
Kania bergerak beberapa langkah menjahi Alex, tapi kali ini Alex sudah tidak bisa lagi melepaskan Kania begitu saja. Alex menarik tangan Kania dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Alex, tolong lepaskan aku!" pinta Kania lembut, namun Alex tetap tidak ingin melepaskannya.
Dengan kekuatan yang tidak seberapa, Kania berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Alex.
"Kania, aku mencintaimu."
Alex kembali membisikkan kata-kata cinta di telinga Kania, kemudian dengan lembut ia akhirnya melancarkan aksinya. Awalnya Kania menolak dan berusaha melepaskan diri, namun pesawat yang mendarat lembut itu membuat Kania akhirnya pasrah dan terhanyut dalam lautan cinta yang menggelora.
"Kania," ucap Alex lembut.
Saat ini tangan pria tampan itu masih di pinggang mungil dan langsing Kania, dengan tatapan lembut Alex memeluk Kania sangat erat. Ia sepertinya sangat tergila-gila dengan kecantikan Kania.
"Alex, ini salah!"
Kania menunduk sedih. Penyesalan mulai menyelimuti hatinya. Ia telah melakukan hal yang sangat tidak terpuji dengan lelaki yang baru saja dikenalnya sementara kekasih hatinya baru saja meninggal.
Perlahan air mata Kania mulai mengalir, namun Alex tidak tahu kalau Kania menangis karena air mata Keyla telah menyatu bersama hujan.
"Kania, bagaimana kalau kita segera kembali ke kamar rawat inapmu, aku takut Papaku khawatir!" ujar Alex.
Lelaki itu langsung membimbing tangan Kania dan menyuruh Kania kembali duduk di kursi rodanya.
Dalam tangis, Kania pasrah ketika Alex mendorong kursi rodanya.
Untuk sesaat suasana diam menyelimuti hati kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu, mungkin penyesalan karena melakukan hal diluar batas, mungkin juga hati yang bergejolak mempertanyakan hati, apakah ini cinta atau hanya hasrat sementara saja.
"Alex."
"Kania."
Setelah beberapa saat, akhirnya Kania dan Alex sama-sama ingin memulai pembicaraan.
"Kamu duluan!"
"Kamu duluan!"
Lagi-lagi kedua sejoli itu berbicara serentak.
Akhirnya kebisuan itu berganti gelak tawa. Saat ini dua sejoli itu sedang berbunga-bunga, sepertinya mereka memilih untuk sama-sama terjebak dalam cinta yang menggelora.
"Alex, kenapa kamu melakukannya?" tanya Kania di sela-sela perjalanan menuju kamarnya.
Alex menghentikan jalannya, ia melangkahkan kakinya menatap mata Kania, ia bersujud sembari menggenggam tangan Kania, dengan sangat romantis Alex mengatakan kata-kata manis yang membuat hati wanita mana saja di dunia ini pasti akan luluh lantah mendengarnya.
"Kania, aku mencintaimu. Aku tahu ini terdengar aneh karena kita berdua masih SMA. Tapi, aku mengatakan hal ini bukan karena aku tidak berpikir, tapi aku tidak bisa lagi menahan gejolak di dadaku ini. Aku juga tidak tahu sejak kapan perasaan ini bersarang di hatiku, mungkin saja sejak namamu selalu kudengar atau mungkin juga muncul saat pertama kali kita bertemu." Alex menatap mata Kania dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Alex, apa sebenarnya maksud dari ucapanmu itu? Kamu mendengar namaku dari mana? Tolong jelaskan!"
Kania semakin penasaran dan ingin tahu banyak tentang lelaki tampan yang saat ini tengah bersujud di depannya.
"Alex, apa maksudmu berkata seperti itu?" Kania bengong dengan pernyataan mendadak yang keluar dari mulut Alex.
"Kania, jawablah, maukah kamu menjadi istriku?"
