
Kania memang memiliki mata yang sangat indah.
"Siti, jika di dalam diri Kania ada kamu saat ini, tolong dengarkanlah Uda!" ucap Syamsul serius.
Kania berusaha melepaskan tangan Syamsul darinya, karena Kania merasa dirinya bukan Siti dan Kania juga sangat tahu kalau lelaki yang ada di depan matanya saat ini adalah Syamsul bukan Alex. Namun, ketika Kania ingin melepaskan tangan Syamsul, tangannya tidak bisa bergerak sama sekali, seolah ada lem yang merekat tangan itu.
'Siti, apakah saat ini kamu ingin mendengarkan penjelasan Syamsul?' ucap Kania di dalam hati.
"Siti, Uda mencintai Siti karena Allah. Namun, cinta Uda adalah cinta yang lemah, karena Uda tidak bisa memperjuangkan cinta kita. Tapi, terlepas dari apa yang terjadi, satu hal yang harus Siti tahu, kalau perkara rezeki, maut dan jodoh, sudah diatur oleh Allah jauh sebelum kita terlahir ke dunia. Tidak ada yang bisa menentang takdir Allah, karena kita sebagai manusia hanya bisa berencana tapi semua keputusannya tetap Allah yang mengatur." Dalam isak tangisan, Syamsul menjelaskan sembari beruraikan air mata.
Huft ...
Syamsul menarik nafas panjang, kemudian menatap Siti dalam diri Kania lagi.
"Siti, ikhlaskanlah untuk semua hal yang telah tarjadi di masa lalu dan kita beroda kepada Allah semoga cinta Kania dan Syamsul bisa bersatu dalam bahtera rumah tangga," jelas Syamsul.
Syamsul kemudian menghapus air mata yang mengalir tanpa henti di pipi Kania yang tidak lain adalah air mata Siti. Perlahan Syamsul memeluk Kania dan meluapkan semua kerinduannya kepada Siti yang ada dalam diri Kania.
"Siti, setelah aku pergi, apa yang terjadi di masa lalu?" tanya Syamsul.
Siti terus-terusan menangis dalam pelukan Syamsul, seolah ada hal sangat menyedihkan terjadi di masa lalu.
"Uda, besok Siti dipaksa menikah dengan Datuak Maringgih, kalau tidak Abak dan Bundo akan di sekap selamanya dan menjadi budak Datuak Maringgih. Bahkan yang lebih parah lagi, aku tidak diizinkan bertemu dengan kedua orang tua Siti jika Siti menolak," ucap Siti dengan suara terisak-isak.
'Jadi itu alasannya kenapa Siti dan Syamsul saat ini masuk ke tubuhku dan tubuh Alex," ucap Kania di dalam hati.
Ya, saat ini memang ada Siti dalam diri Kania, namun Kania masih tetap sadar dan bisa mendengarkan semua ucapan Siti. Berbeda dengan Alex, ia tidak sadar jika Syamsul ada di tubuhnya.
"Siti, apa yang dapat Uda lakukan sekarang untuk membantumu?"
Syamsul terlihat sangat ingin dan serius membantu Siti. Sebuah penyesalan yang datang terlambat membuat Syamsul ingin menebus semua kesalahannya yang dulu.
"Tolong jangan merantau! Jangan pergi! Temani Siti di masa lalu," ujar Siti dengan isak tangisannya.
"Siti, apakah kita bisa merubah takdir hidup di masa lalu?" balas Syamsul.
Ya, tidak ada yang bisa dilakukan oleh Siti dan Syamsul di masa lalu, karena semua telah terjadi.
Yang bisa mereka usahakan, agar masa lalu yang pahit seperti itu tidak lagi terjadi di masa depan.
"Kania dan Alex yang bisa membantu kita," ucap Siti dalam isak tangisnya.
Entah apa maksud Siti dan entah bagaimana bisa Siti mengatakan hal mustahil seperti itu. Akan tetapi, semua yang Siti lakukan ternyata untuk kebaikan dan kebahagiaan Kania dan Alex di masa depan.
