
"Sayang, kamu tidak boleh menyalahkan dirimu atau menyesal dengan apa yang telah terjadi karena kamu yang sekarang telah menjadi versi terbaik dari dirimu. Aku mencintaimu, Sayang," ucap Kania sembari menggenggam tangan Alex dengan lembut. Kania bukan Siti Nurbaya dan Alex juga bukan Syamsul Bahri, mereka berbeda dan mereka juga berasal dari dunia dan dimemsi waktu yang berbeda, jadi tidak ada hubungan dan kaitannya sama sekali. Bahkan, jika keduanya bereinkarnasi, tetap saja mereka berbeda.
Kania ingin meyakinkan Alex dan menghibur kekasih hatinya itu.
"Sayang, terima kasih banyak karena di kehidupan sekarang kamu juga masih memilih menjadi kekasihku. Aku tidak akan lagi mengulangi kesalahanku di masa lalu, aku akan memperjuangkan cinta kita bahkan sampai titik darah penghabisan."
Dengan mata berkaca-kaca, Alex meyakinkan Kania, dan memeluk tubuh langsing kekasihnya itu.
"Sayang, kita perbaiki hubungan yang telah rusak dan hancur di masa lalu, mari kita hidup bahagia setelah ini," ujar Kania sembari menepuk-nepuk lembut pundak kekasihnya.
Selang beberapa jam kemudian akhirnya mereka berdua sampai di makam Siti yang terletak di sebuah bukit di gunung Padang.
"Apa mungkin Siti meminta di makamkan disini agar ia bisa melihat kekasih hatinya kembali dari rantau ya, Sayang?" tebak Alex di sela-sela perjalanan mereka menuju puncak gunung Padang.
Alex seolah yakin kalau Siti memang menunggu kepulangan Syamsul yang tidak pernah pulang sama sekali.
"Ternyata cinta Siti untuk Syamsul sangatlah besar pada saat itu, dan zaman sekarang semua keadaan terbalik, kamu memiliki cinta yang sangat besar untukku."
Kania menatap Alex dan merasa bersyukur karena kekasih hatinya itu mencintainya dengan sangat.
"Sayang, aku akhirnya paham, kenapa Syamsul menangis dan menyesal dengan apa yang terjadi. Ia mungkin berjanji akan membahagiakanmu ketika kita terlahir kembali," ujar Alex.
Alex menggenggam tangan Kania, kemudian tersenyum kepada gadisnya itu. Mereka berdua berjalan mendekati kuburan Siti dengan mengucapkan salam dan memberikan senyuman terbaik yang mereka punya. Mereka juga melafazkan doa-doa khusus untuk Siti agar ia tenang di alam sana.
"Siti, aku akan menjalankan kehidupan terbiak bersama Alex, jadi kamu tidak usah lagi merasa khawatir karena kami berdua akan hidup bahagia selamanya. Kamu tahukan kalau kita tidak bisa mengubah masa lalu, akan tetapi kita bisa mengubahnya di masa depan. Kami berdua akan menjadi dua orang kuat yang tidak akan pernah bisa dipisahkan," ucap Kania meyakinkan Siti.
"Siti, kamu tidak perlu takut kalau aku akan meninggalkan Kania. Tidak! Aku akan menjaga dan menyayangi Kania dengan segenap hatiku, jadi kamu harus tenang ya disana," ucap Alex yang juga tidak kalah serius meyakinkan Siti.
Setelah puas mengobroldan meluapkan semua isi hati kepada Siti, Alex dan Kania mencoba untuk pergi meninggalkan tempat itu, namun sepertinya langit juga ikut merasakan kesedihan, akhirnya hujan turun membasahi bumi.
"Sayang, hujan!"
Alex dengan sigapnya langsunh menutupi kepala Kania dengan jaket yang ia kenakan. Sungguh, mereka berdua terlihat sangat romantis dan manis sekali.
"Sayang, terima kasih banyak."
Di bawah hujan, Alex dan Kania terlihat malu-malu dengan wajah yang terlihat memerah.