Beberapa kali Alex meminta Kania menjadi istrinya namun ia tidak mendapatkan jawaban apapun. Entah apa yang membuat hati Kania merasa ragu dan khawatir untuk menikah dengan anak sekretaris pribadi papanya itu. Hanya saja Kania merasa belum siap untuk menikah saat ini, mereka masih SMA. Kania ingin hidup lebih santai dan dinikmati, walaupun ia dihadapkan pada perjodohan dengan tua bangka.
Kania membuka matanya, mata yang tertidur sudah cukup lama. Secara perlahan, Kania mengamati sekelilingnya, tempat yang saat ini ditempatinya adalah tempat yang sangat tidak asing baginya. Ya, ini adalah kamar mewah yang terlihat seperti kamar putri raja milik Kania.
Kania menatap slang infus terpasang di tangannya.
'Apa yang terjadi denganku?' ucap Kania di dalam hati.
Kania menatap sosok yang saat ini tertidur dalam duduknya, ialah papa Haris, sosok lelaki yang sangat Kania cintai dan sayangi seumur hidupnya.
"Papa," air mata Kania akhirnya jatuh membasahi pipinya. Air mata haru dan air mata bahagia karena lelaki yang sangat dirindukannya itu saat ini berada di sampingnya dalam keadaan sehat.
Pandangan Kania kemudian tertuju pada sosok lelaki tampan yang saat ini menggenggam tangannya sembari tidur terlelap. Ya, lelaki yang Kania cintai setelah papanya, lelaki yang akan menjadi calon suami Keyla suatu hari nanti, lelaki yang menjadi belahan jiwa Kania.
'Apakah sebelumnya adalah mimpi?' tebak Kania dengan lamaran Alex sebelumnya. Ya, walaupun mimpi namun terasa sangat nyata sekali.
Kania membelai lembut rambut Alex, lelaki yang sangat dicintainya itu.
Kania merasa sangat senang dan bahagia, karena saat ia terbangun dan membuka matanya, ia melihat orang-orang yang sangat dicintainya. Sungguh, Kania merasa sangat bersyukur untuk apa yang telah terjadi.
"Ka-Kania, Sayang, kamu sudah bangun!"
Alex tersintak ketika merasakan tangan Kania membelai rambutnya dengan lembut.
Kania mengangguk dan tersenyum kepada Alex, senyum dengan bibir pucat yang terlihat sangat manis sekali. Ya, Kania adalah gadis yang teramat sangat cantik walaupun tanpa make up ataupun dalam keadaan sakit.
"Sayang, akhirnya setelah 6 bulan kamu membuka mata kembali," ucap Alex yang membuat Kania kaget.
'6 bulan? Apakah semua hal tentang Siti Nurbaya yang ada dalam mimpiku itu benar adanya?' ucap Kania di dalam hati.
Ya, setelah kecelakaan yang Kania alami dengan Alex sehari sebelum pernikahan Kania dan Om Galih, Kania mengalami koma hingga dokter menvonis kalau usia Kania tidak lagi lama. Namun, Alex terus berusaha dan merawat Kania dengan penuh keyakinan kepada Allah, bahwa kekasih yang sangat disayanginya itu suatu saat nanti akan bangun.
Kania menggenggam tangan Alex dan tersenyum kepada kekasihnya itu. Kania merasa sangat senang karena orang-orang yang ia sayangi akhirnya bisa berkumpul disini menjaga dan merawatnya.
"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Kania lembut dengan nada suara yang terdengar sangat lemah sekali.
"Kamu tidak apa-apa, Sayang, kamu hanya tertidur panjang dan sangat lama," ucap Alex sembari mencium kening Kania dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Sayang, kamu tidak tahukan kalau aku sangat tidak suka dibohongi?"
Nada suara Kania, membuat Alex tidak lagi bisa berkata apa-apa. Namun, Alex tidak ingin membebani pikiran Kania yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya.
"Sayang, jujurlah! Aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa."
Kania menggenggam tangan Alex dan menatap wajah calon suaminya itu dengan tatapan penuh dengan rasa penasaran.