
Alex tidak tahu kenapa ia bisa berbicara senekat itu kepada papa Haris, bahkan sebelumnya ia sangat takut kepada papa Kania tersebut. Namun, untuk membuktikan rasa sayang dan cintanya kepada Kania, Alex akhirnya memberanikan dirinya untuk mengatakan ide briliant kepada papa Haris.
Alex memang memiliki kemampuan menggambar yang sangat baik di sekolahnya, bahkan kemampuannya itu sekelas desaigner, hanya saja ia hanya perlu untuk lebih mengasah kemampuan dan keterampilannya itu.
"Om saya tidak bisa menjelaskannya secara mendalam dan terperinci karena saya belum mengerti dan paham tentang bahasa bisnis, tapi kalau saya diberi kesempatan maka saya akan menjelaskannya dengan cara yang lain," ujar Alex dengan percaya diri yang sangat tinggi sekali.
"Silahkan," ujar papa Haris dengan rasa penasaran dan ketertarikannya dengan ide gila yang akan disampaikan oleh anak SMA seperti Alex.
"Apakah saya boleh minta ketas dan pensil, Om?"
Papa Haris semakin penasaran dengan apa yang akan direncanakan Alex kepadanya, namun beliau cukup tertarik dengan keberanian dan rasa percaya diri Alex.
Papa Haris kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian menelpon seseorang.
[Bi, tolong ambilkan kertas dan pensel, bawa ke ruangan rawat sekarang juga!] ucap papa Haris dengan nada suara datar.
[Baiklah, Tuan]
"Sebentar lagi Bibi akan datang membawakan apa yang kamu minta, jadi saya memberikan penawaran kepadamu, apakah kamu akan tetap melanjutkan ide gila ini atau berhenti sampai disini?" tanya papa Haris sembari menatap Alex dengan tatapan tajam, beliau berbicara seolah memberikan ancaman, bahkan wajah beliau terlihat seperti harimau yang akan mencerkam mangsanya.
"Apa penawarannya, Om?"
Alex tidak mau kalah, ia seperti menantang dengan keyakinan penuh, bahkan ia cukup memiliki nyali yang besar untuk melawan papa Haris.
"Jika ide gila kamu itu tidak briliant maka kamu tidak hanya harus meninggalkan Kania, tapi saya juga aka memecat Papa kamu."
Papa Haris menjeda ucapannya, namun kata-kata yang keluar dari lisan beliau benar-benar sangat penuh dengan ancaman, bahkan tidak terlihat main-main sama sekali.
"Saya yakin, Om, saya ingin tetap melanjutkannya," ujar Alex menantang drngan keyakinan yang tidak tergoyahkan sa sekali.
Alex benar-benar terlihat seperti lelaki dewasa, ia memiliki nyali luar biasa, bahkan lebih dari anak-anak seusianya, bahkan nyalinya terlihat seperti orang dewasa.
"Apakah kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" tanya papa Haris sekali lagi.
"Saya yakin tidak akan mengecewakan Om dan Papa saya karena bagi Papa bekerja di perusahaan Om adalah hidupnya," ungkap Alex dengan semangat juang yang dimilikinya.
Sejujurnya, di dalam hati terdalam, papa Haris sangat salut dengan semangat dan keteguhan hati alex, ia bertingkah layaknya seorang pemimpin yang bisa mempertahankan pendapat dan keyakinan yang ia anggap benar.
"Baiklah, dill!"
Papa Haris dan Alex bersalaman bertanda setuju dan sepakat dengan apa yang dibicarakan sebelumnya.
Tok ..., Tok ..., Tok ...
"Tuan, ini Bibi," sapa bibi dari balik pintu.
"Silahkan masuk, Bi," ucap papa Haris dengan nada suara lantang dan penuh dengan wibawa.
Bibi berjalan cepat dan sigap, berdiri dihadapan papa Haris dan memberikan kertas beserta pensilnya kepada beliau.
"Berikan kertas itu kepada Alex, setelah itu Bibi tolong siapkan makan siang untuk Kania dan Alex."
"Baik, Tuan."
