WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Siapakah Kamu



'Siti? Kenapa lelaki ini memanggilku dengan nama Siti? Apakah dia Uda Syamsul?'


Kania terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang hal yang baru saja ia alami.


Kania juga merasa sangat heran dan penasaran melihat dua dumensi dunia yang berbeda bisa menyatu dan bertukar. Ia bahkan tidak bisa membedakan saat ini ia sedang menjadi siapa dan orang-orang yang ia temui pun terasa berbeda.


'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud dari semua ini? Apakaha Uda Syamsul kiriman dari Siti?'


Berbagai pertanyaan muncul di benak Kania, namun tidak ada petunjuk dan jawaban apapun yang didapatkannya.


Kania kemudian mematap lelaki yang ada di depannya dengan tatapan yang penuh dengan sejuta pertanyaan. Namun, satu hal yang Kania yakini kalau lelaki yang ada di depannya bukanlah Alex.


"Apa kamu Syamsul?" tebak Alex.


"Tentu saja Uda ini Syamsul, Siti, siapa lagi?"


Keyakinan Kania akhirnya terbukti karena ia berbicara dengan lelaki yang ada di depannya dengan logat Minang yang sangat kental.


Lelaki itu menatap sekelilingnya, ia sepertinya heran dengan gedung-gedung tinggi dan bertingkat yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.


Syamsul terlihat menarik nafas panjang karena menatap takjub kemewahan yang tidak pernah dilihatnya itu.


"Masyaallah," ucap Syamsul dari diri Alex sangat takjud dengan semua yang dilihatnya.


Syamsul berputar-putar menatap sekeliling dengan mata membelalak dan mata menganga. Sungguh, terlihat seperti orang kampung yang baru saja datang ke kota.


"Siti, kita berada dimana?" ujar Syamsul yang ada di diri Alex.


Kania menarik tangan lelaki itu, membawa lelaki itu menjauh dari keramaian.


"Ada hal yang akan Siti sampaikan sama Uda dan ini mungin akan terdengar mustahil dan mencengangkan. Tapi sebelum itu hal pertama yang harus kita lakukan adalah kembali ke apartemen," ujar Kania.


Kania menarik dan membimbing tangan Syamsul menaiki lift yang menuju lantai 15 di mana apartemen Alex berada. Ya, Kania tahu dimana Alex tinggal hanya saja ia tidak pernah berkunjung secara resmi kesana.


"Siti, kita mau kemana? Ini kenapa besi kaca ini bisa berjalan sendiri, Uda takut!"


Syamsul memegang tangan Kania dengan sangat erat, dan Kania merasakan tangan itu dingin dan gemetaran.


Ya, AC disini memang sangat dingin, namun Syamsul bisa mengatasinya karena udara di kampung juga sangat sejuk dan dingin seperti ini ketika pagi hari.


"Siti, sebenarnya kita berada dimana sekarang?"


Lagi-lagi Syamsul menanyakan dimana keberadaan mereka saat ini. Ia bingung karena dunianya seolah berubah.


Samsul juga beberapa kali memperhatikan pakaian yang ia kenakan, celana jeans dan kaos berwarna putih yang ia kenakan sungguh terlihat aneh. Bahkan, pakaian yang ia kenakan sangat jauh sekali dengan apa yang biasa ia pakai.


Aroma wangi yang tercium di tubuh Alex juga membuat lelaki itu merasa sangat heran dengan dirinya sendiri. Kulitnya terlihat bersih dan sangat jauh sekali dari kata hangus dan terbakar karena paparan sinar matahari.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepadaku? Dimana aku sekarang?" ujar Syamsul sembari menatap tajam mata Kania dengan rasa heran.


Huft ....


Kali ini Kania yang menarik nafas panjang.


'Apa yang harus aku lakukan kepada lelaki ini sekarang? Aku juga kaget dan aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya agar lelaki ini bisa percaya dan tidak syok,' ujar Kania di dalam hati.


"Siti, sebenarnya kita sekarang ada dimana? Apa ini surga? Apa kita telah meninggal?" bertubi-tubi pertanyaan yang dilontarkan oleh Syamsul. Meminta penjelasan wanita yang ada di depannya.


Untungnya saat ini hanya mereka berdua yang berada di dalam lift sehingga Kania bisa berbicara bebas untuk sementara waktu.


