WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Rasa Cinta Alex



"Sayang!" Ucap Alex ketika ia dan Kania berada di dalam lift.


"Apa, Sayang?" Kania menoleh kepada lelaki tampan yang berdiri tepat di sampingnya itu.


"Aku boleh nggak nanya sesuatu, Yank?" Alex menatap Kania dengan tatapan serius.


"Mau nanya apa, Sayang?" Kania juga balas menatap wajah Alex yang saat ini mulai berubah.


"Tapi jangan marah ya, Yank?" ucapan Alex semakin membuat Kania penasaran.


"Iya, aku janji nggak akan marah!" balas Kania dengan senyuman yang penuh dengan sejuta tanya.


"Bagaimana jika aku pergi jauh dan meninggalkanmu?" Mata Alex menatap Kania dengan tatapan penuh arti.


"Maksud kamu apa, Sayang? Kamu mau membatalkan rencanamu untuk membantuku? Atau kamu ingin memutuskan hubungan kita? Apa sekarang kamu ragu denganku? Atau hatimu mulai bosan dengaku?"


Kania mulai merasakan khawatir yang teramat sangat karena perubahan sikap Alex kepadanya.


'Apa lagi ini Tuhan, apakah laki-laki ini hanya bermain-main dengan perasaanku? Atau apakah ini ujian cinta kami?'


Hati Kania dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.


"Bukan karena aku tidak ingin memutuskan hubungan denganmu, bukan juga karena aku tidak ingin membantumu, aku hanya takut jika takdir memisahkan kita."


Kali ini air mata Alex benar-benar jatuh membasahi pipinya.


"Apa yang kamu katakan, Sayang? Jangan bicara yang tidak-tidak, kata-kata itu doa, jadi ucapkanlah kata-kata yang baik!" Suara Kania pun mulai gemetaran dan terdengar parau.


"Bagaimana jika aku pergi darimu, apakah kamu akan melupakan aku dan menikah dengan orang lain? Secara kita tidak punya banyak kenangan bersama." Ucap Alex dengan suara bergetar, terlihat sekali ketakutan dari wajahnya.


"Jangan membicarakan hal yang tidak-tidak, Sayang. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya aku jika kamu tidak ada. Kamu adalah lelaki berharga di hidupku dan sangat aku cintai, aku ingin suatu hari nanti membina rumah tangga bersamamu dan nantinya kita bisa memiliki anak-anak yang saleh dan saleha," jelas Kania dengan mata yang ikut berkaca-kaca.


"Yank, berjanjilah satu hal padaku!"


Alex menggenggam tangan Kania dan menatap dalam mata bulat gadis cantik itu.


Untuk sesaat mereka terhanyut dalam lautan air mata yang menggenangi pipi masing-masing.


"Berjanji untuk apa, Sayang?" Kania balas menatap mata Alex dengan rasa berkecamuk.


"Kamu harus menjadi wanita yang tegar dan kuat. Tetaplah tersenyum ceria dan bahagia, jangan pernah menangis dan menitikkan air mata. Bahkan jika aku tidak lagi berada di sampingmu, kamu harus tetap menjadi wanita hebat dengan senyum seindah rembulan."


"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Apakah kamu tidak mencintaiku?" Suara parau Kania mulai meninggi, matanya mulai berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu, teramat sangat mencintaimu makanya aku tidak ingin ada air mata yang mengalir membasahi pipimu, Yank!" ucap Alex meyakinkan Kania.


"Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus membahagiakanku, kamu harus membuat senyumku selalu merekah dan jangan pernah membuatku menangis seperti ini. Atau, apa mungkin kamu hanya mempermainkan perasaanku?" Kania protes, ia mulai kesal dan marah.


"Tidak pernah sedikit pun di hati ini dan tidak ada niat sedikitpun mempermainkanmu, Sayang." Nada suara Alex semakin lemah.


"Sudahlah, Alex. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran. Jika kamu memang mencintaiku harusnya kamu mempertahankanku bukan malah ingin meninggalkan ku," Kania memalingkan wajahnya dari Alex.


"Sayang, jangan memalingkan wajah seperti itu kepadaku, rasanya benar-benar sangat sakit!" Alex berusaha meraih tangan Kania, namun gadis itu menapisnya, tapi Alex tetap berusaha menggenggam tangan kekasihnya itu.


