
"Iya, adik-adik, maafkan Kakak ya, Kakak benar-benar ingin menghibur dan berlama-lama dengan kalian semuanya, tapi saat ini keadaannya benar-benar sangat mendesak, jadi Kakak dan Mas izin undur diri dulu ya," jelas Kania.
Kania tahu mungkin anak-anak akan kecewa karena waktunya bersama Kania terlalu singkat. Tapi, anak panti asuhan ini adalah anak-anak pintar yang sangat mengerti sekali dengan kesibukan orang lain sehingga mereka semua mengerti dengan keadaan Alex dan Kania saat ini.
"Kalau begitu, kami berdoa semoga urusan Kakak dan Mas cepat selesai dan semoga acara pernikahannya nanti berjalan lancar. Sekali lagi terima kasih banyak ya karena telah berbagi disini bersama kami," ujar ibu penjaga asrama yang terdengar ramah dan sopan.
Kania dan Alex merasa sangat senang dan bahagia karena seluruh orang yang ada di panti asuhan mendoakannya dengan tulus, dengan senyum ikhlas yang terlihat sangat manis.
"Terima kasih banyak juga atas semua doa yang Ibu dan anak-anak yang dengan setian mendoakan Kakak dan Mas, semoga diijabah oleh Allah."
Kania berterima kasih dan mengucap syukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik yang mencintai dan menyayanginya dengan sangat tulus dan ikhlas.
"Sama-sama, Kak Kania dan Mas Alex, sering-sering mampir dan datang kesini."
Pengurus asrama dengan ramah mengantarkan Kania dan Alex menuju parkiran dan berharap kedua orang baik itu akan sering-sering berkunjung ke panti asuhan.
"Insaallah, kami akan sering berkunjung, semoga Allah masih memberikan waktu, kesempatan dan rezeki berlimpah untuk kami agar kami bisa berbagi dengan sesama yang membutuhkan."
Alex menjelaskan dengan ramah kepada penjaga asrama.
"Sebenarnya kami sebentar lagi akan melakukan perjalanan ke luar kota, mohon doanya ya, Bu, semoga kami bisa selamat pulang dan pergi. Kami juga berharap semoga kami bisa cepat kembali kesini dan mengunjungi panti asuhan ini lagi."
Dengan senyum kebahagiaan, Kania tersenyum kepada pengurus panti asuhan. Ada perasaan bahagia di hari Kania karena ia bisa berbagi dengan orang lain.
Dulu, Kania melakukan kegiatan amal karena anjuran Alex, hingga ia melakukan kegiatan amal hanya untuk pencitraan saja, bahkan ia ingin dipuji papanya, dan agar Alex memujinya dan semakin sayang kepadanya. Akan tetapi, hari ini ia melakukannya dengan sangat ikhlas sehingga perasaannya menjadi sangat bahagia sekali kali ini.
"Kalau begitu kami pamit, Buk," ucap Alex dengan nada suara ramah dan sangat sopan sekali.
Kania dan Alex bersalaman dengan pengurus panti asuhan kemudian pamit dengan perasaan bahagia.
"Hati-hati, Kakak Kania, Mas Alex," sorak anak-anak sembari melambaikan tangan kepada Kania dan Alex.
Sungguh, pemandangan yang sangat indah di pandang mata. Untuk sesaat Kania bisa melupakan kesedihan hatinya karena ia dihibur oleh anak-anak yang ada di panti asuhan ini.
"Sayang, kita langsung ke bandara saja ya, kita parkirkan saja mobil kita di bandara," usul Alex.
Kania mengangguk, pertanda setuju dengan apapun rencana Alex, karena Kania percaya kalau kekasihnya itu akan melakukan yang terbaik kepadanya.
"Sayang, apa kamu serius ingin menikah denganku?" tanya Alex sekali lagi.
Alex seolah tidak percaya karena Kania akhirnya mau menerima lamarannya.
"Aku serius, Sayang. Lagian kita tidak menikah sekarang, suatu hari nanti 'kan."