Kania mendekatkan wajahnya kepada Syamsul, dan ia mendengarkan detak jantung lelaki itu.


Dak ..., dik ..., duk ....


Semua terdengar sangat jelas di telinga Kania.


"Si ..., Siti, apa yang kamu lakukan?" ucap Syamsul dengan nada suara gagap dan terbata-bata.


Syamsul berusaha menghindari Kania yang terus mendekatinya. Namun, semakin kaki Syamsul melangkah mundur, kaki Kania tetap melangkah maju mendekatinya.


Debaran detak jantung Syamsul semakin berdetak sangat hebat.


Kania merasakan debaran itu, dan rasanya Kania ingin sekali tersenyum atau bahkan tertawa lepas, karena lelaki yang ia hadapi saat ini adalah lelaki baik yang sangat menjaga dirinya, bahkan mungkin ia pertama kali jatuh cinta.


"Pertama, jangan panggil aku Siti, namaku ...,"


Bruk ...!


Kania hampir saja terjatuh karena tekanan dari lift, akan tetapi tangan sigap Syamsul menangkap pinggang langsing Kania, hingga dua insan itu saling menatap, dengan debaran jantung yang sama-sama bergetar hebat.


"Lepaskan a-,"


Belum selesai Kania mengatakan namanya tiba-tiba lift berhenti. Lampu yang awalnya menyala, mati tiba-tiba.


"Tolong ..., tolong ....!" terdengar suara Kania ketakutan.


Ya, Kania yang asli sangat takut dengan gelap dan tubuhnya akan menggigil ketakutan jika tidak ada sedikitpun cahaya.


"Kania, Sayang, tenanglah!"


Kania mendengar suara Alex tengah menenangkannya. Ia merasakan tangan lelaki itu memeluk tubuhnya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


Alex bertindak seperti mama Kania. Ya, mama Kania akan menenangkan putri kesayangannya yang takut akan gelap dengan memeluk dan menepuk-nepuk pundaknya dengan lembut sampai putri kesayangannya itu tenang.


"Mama, Kania takut! Tolong Nia, Ma. Kania sendirian dan Kania sangat kesepian!"


Kania menangis tersedu-sedu dengan nada suara bergetar dengan menumpahkan semua hal yang dirasakannya di dalam hatinya.


"Sayang, tenanglah!" Terdengar suara Alex masih berusaha menenangkan Kania.


Alex beberapa kali memencet alarm agar bantuan segera datang, akan tetapi sudah beberapa menit belum ada juga bantuan yang datang menghampiri mereka.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" ujar Alex.


Panik!


Ketakutan!


Semua perasaan itu dirasakan oleh Alex yang membuat ia pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta.


Selang beberapa menit setelah Alex berdoa, akhirnya bala bantuan datang menghampiri.


"Bapak, Ibu, tenanglah!" terdengar dari luar lift suara petugas keamanan yang sedang berusaha untuk membantu kami.


Dalam beberapa menit kemudian akhirnya lampu kembali menyala dan lift kembali berjalan.


"Sayang, sadarlah! lampunya sudah hidup," ucap Alex lembut sembari menyadarkan Kania.


"Alex? Apakah itu kamu?" Kamu ada disini?"


Kania merasakan sentuhan dan pelukan dari lelaki yang sangat ia kenal.


'Apakah Syamsul sudah pergi? Jadi apa maksud kedatangannya kesini? Apakah ia utusan Siti untuk membantuku saat aku sedang kesusahan dan dalam bahaya?'


Berbagai pertanyaan muncul di benak Kania yang semakin membuat gadis cantik itu ingin menyelesaikan potongan-potongan puzzle yang membuatnya penasaran.


"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kita bisa terjebak di lift?"


Alex sepertinya tidak mengingat apa yang terjadi kepadanya beberapa menit yang lalu, ia hanya tersadar ketika mendengar Kania menangis dan ketakutan meminta tolong.


'Apa yang harus aku katakan? Aku juga sangat panik dan bingung. Bagaimana aku akan menjelaskannya? Aku harus memulai dari mana?'


Kania menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Sayang, apakah kamu benar-benar tidak ingat apa yang terjadi?" tanya Kania sekali lagi.