WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Nostalgia Masa Kecil



"Kania, Mama dan Papa sangat berharap sekali kamu bisa mewarisi perusahaan kita, mengembangkan usaha kita dan menjadi penerus Mama dan Papa," ucap mama sembari memeluk Kania waktu gadis cantik itu masih duduk di sekolah dasar.


Kata-kata yang keluar dari lisan mama sampai saat ini masih tergiang-ngiang di benak Kania.


"Tapi Kania ingin menjadi master dan nantinya akan mendidik anak bangsa, itu adalah impian Kania, Ma, Pa," ucap Kania dengan nada suara sendu dan terlihat sangat sedih karena keinginannya berbeda dengan kedua orang tuanya.


"Sayang, kamu boleh kok kuliah dan melanjutkan niat baikmu, apapun yang menjadi keinginanmu lakukanlah. Tapi, kamu tidak boleh lupa kalai kamu adalah anak satu-satunya dan harapan Mama dan Papa," jelas papa dengan senyuman dan terlihat sangat meyakinkan kepada Kania.


Sungguh, Kania merasakan kembali kehangatan dan keindah keluarganya di masa lalu dalam ingatannya yang tidak pernah hilang.


Kania saat ini terdiam, dengan wajah yang merona dan memerah, Kania begitu merindukan masa kecilnya.


Sungguh, cinta hadir di antara keluarga Kania yang sangat harmonis saat itu.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Alex sekali lagi.


"Aku hanya teringat dengan Mama dan Papa," ungkap Kania dengan nada suara lemah.


"Sayang, sabar ya!"


Alex menepuk-nepuk lembut telapak tangan kekasihnya itu.


"Sayang, bagaimana kalau kamu nemenin aku nyariin foto-foto masa kecil aku? Sejak kapan ya? Bagaimana kalau sejak bayi?"


Kania tiba-tiba mengajak Alex untuk mencari foto masa kecilnya karena ia benar-benar merindukan masa lalunya.


"Kita mencarinya dimana, Sayang?" tanya Alex penasaran.


Kania tersenyum, kemudian menarik tangan Alex untuk membuka laptop milik mereka.


Rasa heran dan penasaran tentu saja menyelimuti hati Alex karena ia juga penasaran dengan masa kecil kekasih hatinya itu.


"Sayang, aku telah memotret ulang semua foto-foto masa kecilku dan menyimpannya di email yang nantinya bisa aku lihat sebagai kenangan," pinta Kania terlihat bersemangat.


Wajah Kania terlihat jelas rona wajah bahagia, mata yang berbinar bercampur dengan sejuta kerinduan kepada kedua orang tua dan kenangan masa kecilnya.


"Sayang, aku punya begitu banyak kenangan masa kecilku bersama Papa dan Mama yang tidak akan pernah terulang kembali."


Kania seolah mengingat semua kebahagiaan dan keharmonisan keluarganya waktu dulu.


Alex sangat paham sekali dengan sikap Kania saat ini, karena sejak mama Kania meninggal keluarga Kania jadi berubah 360 derajat.


"Sayang, ini foto aku sejak aku SMP."


Kania menunjuk kepada seorang gadis kecil yang terlihat cantik sekali tengah tersenyum bersama mama dan papanya.


Alex terlihat salut dan takjub dengan cinta dan kasih sayang sebuah keluarga yang mencintai karena Allah.


"Sayang, kamu lapar nggak? Bagaimaka kalau kita makan dulu di caffe depan sana sembari melihat-lihat album foto ini?" ajak Alex yang ingin memberikan suasana santai kepada Kania, agar kekasih hatinya itu bisa lebih leluasa mengenang masa lalunya.


Tentu saja Kania langsung setuju dan mereka langsung mengendarai mobilnya dan berhenti di sebuah restoran yang dulunya biasa Kania dan keluarganya singgahi.


"Sayang, kamu masih ingat restoran ini?" tanya Kania embari menatap mata kekasihnya dengan takjub.


"Tentu saja, kamu selalu mengatakan kalau ini tempat favorit bersama keluargamu setiap kita lewat sini," jelas Alex dengan senyum tipis yang terlihat manis.


Kania segera keluar dari mobilnya, kemudian melangkahkan kakinya memasuki restoran itu, mencari tempat duduk yang mengarah dinding kaca, karena ia ingin menatap langit biru dengan sinar mentari yang sangat benderang siang ini.


