WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Kerinduan



Rasa heran menyelimuti hati Alex karena ia sangat mengenal Kania. Kania yang ia lihat sekarang benar-benar berubah seolah yang saat ini bukanlah dirinya.


"Sayang, jika ini bukan aku lantas siapa?" tanya Kania.


Kania tahu kalau sikapnya berubah drastis dan ia sangat paham dengan sikap Alex yang seolah tidak percaya dengan dirinya yang sekarang.


Kembali ke masa lalu membuat Kania terlihat seperti Siti. Siti dan keluarganya di masa lalu seoalah memberikan banyak pelajaran berharga bagi Kania.


Namun, Alex seolah masih meragukan Kania yang saat ini ada di depannya.


Ya, wajah bisa saja sama tapi batin seseorang pasti merasakan perubahan kepada wanita yang paling dekat dengannya dan sangat dicintainya.


"Sayang, aku merindukanmu!"


Kania langsung memeluk Alex untuk menepis keraguan dan ketidakpercayaan kekasih hatinya itu kepadanya. Kania tahu, mungkin saja sikapnya yang berbeda yang membuat Alex bersikap dingin kepadanya.


"Sayang ...," ucap Kania manja.


Kania terlihat berusaha meluapkan semua kerinduannya yang selama ini tertahankan kepada Alex. Ia melepaskan semua rasa yang selama ini tertahan di dada.


Pelukan hangat yang Kania berikan akhirnya dibalas oleh Alex dengan kasih sayang dan cintanya. Hingga untuk beberapa saat dua insan yang saling jatuh cinta itu meluapkan semua kerinduan yang ada di hatinya.


"Kania, apa yang kamu lakukan, ini rumah sakit! Seorang wanita Minangkabau harus memiliki rasa malu dan menjaga martabatnya," bisik Siti terngiang-ngiang di telinga Kania yang membuat hati Kania merasa kikuk dan malu.


Kania langsung melepaskan tangannya yang memeluk Alex, kemudian langsung salah tingkah dengan wajah yang memerah karena malu.


Wajah Kania memerah karena tersipu malu. Merasa bersalah dan berdosa juga karena ia terlalu agresif dan tidak tahu malu. Sungguh, sangat jauh berbeda dengan Siti, ia dari masa lalu yang selalu menjaga sopan santun dan sebagai seorang wanita.


"Sayang, taxi-nya sudah datang, yuk masuk!"


Alex langsung menarik tangan Kania untuk memasuki taxi online yang baru saja ia pesan.


Alex ingin menanyakan banyak hal tentang perubahan yang terjadi pada diri Kania, tapi kali ini ia memilih mengabaikannya untuk sesaat karena ia melihat anak buah Galih tengah mengintai-intai gerakannya dan Kania.


"Alex, apa yang terjadi?" tanya Kania penasaran dengan sikap Alex yang tidak biasa.


"Kita pulang saja! Aku benar-benar sudah merindukan suasana di rumah!" ujar Alex.


Wajah lelaki tampan itu kini terlihat sangat pucat dan sedikit ketakutan. Gelisah dan tidak tenanga karena anak buah Galih tetap memperhatikan dan memata-matai mereka.


"Sayang, kamu berbohong kepadaku!"


Kania sangat mengenal Alex, jadi Kania sangat tahu jika lelaki yang sangat dicintainya itu saat ini tengah berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya.


Kalau Kania yang biasanya, ia akan memaksa Alex untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, setelah kembali dari masa lalu Kania banyak berubah. Ia menjadi lebih tenang dan lebih santai dalam menghadapi segala persoalan dan masalah hidup yang akan dihadapi.


"Sayang, kamu istirahatlah! Aku akan membangunkanmu setelah kita sampai di apartemen," ucap Alex.


Kania melihat dan terus memperhatikan wajah Alex yang benar-benar terlihat sangat panik.


'Aku harus menurut, setidaknya agar Alex merasa tenang,' ujar Kania.


Kania menyandarkan tubuhnya di mobil, kemudian memejamkan matanya secara perlahan. Untuk sesat Kania berusaha untuk tidak tertidur karena ia belum siap kembali ke masa lalu, ia belum menemukan strategi dan cara terbaik untuk menebus hutang-hutang abak kepada Datuak Maringgih. Lagian, disini Kania juga belum bertemu dengan papanya.