'Siti, kamu adalah gadis yang sangat baik. Kamu berkorban banyak untuk kebahagiaanku di masa depan, terima kasih banyak.'
Kania berbicara di dalam hati, sehingga air mata Kania bersatu dengan air mata Siti.
Dada Kania terasa sangat sesak, dengan air mata yang terus saja jatuh membasahi pipinya.
Huft ....
Kania terus menarik nafas panjang, namun rasanya dada Kania terasa semakin sesak.
Mata Kania terasa sangat berat, namun Kania bisa melihat senyum manis dari mamanya.
'Mama, Kania rindu!' ujar Kania di dalam hati dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
Kania kemudian memejamkan matanya.
"Siti, Kani, bangun!"
Terdengar suara Syamsul memanggil-manggil nama Kania dan Siti secara serentak. Namun, dalam beberapa saat Syamsul juga menutup matanya dan tidak lagi sadarkan diri.
Syamsul dan Siti sama-sama terbaring dengan mata yang tertutup dan tidak lagi sadarkan diri.
***
"Nia, Kania!"
Kania mendengar suara seseorang yang mirip dengannya memanggil-manggil namanya. Terlihat jelas senyum indah dan merekah dari wajah itu, wajah yang terlihat bersinar dan bercahaya.
Kania membalikkan wajahnya dan menatap wajah seseorang yang ada di depan matanya.
"Siti, apakah kamu Siti?" ucap Kania sembari tersenyum manis kepada dirinya dari masa lalu itu.
Siti kemudian menggenggam tangan Kania, kemudian menatap mata gadis cantik itu dengan tatapan yang penuh dengan harapan. Sungguh, senyum merekah tidak pernah memudar dari wajah Siti.
"Iya, Kania, aku adalah Siti. Aku adalah dirimu dari masa lalu dan kamu adalah aku," ucap Siti lembut dengan senyuman menawan.
"Siti!"
Kania langsung memeluk Siti dengan erat. Ia seolah menumpahkan kerinduan kepada dirinya sendiri, ia merasa sangat dekat dengan Siti seperti saudara.
Rindu!
Seolah saudara kembar yang tidak pernah bertemu dalam waktu yang sangat lama.
"Kania, terima kasih banyak telah datang ke masa lalu dan berjuang bersamaku. Terima kasih untuk semua bantuan yang telah kamu berikan kepadaku dan keluargaku. Terima kasih juga karena telah menjadi kuat dan menjadi manusia yang berbeda di masa depan. Aku teramat sangat bersyukur dan bahagia karena menjadi manusia yang kuat seperti kamu," ucap Siti dalam pelukan Kania.
Sejujurnya semua kata-kata yang keluar dari mulut Siti membuat Kania ingin sekali menangis dan mencurahkan semua air matanya. Bagi Kania, pengorbanan Siti di masa lalu untuk merubah masa depannya jauh lebih besar dari pada yang ia lakukan sekarang, bahkan jika bukan karena pengorbanan Siti, ia tidak akan bisa bahagia seperti harapannya sekarang ini.
"Kania!"
Siti melepaskan pelukannya kemudian menatap mata Kania yang berkaca-kaca dengan seksama. Mata indah yang tidak lain adalah sorot mata dan perasaannya.
"Jangan pernah lagi menggunakan mata indah ini untuk menangis! Tersenyumlah!"
Siti menghapus air mata yang jatuh menggenangi pipi Kania, ia tidak ingin ada air mata yang jatuh menggenangi pipinya di masa depan, karena Kania hanya pantas bahagia karena semua kesedihan telah ditanggung oleh Siti di masa lalu.
Siti tidak ingin masa depannya penuh dengan kesedihan dan air mata. Cukup ia berkorban di masa lalu, namun masa depannya harus bahagia.
"Siti, kamu harus tenang, aku berjanji kepadamu akan hidup bahagia dengan senyum mengembang. Tidak akan aku biarkan air mata mengalir membasahi pipiku lagi," ucap Kania berjanji kepada Siti dengan sungguh-sungguh.