WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Sunset Story



Kania membuka lemari, ternyata begitu banyak pakaian yang disiapkan oleh Alex untuknya, seolah sang kekasih tahu kalau Kania akan ke apartemennya suatu hari nanti.


'Waw, rasanya sudah lama sekali aku tidak mencoba pakaian-pakaian mewah dan cantik seperti ini,' ucap Kania di dalam hati.


Dengan bersemangat, Kania mulai memilih pakaian yang cocok ia kenakan. Kania mencoba semua pakaian di lemari yang memang dibelikan Alex untuknya, semuanya memang style Kania dan kekasihnya itu benar-benar sangat memahami Kania.


"Bagusnya aku pake yang mana ya?" Kania ragu, hingga hampir mencoba semua pakaian yang ada, dan kini semua pakaian telah berantakan di ranjang, akan tetapi Kania masih belum menentukan pilihannya.


Semua pakaian yang dibelikan Alex terlihat bagus di matanya, hingga ia ragu ingin memakai yang mana.


"Bagusnya nelpon Bundo aja deh, Bundo pasti tahu pakaian yang cocok dan pantas untuk kukenakan," ucap Kania sembari meraih telepon genggamnya untuk menghubungi bundo lewat panggilan video call.


Huft ....


Kania menarik nafas panjang, ia lupa kalau bundo tidak ada di masa depan dan bundo juga tidak bisa dihubungi dengan menggunakan panggilan telepon.


Rindu!


Kania sungguh ingin pulang sebentar ke masa lalu untuk menemui bundo, memeluk dan mencium bundo hanya untuk melepaskan rasa rindunya. Akan tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya.


"Andai ada Bundo disini, pasti aku tidak akan sepusing ini," ujar Kania sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Kania kemudian duduk di ranjang dengan rasa sedih dan kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.


Tok ..., Tok ..., Tok ....


"Sayang..., kamu sudah siap?" terdengar suara Alex yang tengah mengetuk pintu kamar Kania, hingga membuyarkan lamunan Kania akab kerinduan pada masa lalu.


"Iya, Yank. Sabar dong!" jawab Kania dengan nada suara maksimal. Ya, Kania tergolong wanita yang paling tidak suka diganggu ketika berdandan, apalagi harus dipaksa bergegas sementara ia belum berdandan sama sekali.


"Cepat dong!"


Kania menggedor-gedor kamar sang kekasih,  terlihat sekali kalau lelaki itu sudah tidak lagi sabar untuk bisa segera jalan bersama Keyla.


"Bisa sabar nggak sih!" Hardik Kania dengan nada suara tinggi.


"Sayang, kamu suka sunset bukan? Kita harus bergegas!" jelas Alex yang juga tidak mau kalah.


Kania memang sangat suka sekali menikmati pemandangan sunset kala senja, karena Kania merasakan ketenangan dan kedamaian dengan hanya melihat matahari terbenam itu.


"Tapi aku bingung mau mengenakan pakaian apa," teriak Kania dengan nada suara manja.


"Sayang, apapun pakaian yang kamu kenakan, kamu akan tetap terlihat sangat cantik layaknya seorang bidadari," ujar Alex dengan gombalannya.


"Boong!" balas Kania dengan nada suara yang terdengar semakin manja.


"Beneran, Sayang, kamu cantik dari hatimu," puji Alex yang membuat Kania melayang ke udara.


"Gombal!"


Dengan senyum tipis dan wajah merona, Kania akhirnya memutuskan untuk mengenakan dress berwarna putih dengan panjang selutut yang membuat penampilannya terlihat seperti seorang bidadari yang baru saja turun dari kayangan.


Kania menatap wajahnya di depan cermin dan berlenggak-lenggok layaknya seorang bidadari.


"Sepertinya ada yang kurang, apa ya?"


Kania terus menatap wajahnya di cermin, memperhatikan apa yang kurang pada dirinya.


"Ah, lipstik!"


Kania memeriksa laci meja hiasnya dan melihat berbagai macam lipstik dengan jenis warna-warna yang soft kesukaan Kania.


"Sayang, apakah semua lipstik-lipstik ini untukku?" ucap Kania dengan nada suara yang terdengar sangat bahagia.


"Tentu saja, Sayang, pakailah apapun yang kamu inginkan dan sukai karena semua itu adalah milikmu," jelas Alex.


Ya, Alex terlihat sangat mencintai dan menyayangi Kania dengan sangat tulus sehingga ia menuruti semua keinginan dan kehendak Kania bahkan ia menyiapkan semua kebutuhan sesuai dengan keinginan dan kesukaan Kania.


"Terima kasih banyak, Sayang."


