
Sorot mata Alex mengisyaratkan kalau ia ingin Kania berbagi semua gundah di hatinya kepadanya tanpa menyembunyikan apapun.
Sementara Kania tetap diam membisu, hanya senyum tipis yang keluar dari bibirnya, senyum yang mengisyaratkan kalau saat ini ia tengah meragu dan memikirkan banyak hal.
Kania berlari ke tepi pantai, entah untuk menikmati sunset atau untuk menghindari Alex. Gaun putih yang Kania kenakan menyatu bersama angin hingga membuatnya terlihat seperti seorang bidadari yang baru turun dari kayangan.
"Sayang, tunggu!" teriak Alex.
Alex pun ikut berlari mengejar Kania. Ya, terkadang mereka memang terlihat seperti pasangan remaja SMA yang tengah di mabuk asmara, terkadang mereka bersikap dewasa seolah ingin menyelesaikan semua masalah yang menimpa mereka.
"Ah, capek, aku nyerah!"
Kania berhenti berlari dengan nafas yang sudah ngos-ngosan. Kania duduk di tengah-tengah jembatan, Alex juga melakukan hal yang sama untuk mengikuti Kania. Dua sejoli itu duduk berdampingan sembari menjuntaikan kakinya hingga ujung-ujung jemari kaki mereka menyentuh air, terlihat sangat romatis dan manis sekali.
"Sayang, lihat warna langitnya merah muda, terlihat benar-benar sangat indah."
Alex menunjuk ke arah langit, senja memancarkan warna merah muda sebelum kembali ke peraduannya.
"Sayang, kita foto-foto aja yuk!" ajak Kania.
Kania ingin mengabadikan momen indah bersama dengan Alex. Ia melangkah mundur untuk mencari posisi terbaik, tapi tiba-tiba ia merasakan detak jantung Alex berdetak sangat hebat.
Kania tidak ingin menoleh kebelakang karena ia juga merasakan debaran yang sama dengan apa yang Alex rasakan. Kania kemudian melangkahkan kakinya selangkah ke depan, tapi Alex juga melangkahkan kakinya mengikuti irama kaki Kania, keduanya malu-malu.
Kania membalikkan badannya dan menoleh ke belakang, Ia memperhatikan sosok lelaki yang ada di depannya itu, lelaki yang merupakan kekasihnya itu terlihat berubah menjadi sosok yang berbeda.
Kania memperhatikan Alex dengan seksama, lelaki itu menatap mata Kania dengan tatapan penuh cinta dan kasih sayang. Kania melihat ketulusan itu tergambar jelas di wajah kekasih hatinya itu.
Kania tidak sanggup mengatakan apa-apa, mulutnya terasa kelu dan kaku. Ingin sekali Kania meminta maaf karena tidak bisa mengungkapkan seluruh isi hatinya kepada Alex, akan tetapi tatapan mata Alex yang serius itu membuat Kania tidak bisa berkata-kata. Untuk sesaat Kania terhanyut dalam suasana romantis dengan pemandangan senja yang benar-benar membuat ia terbawa perasaan alias Baper.
"Sayang, maukah kamu menikah denganku?" ucap Alex tiba-tiba, namun terdengar serius.
Kata-kata itu diucapkannya dengan grogi, sepertinya ia telah mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Kania, kekasih yang sangat dicintainya.
Sementara Kania, gadis itu saat ini malah ternganga dengan pengakuan mengejutkan dari kekasih hatinya itu. Kania memang sangat ingin sekali menikah dengan Alex karena itu adalah harapannya. Mereka berdua bahkan telah memutuskan untuk melarikan diri di hari ia akan menikah dengan Om Galih. Tapi, bagaimana pun juga mereka berdua masih SMA, masih banyak lagi harapan dan cita-cita yang akan diraih di masa depan.
"Sayang, aku melamar mu, kamu mau menikah denganku?" ucap Alex yang saat ini kembali melangkah mendekati Kania.
Dek ..., Dek ..., Dek ....
Jantung dua insan yang tengah jatuh cinta itu tengah berdetak sangat hebat, seolah ada kelinci-kelinci yang melompat-lompat di sana.
Alex mendekat kepada Kania, hingga jantung Kania semakin berdetak tidak menentu.
"Kania, awas!"
Alex langsung memegang pinggang Kania yang lansing karena kaki wanita cantik itu hampir saja jatuh ke air laut. Dengan sigap Alex langsung membawa Kania ke dalam pelukannya, hingga debaran jantung kedua sejoli itu semakin berdebar tidak menentu.
