
"Tidak ada yang salah dengamu, Sayang, aku saja yang tidak ingin kita terlalu berdekatan, apalagi sampai bersentuhan seperti ini," ujar Kania.
Kania tahu kalau sikapnya saat ini sangat berbeda dan mungkin saja apa yang dilakukannya tidak bisa dengan mudahnya diterima oleh Alex, jadi Kania berusaha untuk tidak membuat Alex menjadi tersinggung.
"Kenapa? Bukankah selama ini waktu berdua seperti ini yang selalu kita nantikan?" ungkap Alex dengan sejuta tanda tanya yang ia bawa bersamanya.
"Tidak ada dua orang lelaki dan wanita yang saling mencintai dan mereka tidak mukhrim berada dalam satu ruangan yang sama tapi keduanya belum menikah!"
Kania berbicara seperti Siti, bahkan kata-kata itu spontan keluar dari lisannya padahal ia belum mengetahui dan belum belajar tentang hal itu.
"Sayang, ini kamu bukan?"
Alex memandang wajah Kania dengan rasa heran yang ia bawa bersamanya, ia tidak menyangka sang kekasih mengatakan hal-hal yang terdengar bijak dan biasanya disampaikan oleh orang dewasa.
"Sayang, ini aku dan aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa mengatakan hal demikian, namun satu hal yang pasti, tidak ada istilah pacaran dalam islam," jelas Kania sekali lagi.
Alex paham dengan apa yang Kania katakan dan ia juga membenarkannya karena selama ini ia juga belajar ilmu agama, tapi dalam situasi seperti ini mana mungkin ia dan Kania menikah, mereka bahkan belum tamat SMA.
"Sayang, apakah setelah tamat SMA kita menikah saja?" ungkap Alex tanpa berpikir panjang, namun terlihat sekali keseriusan dari kata-katanya.
"Bukankah Papa belum mengizinkan kita menikah?" ungkap Kania dari lubuk hati terdalam.
"Bahkan aku ingin menikah muda, sekarangpun tidak masalah, namun kita tidak mungkin kabur lagi," ucap Alex dengan wajah tertunduk sedih dan menyesal.
Kania dan Alex akhirnya menyadari kalau restu orang tua adalah yang terpenting, dan mereka tidak ingin lagi kualat karena keegoisan hati mereka untuk bersama hingga melawan restu orang tua.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin terus-menerus berpacaran," timpal Kania.
"Tapi solusi dari dua orang yang mencintai adalah menikah agar kita berdua tidak berdosa," jelas Alex mengulangi apa yang tadi Kania sampaikan.
Kania ingat kalau di masa lalu ia pernah berjanji kepada bundo dan abak kalau ia akan segera menikah dengan Alex ketika mereka kembali ke masa depan, namun keadaan berubah karena saat ini keduanya sedang tidak baik-baik saja, keduanya masih dalam keadaan sakit dan dua bulan lagi mereka akan mengikuti ujian nasional.
Kania dan Alex sebenarnya juga tidak yakin jika kedua orang tua mengizinkan mereka untuk menikah setelah tamat SMA, namun mereka ingin tetap berusaha semaksimal mungkin agarĀ keinginan mereka dapat terwujudkan.
"Sayang, apakah kamu percaya kepadaku?"
Alex menatap Kania dengan tatapan yang sangat tajam, seolah mata itu mengisyaratkan kalau ia akan berjuang sagnat keras untuk mendapatkan restu dari orang tua mereka dan mempertahankan cinta mereka hingga cinta itu akhirnya benar-benar bisa bersatu dalam ikatan suci pernikahan.
Alex dan Kania tidak memikirkan masalah uang karena mereka berdua sangat yakin kalau setiap manusia ada rezekinya, walaupun Kania berasal dari keluarga berada dan berkecukupan, tapi Kania menjadi belajar dari hidup dengan pengalamannya kembali ke masa lalu.
"Sayang, jadi apakah rencanamu sekarang?" tanya Kania penasaran.