"Stop, jangan pegang-pegang aku!" Kania melepaskan genggaman tangan itu dan melangkah keluar dari lift. Namun, kaki Kania terpeleset dan ia kehilangan keseimbangan.


"Sayang...," tangan Alex dengan sigap membawa Kania dalam pelukannya. Hingga terjadilah adegan seperti dalam film India.


Mata mereka saling beradu pandang, dan saling terpana. Namun, tiba-tiba Alex menangis.


"Kenapa menangis, Sayang?"


Heran!


Kini pikiran Kania semakin berkecamuk, ia ingin sekali memeluk lelaki itu dan menenangkan kekasihnya itu.


Kania tetap pada pendiriannya, untuk tidak memeluk Alex. Akan tetapi melihat air mata yang jatuh itu, batin Kania goyah, ia langsung memeluknya erat Alex dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Sayang, jangan menagis! jangan membuatku semakin terluka karena air mata itu!" isak tangis Kania semakin menjadi.


Kania semakin memeluk Alex dengan erat dan mereka berdua terhanyut dalam pelukan itu.


"Yank, bukankah ini dosa?" ucap Alex ketika jiwanya tenang.


"Maaf, Yank." Kania langsung melepaskan diri dari Alex, tapi kali ini Alex-lah yang memeluk Kania dengan erat, seolah tidak ingin dilepaskannya.


"Sayang, lepasin aku. Katanya dosa!" protes Kania sembari melepaskan diri dari Alex.


"Yank, izinkan aku seperti ini satu menit saja!" pinta Alex dengan nada suara lembut seperti mengiba.


"Lepasin, Yank." Kania memijak kaki kanan Alex dengan high heels yang ia kenakan. Tentu saja secara spontan Alex langsung melepaskan pelukannya dari Kania.


"Sakit, Yank," teriak Alex dengan wajah memerah, tapi Kania tidak mempedulikannya, ia berlari menjauhi Alex sembari mencibir ke arahnya.


"Sayang, tunggiin dong!"


Alex mengejar Kaniaa, tapi Kania langsung berlari memasuki apartemen dan belangkah menuju kamar dan menutup pintu kamar itu. Ya, pintu apartemen tentu saja bisa di buka oleh Alex karena ia adalah pemiliknya, akan tetapi tidak dengan pintu kamar.


"Yank, aku tunggu 1 jam lagi di ruang tamu, dandan yang cantik ya! soalnya hari ini aku akan ngajakin kamu keliling untuk jalan-jalan," teriak Alex bersemangat, akan tetapi Kania enggan menjawabnya.


"Sayang, jawab dong!" ucap Alex sembari mengetuk pintu kamar Kania.


"Sayang, kalau nggak dijawab aku masuk ya, aku punya kunci cadangan kok," teriak Alex lagi.


Tentu saja Kania langsung merespon.


"Iya, Sayang. Kamu juga siap-siap gih, dandan yang keren dan ganteng ya, Sayang!" jawab Kania.


Kadang kala Kania memang harus menuruti mau kelasih hatinya itu, agar ia tidak bertindak nekat.


***


Kania memilih pakaian yang cocok ia kenakan. Kania mencoba semua pakaian di lemari yang memang dibelikan Alex untuknya.


Semua pakaian telah berantakan di ranjang, namun ia belum menentukan pilihannya.


Semua pakaian yang dibelikan Alex kemaren bagus semua, hingga ia ragu ingin memakai yang mana.


"Bagusnya nelpon Bundo aja deh, Bundo pasti tahu pakaian yang cocok dan pantas untuk kukenakan." Ucap Kania sembari meraih telepon genggamnya untuk menghubungi bundo lewat panggilan video call.


Huft ....


Kania menarik nafas panjang, ia lupa kalau bundo tidak ada di masa depan dan bundo juga tidak bisa dihubungi dengan menggunakan panggilan telepon.


Rindu!


Kania sungguh ingin pulang sebentar ke masa lalu untuk menemui bundo. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


"Sayang..., kamu sudah siap?" terdengar suara Alex yang tengah mengetuk pintu kamar Kania hingga membuyarkan lamunan gadis cantik itu.


"Iya, Yank. Sabar dong!" jawab Kania dengan nada suara maksimal. Ya, Kania tergolong wanita yang paling tidak suka diganggu ketika berdandan.


"Cepat dong!"


Alex menggedor-gedor kamar Kania.


"Bisa sabar nggak sih!" Hardik Kania dengan emosi yang akhirnya terluapkan juga.