"Maaf ..., maaf!"
Alex langsung melepaskan pelukannya dari Kania karena saat ini lelaki itu juga tengah malu dan salah tingkah.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Alex lembut dengan nada suara bergetar.
"A-aku tidak apa-apa," ucap Kania dengan nada suara yang juga tidak kalah gemetar.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke tepi pantai saja, terlalu bahaya kalau kita disini."
"Iya, baik," jawab Kania tanpa melihat Alex yang sedari tadi tidak henti-hentinya menatap gadis cantik itu.
Suasana menjadi sangat berbeda saat ini, untuk sesaat dua insan itu terhanyut dalam atmosfir cinta yang diugkapkan dalam gerak-gerik dan bahasa tubuh saja. Kania sangat tahu dan paham sekali dengan karakter lelaki yang ada di depannya itu, Alex pasti mengumpulkan keberanian yang sangat luar biasa untuk mengungkapkan perasaanya yang ingin menikahi Kania.
Saat ini mereka berdua hanya berjalan berdampingan dalam diam dengan ditemani deburan ombak dan keindahan sunset kala senja menyapa.
"Sayang, apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Alex sekali lagi ketika mereka berdua duduk di tepi pantai sembari menikmati pemandangan senja.
“Sayang, kamu beneran serius ingin menikah denganku? Kamu tidak menyesal karena hari kita kabur untuk kawin lari, kita malah mengalami kecelakaan," ujar Kania mengingatkan kembali kenangan mereka beberapa minggu yang lalu.
Alex tidak berkutik dan tidak berbicara apa-apa, fokus matanya hanya tertuju kepada Kania, betapa matanya begitu yakin untuk mengungkapkan semua perasaannya dan dengan pengharapan yang teramat sangat.
"Sayang, apakah kamu meragukan ku?"
Alex masih saja menatap Kania dengan tatapan penuh pengharapan, sembari menggenggam lembut tangan Kania. Namun kali ini aku tidak lagi membalas tatapan Alex, ia langsung menundukkan pandangannya.
Alex kemudian bersujud dan mengeluarkan sebuah cincin yang ia pasangkan di jari manis Kania, bukan cincin emas ataupun permata tapi hanya cicin yang dirangkai indah dengan bunga sebagai hiasannya.
"Sayang, jadilah istriku, ibu dari anak-anakku, menikahlah denganku!"
Alex terlihat sangat tulus mengungkapkan isi hati dan perasaannya kepada Kania, tapi entah apa yang Kania pikirkan, ia tidak kunjung menjawab pertanyaan Alex.
“Sayang, temenin aku ambil foto dari sudut patai sebelah sana, aku pengen foto di pasir putih itu,”ujar Kania sembari menarik tangan Alex tanpa menatap mata lelaki itu.
"Sayang, apa yang terjadi kepadamu!"
Alex protes dan tidak serta merta menuruti keinginan Kania. Namun, Kania hanya diam dalam hening dan kebisuan sembari terus berjalan menuju slot foto yang ia inginkan.
"Sayang, tolong tatap aku!"
Alex melepaskan genggaman tangan Kania dan meminta gadis cantik yang ada di depannya itu untuk menatap matanya dan menjawab apa yang baru saja ia katakan.
Kania hanya mematung dalam kebisuan, ia tidak berani menatap Alex atau berbicara kepada kekasihnya itu. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, hanya saja kakiku tidak bisa di langkahkan untuk menjauhi Alex dan mulutnya juga seolah kaku dalam kebisuan.
“Sayang, kita bisa ngobrol sebentar?”
Raut wajah Alex terlihat memerah, lidahnya sepertinya juga kelu, ia mengumpulkan keberaniaannya untuk menyatakan perasaannya lagi kepada Kania. Dari tatapan matanya juga terlihat kalau ia sangat khawatir kalau Kania menolaknya atau tidak lagi menghiraukannya.
Alex menggenggam tangan Kania kemudian menuntun jalan, ia mengajak Kania duduk di sebuah kursi yang berbahan dasar kayu, yang pemandangannya menyajikan pemandangan laut lepas dengan sunset yang menambah keindahannya.
Tidak ada yang bisa Kania lakukan selain mengikuti langkah kaki Alex, berjalan bersama mengikuti irama. Nyanyian ombak yang tenang, dengan udara sepoi-sepoi mejadikan suasana romantis. Ya, romantis apabila kita menikmatinya bersama pasangan yang dicintai.
“Sayang, duduklah!” Alex mengisyaratkan dengan tangan kanannya.