana," jelas bundo bersemangat.
Bundo seperti memiliki kenangan indah di jam gadang yang membuat beliau bersemangat.
"Keren, Bun, pokoknya Bundo memang yang terbaik deh," abak mamberikan jempolnya kepada bundo.
"Abak, terima kasih banyak ya, karena Abak telah menyisihkan waktu untuk membawa kita sekeluarga jalan-jalan," ucap bundo dengan perasaan syukur yang mendalam, terlihat sekali kalau bundo dan abak saling mencintai karena Allah. Sungguh, pemandangan yang ingin sekali Kania abadikan.
"Sama-sama, Bundo, semoga kita sekeluarga senang berwisata di Sumatera Barat," jelas abak layaknya seorang pemandu wisata yang terlihat sangat ramah.
"Cieeh, Abak baik banget dan ramah banget ya sama wisatawan," canda Kania, tanpa ia sadar kalau sikapnya malah membuat Fatimah merasa heran.
Orang Minangkabau memang sangat terkenal ramah, dengan berpedoman pada ayat-ayat alquran dan hadist dalam menjalankan adat istiadatnya.
"Siti, kok sikapmu hari ini aneh?" tanya Fatimah.
Fatimah tidak pernah melihat Siti bercanda seperti itu dengan kedua orang tuanya.
"Anak-anak kita sudah sampai nih, tuh lihat jam gadangnya."
Bundo menunjuk jam gadang, hingga buyarlah semua pertanyaan yang anak Fatimah lontarkan untuk Siti.
"Masyaallah, Bundo, makin hari Bukittinggi makin keren ya, Bun" ucap Kania takjub melihat bangunan pertama jam gadang yang belum direnovasi sama sekali seperti yang terlihat di masa depan.
"Masyaallah, hai semuanya, kita sudah sampai di Bukittinggi nih!" teriakan abak yang bersemangat yang saat ini memarkirkan becaknya di depan sebuah penginapan sederhana yang di kenal dengan nama retro oleh orang-orang di masa depan.
"Kita udah sampai ya, Bun?" tanya Kania yang sedari tadi menatap takjub dengan keindahan alam dan pesona alam Minangkabau.
Sungguh, maka nikmat Tuhan-mu yamg mana lagi yang kau dustakan?
"Bun, apakah kita bisa langsung jalan-jalan ke jam gadang?"
Kania menarik tangan bundo, ia seolah tidak sabar lagi ingin segera jalan-jalan di jam gadang yang sangat indah terlihat di malam hari dengan pencahayaan bintang-bintang dan rembulan.
"Sayang, kita ke penginapan dulu, setelah kita salat dan makan, nanti baru kita ke jam gadang ya, Nak!"
Bundo tersenyum dan membimbing tangan Kania untuk memasuki penginapan.
"Baik, Bundo."
Kania pasrah dan menurut dengan apa yang bundo katakan kepadanya karena ia ingin menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.