
Mata bundo menatap lurus ke depan, terlihat datar, seolah tidak ada arah dan tujuan.
Kania tahu apa yang bundo rasakan. Hal yang persis sama seperti ketika Kania kehilangan mamanya.
Kania langsung memeluk bundo sembari menepuk-nepuk lembut pundak beliau. Kania seolah mengisyaratkan semua akan baik-baik saja kepada bundo, namun tidak ada reaksi apa-apa dari bundo, beliau tetap diam mematung.
“Bun, kita makannya sekarang aja ya, Bun! biar Nia suapin.” Kania masih berusaha membujuk bundo, karena Kania sangat tahu kepergian abak adalah hal yang paling terberat untuk bundo.
Kania sangat tahu sekali kalau bundo sangat bergantung kepada abak, begitu juga abak, beliau tidak bisa apa-apa tanla bundo. Beliau saling melengkapi satu sama lain dan saling mencintai karena Allah. Tak pernah terlihat oleh Siti dan Kania kedua orang tuanya bertengkar hebat, beliau saling menyayangi dan melengkapi. Namun, kini semuanya telah berubah, bundo kehilangan belahan jiwanya, sudah pasti perasaan beliau sangat remuk dan hancur.
“Nggak usah, Nak, Bundo nanti bisa makan sendiri kok. Nanti Bundo makan ya, Nak.”
“Bundo, sekarang Nia hanya punya Bundo di sini. Kania nggak mau Bundo sakit. Kania sayang banget sama Bundo. Kita makan ya, Bun.”
“Ya udah, Nak, mari kita makan.” Akhirnya bundo pun mengalah dan mau makan.
“Setelah kita makan kita salat ya, Bun, udah masuk waktu magrib. Setelah itu kita mengaji bersama dan mengirimkan doa untuk Abak.”
“Iya, Nak!”jawab bundo lemah.
“Nia sayang banget sama Bundo,” Kania langsung memeluk bundo dengan erat.
“Bundo juga sayang banget sama Nia, Nak." Bundo membalas pelukan Kania seolah melepaskan kerinduannya juga kepada Siti.
Ibu, malaikat tanpa sayap yang Kania miliki di dunia ini ada dua yaitu mama dan bundo. Dua orang yang sangat Kania sayang dan tak akan ia biarkan seorang pun menyakiti keduanya dan tak akan ia biarkan setetes air mata pun jatuh membasahi pipi keduanya. Di usia senja bundo selama Kania berada di masa lalu, Kania akan berusaha membahagiakan beliau dan berusaha mewujudkan semua keinginan beliau karena Kania sudah tidak lagi memiliki mama. Bahagia bundo saat ini adalah yang terpenting untuk Kania, hidup Kania saat ini hanya untuk berbakti kepada bundo karena Kania tidak ingin lagi ada penyesalan dikemudian hari.
Kini, Kania tata kembali kepingan-kepingan hatinya yang telah hancur, Kania tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Sekarang yang terpenting adalah kebahagiaan ibu, semua hal yang akan menghancurkan dan merusak pikirannya akan kubuang jauh-jauh. Kania ingin menjalani hidup dengan penuh semangat dan senyuman.
***
Sebulan sejak kepergian abak, Alhamdulillah, Kania masih berada di masa lalu bersama bundo. Rasanya bahagia banget bisa kembali tidur di kamar ini, walaupun sederhana tapi kamar ini adalah kamar terbaik yang abak hias untuk Kania ketika Kania ketahuan abak bahwa ia berasal dari masa depan.
Kamar berwarna biru, dengan berhiaskan langit biru dengan awan putih yang menghiasinya. Hiasan dinding berwarna senada beserta karakter doraemon kesukaan Kania menghiasi setiap furniture di kamar Kania tanpa merusak kesukaan Sito.
Terbayang dalam ingatanku sekitar 2 bulan yang lalu, abak mendapatkan penghasilan lebih dari hasil panen jagung yang lebih banyak dari biasanya, hingga beliau memutuskan untuk melakukan rehab rumah dan menghiasi kamar Kania sesuai keinginannya.