"Sayang jangan berterima kasih seperti itu, bukankah kita berdua akan segera menikah?" tanya Alex lagi meyakinkan Kania karena ia takut Kania berubah pikiran dan membatalkan rencana pernikahan mereka. Ya, Alex sangat paham sekali kalau keragu-raguan Kania mungkin saja berasal dari masa lalu, karena rasa kecewa yang teramat sangat yang membuat Kania sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.
"Sayang, bagaimana kalau kita mandi hujan? Rasanya sudah lama sekali aku tidak menikmati hujan seperti ini, bukankah hujan adalah rahmad dari Allah?"
Kania berlari menjauhi Alex dan menikmati hujan tanpa menggunakan alas kaki.
"Sayang, nanti kamu sakit!"
Alex sangat takut dan khawatir jika kekasih hatinya itu mengalami flu karena bermain hujan.
"Jangan khawatir, Sayang, aku hanya bermain hujan dan aku ingin menikmati hidup ini," sorak Kania.
Kania berputar-putar dan menari bersama hujan, terlihat sangat cantik sekali ketika ia tersenyum di bawah hujan. Kania terlihat sangat bahagia dengan senyum dan tawa lepasnya.
Kania menarik tangan Alex dan membawa lelaki itu berdansa bersamanya.
Tentu saja Alex tidak bisa menolak keinginan hatinya hingga mereka berdua akhirnya berbahagia hanya dengan mandi hujan. Ya, cinta mendatangkan kebahagiaan bahkan dari hal-hal sederhana yang tidak pernah di sangka-sangka.
"Siti, lihatlah! Lihat betapa aku sangat bahagia dan dibahagiakan oleh lelaki yang sangat mencintaiku. Jadi kamu tenanglah disana dan jangan lagi memikirkanku! Aku bisa menjaga diriku sendiri dan aku akan hidup lebih baik seperti keinginanmu," ucap Kania sembari menari-nari.
"Aw, sakit!" teriak Kania tiba-tiba.
Alex dengan sigap langsung menghampiri Kania dengan sejuta kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.
"Sayang, kamu kenapa?" ujar Alex.
"Sepertinya kakiku sakit."
Kania kemudian duduk di bawah hujan dan melihat kakinya tengah berdarah.
"Sayang, sepertinya kakiku ditusuk duri," ucap Kania dengan nada suara merengek.
Kania menangis bersama hujan karena lukanya terasa sangat sakit karena tersiram air hujan.
"Sayang, kita harus mengeluarkan durinya dari kakimu!"
Alex meletakkan kaki Kania di pahanya dan dengan lembut mengeluarkan duri yang menusuk kaki Kania.
"Aw, sakit!" teriak Kania ketika duri berhasil dicabut dari kakinya.
"Alhamdulillah, Sayang, akhirnya durinya berhasil dikeluarkan, tapi sayangnya tidak ada obat apa-apa disini."
Alex terlihat kecewa karena ia tidak bisa memberikan perawatan terbaik untuk Kania, kekasihnya itu.
"Sayang, maafkan aku karena aku tidak bisa melakukan apa-apa buat kamu," ucap Alex dengan raut wajah sedih di tengah hujan lebat yang jatuh membasahi bumi.
"Sayang, apa yang kamu katakan? Kehadiranmu di sini adalah obat buatku dan aku teramat sangat bersyukur untuk itu."
Kania juga tersenyum di sela-sela hujan yang turun itu, membuat ia terlihat semakin cantik.
"Sayang, kamu terlihat sangat cantik dan mempesona," puji Alex.
Alex memang lelaki yang sangat suka sekali menatap wajah Kania, dan baginya tidak ada lagi wanita yang lebih cantik dari pada wanita yang ada di depannya.
"Sayang, kenapa kamu suka sekali berkata gombal?"
Kania merasa senang dengan gombalan Alex, ia juga merasa malu-malu dengan rona wajah yang memerah, namun terkadang pujian Alex yang berlebihan membuat Kania menjadi lupa diri hingga terasa melayang-layang ke angkasa raya.
"Sayang, aku tidak memujimu, kamu memang terlihat sangat cantik, apalagi ketika tersenyum di bawah hujan seperti ini," ujar Alex.
Alex kemudian mengacak-acak puncak kepala Kania yang saat ini ditutupi oleh hijab.
"Sayang, kenapa sih kamu suka sekali mengacak-acak rambut dan hijab ku!" bentak Kania.