WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Kehilangan Yang Menyakitkan



"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati." Kata-kata itu terngiang-ngiang dalam benak Kania. Ia teringat kembali dengan pesan-pesan mamanya terngiang-ngiang dalam beban Kania.


Memori dan kenangan masa kecil bersama mama membuat air mata Kania tak bisa lagi di bendung. Apalagi sekarang bayangan akan kenangan Siti dan abak juga muncul di benak Kania. Siti seolah takut usia abak tidak lagi lama dan ia sampai saat ini masih belum bisa mewujudkan keinginan terakhir abak.


Tidak tahu kemana hamba akan pergi, hamba terjebak dalam masa lalu dan masa depan. Tapi hamba ingin sekali mewujudkan keinginan abak hamba, walaupun hamba tidak tahu bagaimana caranya. Namun, hamba percaya Engkau sebaik-baiknya perencana. Ya Allah, berilah hamba petunjuk dan tolonglah hamba," batin Kania.


“Assalamualaikum, Siti, apa ada yang bernama Siti di sini?"


Hati Kania bergetar ketika mendengar seseorang memanggil-manggil nama Siti.


Belum lagi biaya rumah sakit yang ia fikirkan, sekarang ia harus dihadapkan pada ketakutan yang teramat sangat.


“Waalaikumsalam, siapa ya?”


Kania memasang wajah heran dengan jantung yang berdetak sangat hebat, ada kekhawatiran yang bersarang di otak dan hatinya. Tapi ia memilih untuk bertanya karena ia merasa penasaran, Kania berjalan menghampiri seorang yang terlihat seperti suster.


“Maaf, Uni, saya Suster yang merawat Abaknya Uni. Bundonya Uni meminta saya menghubungi Uni.”


“Iya ada apa, Suster? Apa terjadi sesuatu dengan Abak saya?" tanya Kania dengan penuh rasa cemas.


“Ibunya Uni meminta Uni untuk segera ke kamar inap Abak.”


“Baik, Suster,” Kania langsung membuka mukenanya dan bergegas keluar dari musala.


Kania berlari sekencang yang ia bisa, agar cepat sampai di ruang inap abak. Perasaan tidak karuan membuat ia berpikir tidak jernih, ia merasakan hal yang persis sama seperti ketika mamanya meninggal dunia.


Kaki Kania terasa seperti tak memijak bumi, jantungnya berdegup sangat kecang, pikirannya bercabang dan begitu banyak hal yang terpikirkan di benaknya.


Kania berusaha berlari dengan stok tenaga yang ada, namun lagi-lagi Kania tersandung. Kania terjatuh dan terjatuh lagi, dan hal itu membuat lututnya terluka.


Huft ....


Kania menarik nafas panjang, kemudian tanpa ia sadari air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya bercucuran juga. Namun, Kania tidak menyerah, ia berusaha kembali bangkit dan kembali berlari agar segera sampai di ruang rawat inap abaknya.


Kania buka pintu dan ia lihat bundo tengah terduduk di lantai rumah sakit yang sangat dingin, sembari menangis. Pandangan Kania kemudian tertuju kepada abak yang terlihat pucat pasi dengan mata tertutup.


Kania menciba mendekati abak, namun rasanya kakinya gemetaran. Kania telah memikirkan yang tidak-tidak.


“Abak ..., abak ...,” isak tangis Kania semakin pecah melihat separuh nafasnya terbujur tak bernyawa. Kania juga merasakan kehadiran Siti di dalam dirinya. Siti yang menangis dan sangat sedih melihat abaknya terbaring tak bernyawa.


“Abak ..., bangunlah! Ini Siti, anak kesayangan Abak. Abak jangan pergi, karena Siti telah meminta Kania untuk membahagiakan Abak dan Bundo.” Kania kemudian langsung memeluk bundo dengan isakan tangis yang semakin memuncak.


“Kania ..., Siti, sadarlah, Nak! Jangan seperti ini!” bundo melepaskan pelukan Kania dari abak.


Bundo langsung memeluk Kania erat sembari mencium kepala Kania.


Siti yang berada dalam diri Kania kini juga rasakan pelukan bundo, pelukan yang terasa menenangkan dan hangat.