Perlahan Kania baringkan badannya di tempat tidur yang paling nyaman sedunia. Kania pandang potret abak dengan seksama, Kania merindukan Papanya di masa depan dan abak yang kini telah bahagia di surga.
"Nak, Abak sangat sayang sekali sama Nia. Abak ingin Nia menjadi orang yang sukses. Namun, tetap saleha ya, Nak."
"Iya, Abak . Nia janji akan bikin Abak dan Bundo bangga," jawab Kania sembari tersenyum kepada abaknya.
"Iya, Abak. Nia, ingin memiliki seorang pendamping hidup seperti Papa dan juga Abak yang begitu menyayangi istri dan anak-anaknya."
"Nak, sebaik-baiknya wanita adalah wanita saleha. Jadilah wanita yang memiliki rasa malu dan memiliki harga diri yang tinggi, jangan mudah terjebak dalam bujuk rayu laki-laki karena tidak ada cinta yang tulus sebelum menikah, Nak." Ungkapan penuh makna yang abak ucapkan sangat benar adanya. Nasehat sederhana yang Kania pegang hingga ia kembali ke masa depan.
"Jadi, bagaimana jika ada lelaki yang mengatakan kalau dia mencintai Nia, Bak?" tanya Kania dengan raut wajah penasaran, sembari menikmati cemilan yang dibuatkan oleh bundo.
"Lagi bahas apa sih?" sela bundo sembari membawa goreng pisang kesukaan Kania dan abak. Ya, bagi Kania, makanan sederhana yang bundo buatkan pun terasa sangat enak.
"Hehehe, Bundo." Kania tersenyum malu.
"Ini lo, Bun. Anak kita sekarang udah bahas-bahas masalah lelaki, Bun. Sepertinya sebentar lagi kita bakalan punya mantu, Bun." Abak dan Bundo tertawa geli.
"Abak, Bundo, udah dong jangan bikin Nia malu, kan Nia nanya tadi sama Abak."
"Hehehe, iya, Nak. Jadi, tadi anak kita nanyain apa, Bak?" tanya bundo penaran.
"Eh iya, Abak jadi lupa. Tadi kamu nanya apa, Nak?" Abak sepertinya mengajak Kania bercanda agar suasana tidak terlalu serius hingga abak ingin Kania mengulang pertanyaannya.
"Abak ...," rengek Kania.
"Iya, Nak, lelaki yang serius adalah lelaki yang berani meminta restu seorang ayah dan mengambil tanggung jawab untuk menikahimu. Jika lelaki itu tidak berani menemui Abak atau Papamu berarti dia hanya main-main saja denganmu, Nak. Dia mengatakan mencintaimu, itu cuma gombal saja, Nak."
Lamunan akan abak dan papanya, membuat air mata Kania menetes membasahi pipi. Semua yang dikatakan abak benar. Kania selama ini dibutakan oleh cinta, aku tenggelam dalam bujuk rayuan setan, Kania terpesona dengan gombalan lelaki hingga ia mengabaikan aturan agama bahwa tidak ada istilah pacaran dalam islam .
"Maafkan Nia, Abak," natin Kania sembari menangis terisak.
"Sayang, kenapa?" tiba-tiba bundo memasuki kamar Kania, mungkin karena bundo mendengar isakan tangis Kania.
"Nia nggak apa-apa, Bun. Nia cuma kangen aja sama Abak dan Papa, Bun." Kania menatap wajah bundo semberi memeluh potret abak di dadanya.
"Bundo juga kangen banget sama Abak," Bundo menghapus air mata Kania sembari memandang potret yang Kania peluk.
"Udah Nak, jangan nangis-nangis lagi ya, Nak."
"Iya, Bun," jawab Kania lembut.
"Oh iya, Nak. Uda Rangga, sepupu Siti, mau ngajakin kita jalan-jalan ke pantai, katanya anaknya Ranti udah pengen banget main-main di pantai."