Kania kemudian menunjukkan cincin klasik yang Alex berikan kepadanya, cincin yang masih terpasang di jari manis Kania dan terlihat sangat indah sekali ketika ia pakai.
"Terima kasih, Sayang."
"Sayang, setelah masalah kita selesai kita akan segera menikah dan hidup bahagia selamanya. Aku adalah Kania, bukan Siti Nurbaya. Jadi, aku akan menyelesaikan masalah kita agar aku tidak dijodohkan dengan Om Galih," ucap Kania bersemangat dengan keyakinan penuh.
Kania tahu dan sangat paham sekali bagaimana perasaan Siti saat ini, ia terpaksa harus menikah dengan datuak Maringgih untuk keselamatan kedua orang tuanya karena Siti adalah anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.
Kania sangat salut kepada Siti, karena jika Keyla yang berada di posisi Siti pasti ia tidak akan sanggup untuk melakukan hal itu. Ya, terbukti ketika papanya menyuruh Kania menikah dengan om Galih, ia lebih memilih untuk kabur dan kawin lari dengan Alex hingga terjadilah kecelakaan dan Kania akhirnya kembali ke masa lalu.
Namun, Kania percaya, kalau kembalinya ia ke masa lalu pasti karena ada maksud dan tujuannya. Kania juga sangat bersyukur kembali ke masa lalu karena ia bisa merasakan cinta dan kasih sayang dari abak dan bundo, yang mengajarkannya tentang agama yang telah Kania lupakan karena mamanya tidak lagi mengajarkan agama kepadanya.
Kania juga sangat tahu, mungkin kedatangannya ke masa lalu adalah untuk membantu Siti menyelesaikan persoalan hidup yang sangat pelik, atau mungkin untuk merubah takdir hidup Kania di masa depan, sehingga ia dengan sekuat tenaga dan kemampuannya mencari solusi terbaik dari masalah yang ia hadapi saat ini.
"Sayang, kita sudah sampai bandara, yuk turun!"
Dalam lamunan, Kania dikejutkan oleh kehadiran Alex yang saat ini telah berada di depannya dan membukakan pintu mobil untuknya.
Lelaki tampan itu mengulurkan tangannya untuk membantu kekasih hatinya itu keluar dari dalam mobil.
"Terima kasih, Sayang."
Dengan senyum menawan, Kania meraih tangan itu dan keluar dari mobil dengan bergandengan tangan dengan Alex, sang kekasih hati.
Dua insan yang tengah dimabuk cinta itu saling bergandengan tangan di bandara memasuki pesawat udara yang membawa mereka ke pulau Sumatera.
"Sayang, rasanya seperti pulang kampung yang sesungguhnya, padahal kita terlahir sebagai orang Jawa," ucap Kania yang ikut merasakan suasana pulang kampung dalam perjalanan menuju Sumatera.
"Iya, Sayang, aku juga merasakan hal yang sama. Seolah jiwaku telah menyatu dengan darah Minangkabau," balas Kania sembari menatap Alex dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
Hampir 2 jam, waktu yang di tempuh dari Bandara Internasional Sukarno Hatta menuju Bandara Internasional Minangkabau.
"Alhamdulillah, akhirnya kita menginjakkan kaki di Ranah Minang."
Senyum bahagia dan merona tergambar jelas di wajah Kania yang baru saja menginjakkan kaki di Bandara Internasional Minangkabau.
"Pulang kampuang ka kampuang nan jauah di mato (pulang kampung ke kampung yang jauh di mata)," ucap Alex yang tiba-tiba saja berbicara dalam logat Minang seperti logat bahasa Syamsul, padahal Alex sama sekali tidak pandai berbahasa Minang.
Kania kemudian menatap Alex yang saat ini berjalan di sampingnya sembari menggenggam tangannya.
'Syamsul, apakah yang berjalan di sampingku saat ini adalah Uda Syamsul,' ucap Kania di dalam hati sembari terus menatap sosok lelaki yang ada di sampingnya itu.
"Uda Syam-sul?" sapa Kania ragu.