Alex pun ikut berjalan mengikuti Kania, dan sekarang ia berdiri tepat di samping Kania dengan jarak sekitar satu meter.


Alex sepertinya paham dengan apa yang dirasakan oleh Kania, ia menatap ke arah gadis cantik itu, namun aku tidak mentapnya, karena fokus Kania saat ini adalah menatap langit biru.


"Sayang, ada banyak hal yang aku syukuri dalam hidup ini termasuk hadirmu sebagai belahan jiwaku. Ya, awalnya aku membencimu dan tidak menyukaimu sedikitpun karena sikap sombongmu di sekolah, akan tetapi Allah Maha Membolak-balikkan hati, waktu menjawab semuanya kalau kamu sebenarnya adalah gadis yang baik."


Alex mengungkapkan isi hatinya dengan mata yang terus menatap Kania.


Alex kemudian menggenggam tangan Kania dengan penuh cinta dan kasih sayang yang tulus.


"Sayang, berbahagialah!" Kata-kata yang keluar dari lisan Alex membuat Kania merasa tidak sendirian di dunia ini.


"Terima kasih, Sayang," ucap Kania lembut dengan senyum manis yang ia hadiahkan.


Gadis cantik itu memeluk Alex dengan erat.


"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Alex sembari membelai rambut Kania.


"Sayang, apa aku boleh memakan semua makanan disini? Kelihatannya semua makanan disini enak," ucap Kania tiba-tiba, seolah telah lama tidak makan dan entah karena ia memang ingin makan banyak, atau hanya untuk menghibur perasaannya saja dengan makan.


"Tentu saja, Sayang, kamu boleh memesan apa saja yang kamu mau" ucap Alex sembari menatap wajah Kania dengan senyuman merekah.


"Kamu masih punya uang 'kan, Sayang?" tanya Kania lagi.


Kania tahu makanan disini sangat mahal dan ia tidak ingin mereka malah membuat malu karena tidak memiliki uang. Keyla juga paham kalau Alex bekerja sambilan untuk masa depannya, jadi Kania merasa segan untuk menjadi parasit dalam hidup kekasih hatinya itu.


"Sayang, aku punya uang kok."


"Beneran?"


Alex mengangguk dan meminta Kania memesan semua yang ia suka.


Selang menunggu makanan, Kania dan Alex kembali mengenang foto-foto masa lalu yang Kania rindukan.


"Makanannya sudang datang, silahkan menikmati!"


Alex memberikan makanan dan meletakkannya tepat di depan Kania.


"Terima kasih banyak calon suamiku sayang," ucap Kania dengan wajah merah merona.


Dengan bahagia, Kania menyantap makanan yang disajikan untuknya, karena saat ini ia benar-benar sangat ingin kembali ke masa lalu dengan mengenang makanan yang sering ia makan bersama keluarganya dulu.


"Makan yang banyak, Sayang," ucap Alex yang terus memperhatikan Kania makan dengan lahap.


Kania kemudian menatap Alex yang sedari tadi hanya menatap Keyla lahap menikmati makanannya. Ia melihat ketulusan dan kebaikan dari lelaki itu, dan Kania merasakan kebahagiaan dari cinta yang diberikan oleh Alex kepadanya.


"Sayang, kamu nggak makan? Kok sedari tadi cuma menatapku? Apa kamu udah kenyang hanya dengan melihatku?" canda Kania kepada calon suaminya itu, karena Alex terus-terusan menatapnya hingga membuatnya malu.


"Aku rindu sama kamu, rindu melihatmu makan lahap seperti ini, makanya aku memandangmu," ucap Alex tanpa memejamkan matanya sedikitpun dari menatap Kania.


"Kamu bisa gombal juga ya," Kania tertawa terbahak-bahak, sikap lucu dan polos Alex itu sungguh membuat Kania terhibur, tertawa dan bahagia.


"Senang deh bisa lihat kamu tertawa seperti itu," ucap Alex dengan senyuman termanis dari wajahnya.


"Udah ah, kamu gombal mulu. Kamu nggak makan 'kan? Biar aku saja yang memakan makananmu!" ucap Kania yang kini mulai salah tingkah.


Kania merasa senang berada di restoran ini dan menikmati makanan yang biasa ia dan keluarganya pesan, sehingga sedikit kerinduan kepada kedua orang tuanya terlepaskan.