"Sekarang kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan, sekarang buktikanlah apa yang kamu katakan, saya akan menunggu."
Papa Haris duduk di sofa yang ada di samping Kania, memberikan jeda kepada Alex untuk berexperimen seperti keinginannya.
'Kania, Sayang, apa tidur memang seenak itu, Nak? Papa melihat kamu seperti putri tidur, Nak.'
Papa Haris menatap putri kesayangannya dengan cinta dan kasih sayang yang teramat sangat tulus. Ada kerinduan dari seorang ayah yang ingin sekali melihat anaknya terbangun dan tersenyum kepadanya, namun sudah beberapa bulan terakhir papa Haris hanya melihat putrinya tertidur.
Papa Haris kemudian melihat ke arah Alex, lelaki tampan yang memiliki sifat dewasa itu terlihat sangat bersemangat menggambar dan merangkai desain-desain indah yang dibicarakannya kepada papa Haris. Sungguh, Alex terlihat sangat berkharisma seperti seorang CEO yang akan sukses suatu hari nanti.
Ya, Alex terlihat sangat lihai menggambar, bahkan ia terlihat sangat serius ketika telah bertemu dengan pensil dan kertas.
"Om, saya sudah selesai," ucap Alex sembari menyodorkan kertasnya kepada papa Haris yang sedang duduk mengamatinya.
Papa Haris hanya diam, beliau berjalan mendekati dan menghampiri Alex dengan rasa penasaran yang beliau bawa di dalam hatinya. Namun, beliau tetap berjalan pelan dan berwibawa karena beliau adalah orang tua dan salah satu pengusaha ternama di ibu kota.
"Ini, Om," ucap Alex sekali lagi.
Papa Haris menerima kertas itu dari tangan Alex, melihat karya Alex dengan seksama dan dalam sesaat papa Haris terdiam membisu tanpa mengatakan apa-apa.
"Ba-bagaimana, Om?"
Walaupun awalnya tidak yakin, Alex akhirnya mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya kepada papa Haris tentang gambar dan ide fashion yang dipikirkannya.
"Lumayan, kamu berbakat," ucap papa Haris singkat.
Seorang pengusaha sukses seperti papa Haris tidak akan dengan mudahnya memuji karya orang lain jika memang karya itu tidak bagus, tapi tentu saja dengan gaya penyampaian yang elegan dan berkharismatik agar tidak terkesan kalah.
"Jadi, Om?"
Alex merasa kurang puas jika hanya mendapatkan pujian saja, ia ingin papa Haris mengambil karyanya dan menerapkan idenya di perusahaan milik papa Haris, karena ini adalah salah satu bentuk keseriusan Alex kepada Keyla.
"Kamu masih SMA, Vano, jadi tidak ada yang bisa kamu lakukan dengan karya ini," ucap papa Haris yang terdengar tidak enak di telinga Alex.
"Om, walaupun saya masih SMA tapi saya yakin karya saya menjual," ujar Alex.
"Ternyata kamu benar-benar punya nyali, kamu berbeda dari Papamu," ujar papa Harus dengan rasa kagum yang luar biasa kepada Alex.
Namun, sebagai seorang pengusaha, papa Harus tidak akan dengan mudahnya mengambil resiko, bahkan walaupun ide yang Alex berikan sangat brilian, jika tidak akan menguntungkan bagi papa Haris maka beliau tidak akan mempedulikannya.
Papa Haris membalikkan badannya, berencana ingin kembali beristirahat di sofa.
"Om, bagaimana dengan karya saya?" tanya Alex karena ia tidak mendapatkan jawaban seperti yang diinginkannya.
"Alex, apakah kamu sedang bermimpi? Sekarang kembalilah tidur karena ketika kamu sadar maka kamu akan melihat bahwa semua yang terjadi sekarang tidak nyata," jelas papa Haris dengan wibawanya.
"Om, saya sayang sama Kania, saya mencintainya dan saya ingin menikah dengan Kania," ujar Alex yang terdengar lebih berani dan semakin menantang.
"Apa yang kamu katakan?"