"Aku ingin kita berdua membuktikan kepada kedua orang tua kita kalau kita berdua pernah kembali ke masa lalu dan bertemu dengan diri kita di masa lalu," jelas Alex.
"Tapi bagaimana caranya?"
Saat telah sadar dan kembali ke masa depan, Kania menjadi tidak bisa berpikir jernih, apalagi kejadian yang ia alami seperti mimpi panjang di saat ia koma, tidak ada yang percaya kepadanya dan tidak ada yang ingin mengerti dengan semua cerita yang diceritakannya.
Keduanya ingat kalau mereka selalu mengabadikan momen di masa lalu agar bisa menjadi kenangan dan bukti bahwa keduanya benar-benar kembali ke masa lalu.
"Bibi bilang ponselku rusak dan tidak bisa lagi dipakai karena kecelakaan itu," jelas Kania dengan sejuta kesedihan yang ia bawa bersamanya.
Kania berharap ia bisa memperlihatkan kepada semua orang kalau ia tidak berbohong namun satu-satunya harapan Kania tidak lagi bisa menjadi kenyataan karena satu-satunya bukti yang tersisa sudah lenyap.
"Sayang, tunggu! Bukankah waktu itu kamu memberikan ponsel itu kepada Abak dan Bundo?"
Alex ingat kalau Kania menghadiahkan ponselnya kepada abak dan bundo agarereka bisa berkomunikasi ke masa lalu dari masa depan.
"Iya, kamu benar, kita hanya perlu menghubungi Abak dan Bundo dari sini, kemudian meminta beliau bersaksi kalau kita benar-benar ke masa lalu waktu itu."
Kania etuju dengan apa yang dikatakan oleh Alex, ide yang Alex pikirkan mungkin saja memang sangat bermanfaat untuk mereka sehingga mereka bisa mendapatkan solusi terbaik untuk hubungan mereka.
"Sayang, Bibi memberikan ponsel ini kepadaku, mungkinkah kita bisa menghubungi Abak dan Bunda dari sini."
Kania mengulurkan ponselnya kepada Alex dan diterima oleh lelaki tampan itu.
Alex memencet tombol dan menekan nomor ponsel Kania yang memang sudah hapal di kepalanya.
[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi!]
Ya, beberapa kali Alex melakukan panggilan telepon tetap saja hanya jawaban dari operator seperti itu yang ia dengar.
"Tidak aktif ya, Sayang?" tanya Kania memastikan.
Alex menggeleng sebagai bentuk exspresi kekecewaannya, persis sama dengan wajah Kania yang berubah ketika mendapatkan jawaban dari Alex.
"Apakah semua yang terjadi hanya mimpi panjang saat kita berdua terbarung tak berdaya di rumah sakit, Sayang?" ungkap Kania dengan nada suara yang terdengar sangat lemah dan penuh dengan keputusasaan.
"Mungkin!" timpal Alex membenarkan pernyataan Kania.
Keduanya kemudian terdiam dengan wajah tertunduk sedih dengan sejuta kebingungan yang mereka bawa bersamanya.
Seperti nyata, mimpi mereka terasa teramat sangat nyata bahkan tidak bisa dilupakan sama sekali.
"Sayang, sepertinya kita harus melupakan semuanya dan melanjutkan hidup kembali. Kita harus sehat dan kembali ke sekolah, lulus dengan nilai terbaik dan buktikan kepada orang tua kalau kita berdua bisa bertanggung jawab untuk diri sendiri," ujar Alex.
"Tapi aku masih tidak percaya kalau semua yang terjadi adalah mimpi, apalagi kamu juga mengalaminya. Bagaimana mungkin kita berdua terjebak dalam mimpi yang sama," timpal Kania yang masih tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi.
"Sayang, apakah kita perlu jalan-jalan lagi ke Sumatera Barat? Apapun kenyataan yang terjadi, setidaknya kita berdua bisa bernostalgia dan mengobati kerinduan pada masa lalu kita," usul Alex memberikan pilihan.
"Jalan-jalan?"