
"Sayang, kesehatan Alex mulai membaik, semua luka di tubuhnya juga telah sehat, ia juga sudah mulai belajar berjalan walaupun masih belum kuat seperti sedia kala, namun Alex mengalami perkembangan yang snagat pesat sekali untuk kesembuhannya."
Papa Haris menjelaskan secara detail kepada putri kesayangannya karena beliau ikut andil dalam proses kesembuhan Alex seperti sedia kala.
"Pa, ternyata Alex semenderita itu demi Kania," ucap Kania dengan nada suara terisak-isak.
"Sayang, kamu tidak boleh berkata seperti itu jangan menyalahkan diri sendiri juga karena semua yang dilakukan Alex adalah takdir dan ketetapan dari Allah, selain itu Alex juga ingin membuktikan betapa ia sangat mencintai dan menyayangi kamu dengan sepenuh hati, Nak."
Papa Haris mengatakan kalau Alex rela berkorban dan melakukan apa saja demi kebaikan Kania, dan salah satunya adalah dengan melindungi Kania.
Papa Haris juga menyebutkan kalau beliau akhirnya memberikan izin kepada Alex untuk berhubungan dengan Kania adalah karena ketulusan hati lelaki tampan itu.
"Nak, sekarang kamu jangan memikirkan apa-apa dulu, karena Papa ingin kamu sehat, Alex juga sehat, jadi sekarang kamu makan dan minum obat ya."
"Baik, Pa."
Papa Haris menghapus kristal-kristal bening yang mengalir membasahi putrinya, mengatakan kepada sang putri kalau ia tidak lagi boleh menangis dan bersedih seperti ini karena wajah Kania hanya cocok untuk tersenyum dan berbahagia.
"Bi, tolong bawakan kemari makanan Kania," ucap sang papa bersemangat.
"Baik, Tuan."
Bibi mengambil bubur yang memang khusus dibuatkan untuk orang sakit.
"Ini, Tuan," ucap sang bibi.
Papa Haris mengambil mangkok bubur yang dibawakan oleh bibi, karena beliau berniat untuk menyuapi anak kesayangannya. Ya, papa Haris memperlakukan anak kesayangannya seperti seorang bayi kecil kesayangannya, bayi yang selalu beliau manjakan dan beliau sayangi dengan segenap hati dan perasaannya.
Papa Haris memutar-mutar bubur itu dengan segenap cinta dan kasih sayang yang dimiliki, sebelum akhirnya menyendok bubur itu sebelum diberikan kepada Kania.
"Sayang, makan dulu ya, Nak."
Papa Haris memberikan sesendok bubur untuk Kania.
Kania menurut, ia melahap makanannya dengan bersemangat karena ia sangat rindu sekali makan dari tangan papanya.
Kania ingat semasa ia kecil, papanya sering sekali menyuapinya, bahkan Kania bisa tidak makan jika bukan papanya yang menyuapinya.
"Papa, terima kasih banyak."
Semua kenangan masa lalu membuat butiran-butiran kristal bening mengalir di pipi Kania, ia terharu, senang dan bahagia sekali karena keduanya mengenang kembali moment masa lalu yang sudah lama tidak terulang antara ayah dan anak.
"Pa, Kania kangen sama Mama," ucap Kania lembut.
"Papa juga kangen sekali sama Mama kamu, Nak, tapi Papa yakin kalau saat ini Mama kamu sedang melihat kita dari atas sana, Mama pasti bahagia melihat kita berdua telah akur kembali, Nak," balas papa Haris karena merasa sadar kalau hubungannya dengan sang putri sedang tidak baik-baik saja selama ini.
"Pa, bagaimana kalau kita berdoa untuk Mama?"
Papa Haris setuju, keduanya mengangkat tangan mengirimkan alfatihah dan doa untuk mama Kania yang telah tiada, berharap doa itu akan menjadi hadiah untuk sang mama yang saat ini telah berada di surga.