'Siti, tolong jangan muncul dulu, gw masih belum siap kembali ke masa lalu,' batin Kania.


Saat ini Kania memang sering berinteraksi dengan dirinya sendiri untuk mendapatkan petunjuk dan bertemu dengan Siti.


"Kania, Sayang, bangun!"


Selang beberapa saat Kania mendengar Alex memanggil-manggil namanya.


"Aku harus segera bangun!" ujar Kania di dalam hati.


Kania perlahan membuka matanya dan ia merasa sangat bersyukur karena saat ini ia masih berada di masa depan dengan dirinya yang sesungguhnya.


"Sayang, kita sudah sampai di apartemen, turun yuk!"


Alex membantu Kania dengan penuh cinta dan kasih sayang yang sangat tulus.


"Kania ...!"


Teriak bodyguard yang datang menghampiri Kania dan Alex. Kania langsung tahu kalau itu adalah orang suruhan om Galih.


Tangan Kania dan Alex yang sedang bergandengan dilepaskan secara paksa.


Mereka dengan sigap memaksa Kania untuk ikut dengan mereka.


"Lepaskan gw!" bentak Kania dengan nada suara tinggi.


Keyla berusaha melepaskan diri dari anak buah om Galih dengan kemampuan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.


"Jangan membantah! Ikut saja!" ucap salah satu bodyguard dengan tampang sangar, membentak dan menghardik Kania.


"Sayang, tolong aku!" rengek Kania di dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipinya.


Kekuatan tangan para bodyguard membuat tubuh Kania kesakitan.


Kania merintih dan menangis.


"Lepaskan, Kania!" teriak Alex lantang dan keras.


Alex murka, ia tidak terima kekasih yang sangat disayanginya disakiti dan diperlakukan dengan sangat kasar oleh para berandalan yang merupakan anak buah dari Galih.


"Eh, jangan ikut campur lo anak kecil!"


Sebuah tendangan hampir saja mendarat di wajah Alex, akan tetapi Alex dengan sigap untuk mengelak.


"Sejak kapan aku bisa bela diri?" ucap Alex di dalam hati.


Alex merasa heran sekaligus takjub dengan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak pernah belajar bela dri tapi ia memiliki kemampuan yang sangat ahli.


"Alex?"


Kania menatap takjub ke arah kekasihnya itu. Ia melihat Alex tidak seperti dirinya sendiri tapi lebih terlihat seperti Syamsul.


"Uda Syamsul? Apakah kamu datang membantu kami?" batin Kania.


Semua gerakan-gerakan silat yang memukau terlihat sangat menakjubkan.


Dalam beberapa menit semua anak buah Galih tumbang dalam waktu sesaat.


"Kania, kamu tidak apa-apa, Sayang?"


Alex langsung berlari mengejar dan menghampiri Kania dengan perasaan was-was dan ketakutan.


Khawatir!


Wajah Alex terlihat sangat pucat, matanya berkunang-kunang dan akhirnya Alex jatuh ke dalam pelukan Kania.


"Alex, Sayang ...! Apa yang terjadi?" teriak Kania histeris.


Kania merasa sangat takut terjadi hal buruk kepada Alex.


"Sayang, bangun!"


Kania menepuk-nepuk lembut pipi Alex dengan hati yang saat ini berkecamuk dan sedih.


Kania tidak ingin kehilangan orang-orang yang ia sayangi, karena Kania kuat karena mereka.


"Sayang ..., bangunlah!"


Air mata Kania jatuh mengalir tanpa henti hingga jatuh membasahi pipi Alex.


Lelaki tampan yang saat ini dipangku oleh Kania itu perlahan membuka matanya dengan perlahan.


Matanya membolak-balik, seolah menatap kesekitarnya dengan heran, seolah ia tidak mengenal tempat itu.


"Sayang, kamu sudah bangun?"


Kania langsung memeluk Alex dengan hangat, penuh cinta dan kasih sayang dalam isak tangisnya.


"Siti, tolong lepaskan aku! Kita tidak mukhrim," ucap Alex yang berusaha melepaskan diri dari Kania.


"Sayang?"


Kania kaget dan heran dengan perubahan lelaki yang saat ini di depannya dan terasa sangat asing dan berbeda.