
Mama tersenyum kepada Kania dan semuanya terlihat sangat nyata.
"Mama, apa ini mimpi?" ucap Kania lembut dengan kesadaran yang belum seutuhnya.
"Tidak, Nak, ini nyata!" balas mama dengan senyuman yang terlihat sangat meneduhkan.
Kania kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan langsung memeluk mamanya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Mama, ini benar-benar Mama 'kan?"
Berbagai kata-kata meyakinkan Kania ucapkan sebagai ungkapan kalau yang ia peluk saat ini benar-benar mamanya.
Kerinduan memuncak yang Kania rasakan untuk orang tuanya yang telah tiada membuat Keyla merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan orang yang sangat ia sayangi
"Iya, Sayang, ini Mama," balas mama sembari membelai-belai rambut Kania.
"Mama, Nia sangat merindukan Mama."
Dalam pelukan hangat itu Kania mengungkapkan semua kerinduannya kepada bunda, wanita yang teramat sangat ia rindukan.
Dalam pelukan mama, Kania langsung melafazkan doa kepada Allah dengan sangat khusuk, tulus dan ikhlas.
"Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku atas dosa-dosaku dan dosa-dosa kedua orang tuaku, dan kasihanilah keduanya itu sebagaimana beliau berdua merawatku ketika aku masih kecil, begitu juga kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat, semua orang yang beriman, laki-laki maupun perempuan yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, dan ikutkanlah diantara kami dan mereka dengan kebaikan. Ya Allah, berilah ampun dan belas kasihanilah karena Engkaulah Tuhan yang lebih berbelas kasih dan tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Mu."
Kania memanjatkan doa panjang umur untuk kedua orang tuanya agar ia bisa berbakti kepada beliau di setiap hari-harinya. Kania tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan berbakti kepada orang tuanya. Karena bundo dan abak telah mengajarkan arti keluarga kepada Kania.
"Mama, Kania pikir ...,"
Kania langsung menghentikan ucapannya dan ia tidak berani melanjutkan kata-katanya karena ia tidak ingin menyebut mamanya telah meninggal dan sudah tidak berada di dunia ini lagi karena itu mungkin menyakitkan untuk keduanya. Buktinya saat ini mamanya sedang menatapnya dan Kania juga merasakan pelukan lembut dan hangat dari mamanya.
"Kania, Sayang, semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Jadi, jangan pernah menyesal dan jangan pernah berlarut-larut dalam kesedihan, Nak!" ujar mama sembari membelai lembut rambut Kania.
Kania tahu apa yang dikatakan oleh mamanya benar adanya, kata-kata yang persis sama seperti yang bundo katakan. Kania juga telah banyak belajar tentang takdir Allah dan semuanya diluar kendalinya.
"Mama, maafkan Kania karena selama ini Kania menjadi anak yang tidak patuh dan tidak berbakti kepada Mama dan Papa. Kania adalah anak manja yang sangat egois," ucap Kania dalam isak tangisan.
Kania ingin meluapkan semua rasa yang menyesakkan dadanya, ia menangis agar semua bebannya terasa lepas. Bukan karena Kania manja, ia hanya menyesal dengan semua hal yang terjadi sebelumnya, ia menyadari kesalahannya yang tidak maksimal dalam berbakti kepada kedua orang tuanya.
"Sayang, Mama dan Papa sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu meminta maaf, karena bagi orang tua anaknya adalah segalanya, harta paling berharga. Kami juga sudah sangat bahagia melihatmu yang sekarang. Jadi, jangan pernah menangis lagi, berbahagialah, Nak!" ucap mama Kania yang terdengar sangat menenangkan bagi Kania.
"Nak, jangan pernah lagi meneteskan air mata di pipi ini. Mama dan Papa berharap kamu berbahagia dan jangan menyesali lagi semua yang telah terjadi. Ikhlaslah, Nak!"
Kata-kata lembut yang keluar dari lisan mama membuat air mata Kania kembali membanjiri pipinya. Kania tidak kuasa menahan air mata itu, Kania benar-benar merasakan perasaan takut kehilangan lagi.