Kania tersenyum bahagia dan merasa bersyukur karena memiliki kekasih seperti Alex.


"Sayang, apa masih lama?"


Alex mulai menggedor-gedor pintu kamar Kania lago dan kali ini mulut Alex ternganga ketika melihat Kania membuka pintu dan keluar dari kamar dengan kecantikan yang terlihat sangat sempurna.


"Sayang, yuk berangkat!"


Senyum tipis yang terlihat sangat manis dan merekat tergambar jelas dari wajah Kania hingga membuat Alex tidak bisa sedikitpun memalingkan wajahnya.


"Sayang, kenapa bengong? Katanya ingin cepat berangkat!"


"Tunggu!"


Alex menghentikan langkah Kania kemudian berlari mengambil sebuah high heels berwarna putih yang lebih terlihat seperti sepatu kaca untuk Kania.


"Sayang, pakailah!"


Alex memegang lembut kaki Kania dan memasangkan sepatu itu di kaki gadis cantik itu yang membuat Kania merasa dipuja seperti seorang ratu oleh kekasih yang sangat dicintainya.


Kania diam dan terharu dengan perlakuan kekasih hatinya yang memperlakukan ia layaknya seorang yang istimewa yang teramat sangat dimuliakannya.


"Sayang, bagaimana mungkin aku akan menikah dengan lelaki lain di saat aku memiliki seorang pangeran yang teramat sangat mencintaiku seperti kamu," ujar Kania dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, aku mencintaimu!"


Alex mencium punggung tangan Kania dengan lembut.


Kania bahagia dan merasa sangat bersyukur karena memiliki seseorang sebaik Alex di dalam hidupnya.


"Sayang, yuk berangkat!" ajak Alex.


Kania mengangguk dan tersenyum dengan sedikit aia mata yang jatuh mengalir membasahi pipinya.


Kania mengalungkan tangannya di tangan Alex dan membawa lelaki itu pergi meninggalkan apartement menuju parkiran.


"Sayang, karena sekarang aku tidak punya uang maka aku akan menurut kemanapun kamu mengajakku," ujar Kania dengan senyum menawan.


"Sayang, aku akan membahagiakanmu! Sekarang kita jalan-jalan dulu dan lupakanlah kesedihanmu. Setelah ini kita akan mencari Papamu," ujar Alex dengan nada suara lembut yang terdengar seperti grogi.


***


Sore ini langit terlihat sangat cerah, langit yang tadinya berwarna biru sekarang berganti seperti sepertinya merah muda, matahari yang tadinya sangat menyengat, saat ini mulai berangsur-angsur kembali keperaduannya. Pemandangan sunsut dengan langit yang berwarna merah muda seperti ini memang jarang sekali terjadi.


Kania bersama Alex dua insan yang sedang dimabuk asmara, tengah duduk di sebuah tempat duduk panjang yang berbahan dasar kayu itu sembari menikmati pemandangan senja ini.


Dua sejoli itu menjuntaikan kaki kami ke bawah sembari menggayun-ayunkannya sesuai dengan irama angin laut yang berhembus.


Kania dan Alex tarlihat serasi, mereka menggenalan baju berwarna putih lengkap dengan topi dan kacamata.


"Masyaallah, indah sekali pemandangan sunset sore ini," ucap Kania sembari menunjuk sunset yang tengah bergerak


keperaduan menuju bumi lain dibelahan dunia ini.


"Romantis banget ya, kalau seandainya kita bisa nikmatin sunset kayak gini sama pasangan setiap hari pasti rasanya bahagia sekali,"balas Alex.


Dua sejoli yang tengah jatuh cinta itu saat ini pasti merasakan dunia ini seolah milik mereka saja.


"Tapi, sayangnya kita di sini tanpa kedua orang tua kita," ucap Kania sembari merangkul dan melilngkarkan tangannya di bahu kekasih hatinya itu.


"Sayang, apakah ada yang ingin kamu ceritakan kepadaku?" tanya Alex penasaran sembari menatap wajah yang saat ini tengah malu-malu.


Kania terdiam, ia tidak tahu akan memulai menceritakan dari mana perihal kembalinya ia ke masa lalu dan mencari solusi terbaik untuk merubah nasipnya di masa lalu.


"Sayang, kok diam aja? Apa yang kamu sembunyiin dariku?" Alex terlihat sangat ingin tahu tentang semua persoalan yang terjadi kepada kekasih hatinya.


Kania menunduk, lidahnya terasa sangat kelu hingga sulit untuk mengungkapkan apa yang terpikirkan di otaknya.


"Sayang, apa kamu tidak percaya kepadaku? Apa kamu tidak mau jujur?" tanya Alex sekali lagi.