"Pa, bagaimana kalau nanti setelah Kania sehat kita pergi mengunjungi makam Mama?"
"Tentu, Nak, Papa sangat setuju sekali karena kita berdua memang telah lama tidak berkunjung ke makan Mama."
Papa Haris sangat merindukan istri tercinta, karena mama Kania adalah belahan jiwanya, wanita yang berhati malaikat dan calon bidadari surga itu adalah wanita yang bisa mengontrol emosi dan amarah papa Haris.
"Pa, Papa kangen ya sama Mama?"
Kania bisa menebak raut wajah papanya, beliau terlihat menahan rindu yang sangat mendalam untuk mama Kania.
"Iya, Nak."
Papa Haris menunduk sembari menahan air matanya karena beliau tidak ingin air mata itu membuat anak kesayangannya juga ikut bersedih.
"Papa, Kania percaya kalau dari atas sana Mama juga pasti merindukan Papa."
Kania menggenggam tangan papanya, menepuk-nepuk lembut tangan itu, menenangkan dan memberikan semangat kepada papanya agar papanya tidak terlalu bersedih dengan masa lalu yang kini tinggal kenangan, sesuatu yang tidak bisa dilupakan dan juga tidak bisa diulang karena sang mama sudah bahagia di surga.
"Sayang, kamu minum obat dulu ya, Nak."
Papa Haris salah tingkah, beliau mengalihkan pembicaraan karena menahan air matanya, takut butiran-butiran ktistal bening itu akhirnya membanjiri pipinya.
"Ini, Nak, minumlah!"
Papa Haris memberikan obat ke tangan sang putri dan meminta sang putri untuk segera meminumnya.
Kania menurut, ia menelan lima butir obat berbeda sekaligus dengan harapan rasa pahitnya langsung habis seketika.
"Kania memang terbaik ya, Nak, pintar sekali minum obatnya," puji papa Haris.
"Pa, apa Kania boleh bertanya sesuatu?" tanya Kania dengan sorot mata yang menyimpan sejuta tanda tanya.
Lagi dan lagi Kania terlihat penasaran akan sesuatu da ia ingin sekali mendapatkan jawaban dari papanya.
"Tentu boleh, Nak, apa yang ingin Nia tanyakan?"
"Pa," ucap Kania lembut.
Kania menatap mata papanya dengan lembut namun penuh dengan keseriusan, ia ingin berbicara dari hati ke hati dengan sang ayah karena seseatu yang disampaikan dengan hati akan diterima dengan baik oleh hati sehingga lebih bermakna.
"Pa, Kania minta maaf jika apa yang Kania tanyakan tidak berkenan di hati Papa, tapi Kania sungguh sangat ingin tahu sekali," ungkap Kania menjeda ucapannya beberapa detik.
Kania menarik nafas panjang kemudian tersenyum kepada papanya agar suasana menjadi lebih rileks dan santai.
"Pa, agaimana hubungan Papa dengan Om Galih?"
Ada rasa penasaran di diri Kania karena ia sangat tahu orang seperti apa om Galih itu. Lelaki tua bangka itu akan melakukan apa saja demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Om Galih memutuskan semua kerja sama dengan Papa," jawab papa Haris dengan nada suara datar, seolah menyimpan sesuatu yang beliau tidak ingin Kania mengetahuinya.
'Berarti Om Galih meninggal hanya dalam mimpiku.'
Kania akhirnya mengetahui sedikit demi sedikit tetang ingatan yang muncul di kepalanya hanya sebagian dari mimpi.
"Apakah saat ini perusahaan Papa sedang sulit?"
Sebagai seorang pewaris tunggal dari anak konglomerat, Kania merasa memiliki tanggung jawab atas perkembangan dan penurunan perusahaan papanya, jadi walaupun belum tamat SMA, ia sangat ingin membantu papanya.