“Sabar Sayang, sabar! Ikhlaskan Abak, Abak sekarang telah bahagia dan nggak merasakan sakit lagi." Kata-kata bundo membuat Kania dan Bundo terhanyut dalam lautan air mata.


“Innaillaihiwainnaillaihirojiun, semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah,” suara Dokter akhirnya menyadarkan Kania dan bundo dari isakan tangisan itu.


“Dokter, maaf, Dokter,” jawab bundo sembari membasuh air matanya.


“Ibu, Dek, ikhlaskanlah kepergian Bapak. Mendoakan jauh lebih baik dari pada menangisi bukan?” dokter terlihat berusaha menenangkan dan menghibur Kania dan Bundo.


“Iya, Dokter, terima kasih banyak, Dokter.”


"Sekarang kalian selesaikanlah Administrasi agar jenasah bisa dibawa pulang," jelas dokter.


"Baik, Dokter," ucap Kania dalam isak tangisnya.


Dengan sisa-sisa tenaganya, Kania segera berlari untuk menyelesaikan administrasi.


Setelah menyelesaikan administrasi, jenazah abak dibawa pulang.


Hati Siti dalam diri Kania terasa sangat hancur ketika kain kaffan menutupi wajah abak. Kania akhirnya merasakan pedihnya kehilangan seperti ini lagi, perasaan kehilangan yang teramat sangat menyakitinya, membuat kakinya terasa seolah tidak menginjak bumi lagi. Baru saja ia kehilangana mamanya yang merupakan separuh nafasnya, sekarang Kania harus ditinggal pergi oleh abak. Dunia Kanka semakin serasa sangat hancur, seolah hancur berkeping-keping menjadi butiran debu yang berterbangan.


Mata Kania juga tak henti-hentinya mengalirkan kristal-kristal bening, dada Kania terasa sangat sesak dan fikirannya seolah melayang, beginikah kehilangan yang menyakitkan itu?


Hati Kania semakin teriris ketika jenazah abak beliau di masukkan keliang lahat, ditimbun tanah. Sandaran Kania di masa lalu telah pergi, malaikat Kania mendahului, tak ada tempat merengek dan bermanja lagi, tak ada tempat mengadu dan berkeluh kesah lagi. Kini, ketika Kania merindukan abak ketika berada di masa lalu, kemanakah Kania akan mencarinya?


***


Jenazah abak akhirnya dikebumikan, separuh nafas Siti dalam diri Kania serasa hilang. Penyesalan terbesar Siti adalah tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir abaknya untuk menikah dengan lelaki baik. Tapi, ya sudahlah, mungkin ini adalah takdir terbaik dari Tuhan. Siti percaya Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kini yang Siti miliki hanya bundo dan Siti meminta Kania untuk menjaga bundo, Kania harus membahagiakan bundo. Siti tidak ingin bundo merasakan kesedihan ataupun kekecewaan terhadap dirinya yang sudah pergi bersama abak untuk meninggalkan dunia ini.


“Bundo ...,” Kania melihat bundo tengah melamun sembari memeluk foto abak ketika berada di kamar beliau.


“Bundo, Bundo kenapa?” Terlihat jelas wajah bundo lemah dan pucat. Bundo seperti mayat hidup.


Kania mendekati bundo, lalu ia peluk bundo yang tengah berurai air mata itu.


“Nak, Bundo nggak apa-apa, Nak.” Dengan senyum yang dipaksakan, bundo menghapus air matanya dan berusaha terlihat tegar di depan Kania.


“Bundo udah makan? Makan yuk, Bun!" Kania mengajak bundo makan karena ia melihat wajah bundo terlihat pucat.


“Nanti saja, Nak!” tolak bundo dengan nada suara lemah.


“Bundo harus makan ya, Bun. Baik Siti maupun Kania, kami nggak mau Bundo kenapa-kenapa!” Kania memijit tangan bundo yang kini sudah terlihat keriput itu.


"Apa artinya hidup Bundo tanpa ada Abak disini, Nak?" Ucap bundo dalam tangis dan isakan yang membuat hati Kania hancur.