Kania kemudian kembali memeluk mamanya dengan erat, karena ia takut mamanya akan pergi meninggalkannya.
"Mama, Kania butuh Mama, Keyla ingin Mama ada di sini dan jangan pernah meninggalkan Kania, Ma," ucap Kania dengan nada suara terisak dengan pelukan erat yang ia lakukan kepada mamanya.
"Kania, Papa membutuhkan Kania, jadi apapun yang terjadi Keyla harus membantu Papa, jaga beliau dan semangatilah Papa, Nak!" ucap mama sembari menepuk-nepuk lembut pundak putri kesayangannya.
"Kania tidak ingin menikah dengan Om Galih, Ma!" rengek Kania dengan nada suara manja.
"Sayang, berusahalah! Minta kepada Alllah, rayulah Allah dalam setiap sujud dan doa, berdoalah meminta yang terbaik sesuai dengan keinginan Allah, karena perkara hidup kita ini hanya milik Allah, Nak," ucap mama Kania.
Sungguh, Kania merasa lebih baik mendapatkan nasehat-nasehat dari mamanya. Kania merasa sangat bahagia dan beruntung memiliki mana yang mencintai dan menyayanginya dengan tulus.
"Ma, apakah Mama setuju kalau Kania menikah dengan Alex?"
Kania ingin meminta pendapat mamanya tentang Alex, sang kekasih hati yang teramat sangat dicintainya. Lelaki yang merupakan anak sekretaris pribadi papa Kania yang membatu di perusahaan milik papa Kania.
"Mama setuju sekali, Nak, karena Alex sepertinya adalah anak yang baik. Akan tetapi Papa tidak akan suka jika Alex belum menjadi kaya raya, apalagi kalian berdua masih SMA, Nak," ucap mama jujur dengan raut wajah sedih.
Kania paham apa yang dikatakan oleh mamanya, karena papa Kania sangat menyukai uang. Apalagi saat ini papanya terikat dengan om Galih, sehingga beliau harus menyerahkan putri kesayangannya agar bisnis beliau semakin berkembang pesat. Jadi bagaimana mungkin Alex yang masih SMA diizinkan menikahi Kania, hidupnya sangat tidak jelas sekarang.
Kania teramat sangat sedih karena papanya memperlakukannya bukan seperti anak, akan tetapi seperti bisnis. Tapi bagaimanapun sifat papanya, beliau tetaplah papa Kania yang harus Kania hormati dan sayangi.
"Apa yang harus Kania lakukan, Ma?" tanya Kania lagi dengan nada suara lembut.
"Jangan pernah lagi berpikir untuk kawin lari, Nak. Jangan pernah lari dari masalah, karena masalah itu tidak akan pernah berakhir, malah akan timbul masalah batu. Jika kalian berdua saling mencintai, maka kalian harus berjuang bersama dan kalian harus menyelesaikan masalah kalian. Buktikanlah kalau kalian berdua bisa dan mampu menghadapi semuanya dan carilah solusi terbaik agar Papa percaya kalau putrinya telah dewasa karena bisa menyelesaikan masalah tanpa harus menikah dengan Om Galih," terang mama panjang dan lebar. Namun, nasehat mama sungguh berbobot dan sangat benar sekali.
"Mama, apakah Mama akan selalu mendukung Keyla?" tanya Kania lagi lembut dengan semangat yang sepertinya mulai bangkit.
Mama kemudian menghapus air mata Kania, beliau tersenyum kepada putri kesayangannya lalu berkata, "Mama selalu mendukung dan mendoakanmu bahkan tanpa kamu minta, Nak! Baik-baiklah karena kamu akan berjuang sendirian sekarang. Kuatlah, Nak!" ujar mama Kania.
Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum kepada putrinya, melepaskan tangan putrinya dan berlalu pergi meninggalkan putri kesayangannya itu.
"Mama ..., Mama mau kemana? Jangan tinggalkan Kania, Ma!" teriak Kania dengan nada suara tinggi sembari meraung-raung dalam tangisnya.