WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Terjebak di Masa Lalu



"Bundo, bukannya Kania tidak ingin tinggal di sini, hanya saja Papa lebih membutuhkan Kania saat ini dan Kania tidak mungkin membiarkan Papa menderita sendirian," ujar Kania dengan nada suara ramah, ia benar-benar tidak ingin melukai hati dan perasaan kedua orang tuanya.


Kania berharap jika kedua orang tuanya di masa lalu tetap bahagia dan melanjutkan hidupnya meski tidak ada dirinya ataupun Siti.


Jika Kania terlahir kembali, ia ingin memiliki empat orang tua yang menyayangi dan mencintainya dengan tulus. Ya, walaupun saat ini papanya bersikap tidak baik kepadanya, namun Kania tidak pernah menyesal menjadi anak dari papanya.


"Bundo, ponsel itu akan membuat Bundo dan Kania terhubung jadi Abak dan Bundo tidak akan pernah merasakan kesepian," jelas Alex.


Alex tahu bagaimana perasaan abak dan bundo saat ini, itulah sebabnya oa menghibur bundo agar beliau bisa melepaskan Kania dengan ikhlas.


Alex kemudian mencoba melakukan panggilan video call ke nomor ponsel Kania yang telah beliau berikan kepada bundo. Ya, alangkah terkejutnya bundo ketika ia melihat wajahnya ada di layar segi empat itu.


"Masyaallah, benar-benar canggih sekali masa depan itu, rasanya Abak juga ingin mengunjungi masa depan," ujar abak yang terlihat takjub dengan apa yang beliau lihat.


"Apakah benda seperti ini memang bisa menghubungkan kita, Nak?"


Bundo menatap Alex, seolah ingin meyakinkan bahwa apa yang beliau lihat benar adanya.


"Benar, Bundo."


Alex menjelaskan kepada abak dan bundo tentang ponsel yang mereka anggap seperti barang ajaib.


"Kania, Alex, apakah kalian berdua memang harus kembali ke masa depan?" Lagi-lagi bundo terlihat tidak ingin mereka kembali ke masa depan mesipun telah ada ponsel pintar itu.


"Iya, Bundo, kami harus kembali karena tugas kami di sini sepertinya telah usai," jelas Alex.


Rasanya malam ini Kania tidak ingin tidur atau bahkan hanya untuk memejamkan matanya karena ia takut ketika ia terbangun ia tidak lagi ada di masa lalu. Kania berharap, setidaknya ia bisa bersama dengan abak dan bundo dal waktu sehari dua hari ini. Ia ingin melepaskan semua kerinduan yang selama ini ia pendam di dalam hatinya.


"Bundo, apakah Kania boleh menyuapi Bundo juga?" tanya Kania lembut sembari menatap bundo yang duduk tepat di sebelah Kania.


Kania ingin membalas budi sekalian memberikan kenang-kenangan kepada bundo kalau Kania juga peduli dan sangat sayang kepada bundo.


"Tentu boleh, Nak, malahan Bundo merasa sangat senang jika Kania mau menyuapi Bundo," ujar bundo dengan senyum menawan.


"Nak, apa cuma Bundo yany disuapi? Abak juga pengen," ucap abak yang sepertinya juga tidak mau kalah.


Abak terlihat iri karena Kania cuma memperhatikan bundo. Abak juga ingin diperlakukan sama dengan bundo oleh Kania.


"Abak, bagaimana kalau Syamsul saja yang suapi?"


"Ah, nggak, Abak maunya sama Kania. Masak jeruk makan jeruk," ucap abak dengan wajah terlihat masam dan wajah yang dimanyunkan.


Tingkah manja abak membuat semua orang yang ada di ruang makan itu tertawa geli, seolah sikap abak sangat lucu dan menggemaskan.


"Abak, maaf ya karena Kania kurang perhatian kepada Abak. Ini Kania suapi."


Kania menyuapi bundo dan abak secara berbantian, seperti seorang anak yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, yang mencintai dan menyayangi kedua orang tuanya dengan tulus.


Dalam suasana akrab dan kekeluargaan seperti itu, Alex mengabadikannya. Ya, Alex ingin mengenang moment berharga ini agar nantinya bisa dilihat dan dikenang di masa depan.


Air mata abak jatuh membasahi pipinya, sepertinya abak merasa terharu dengan kebaikan hati Kania yang sama persis dengan putri kesayangannya, Siti.


"Abak, kenapa Abak menangis?"


Kania menyadari air mata jatuh menggenangi pipi abak, sehingga gadis cantik itu langsung menghapus air mata yang mengalir di pipi yang saat ini sudah keriput itu.


"Ka-K-a-nia," ucap abak dengan nada suara terbara-bata dengan air mata yang semakin deras mengalir.


"Abak."


Kania langsung menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk abak dan mengatakan kepada abak kalau ia teramat sangat mencintai abak dan bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk menjadi anak abak dan bundo.


"Bundo dan Abak juga sangat bersyukur karena Siti kami telah pulang ke masa lalu dari masa depan. Kami senang karena putri kesayangan kami satu-satunya telah hidup bahagia dan kami juga bersyukur karena kami juga diberikan kesempatan untuk mengenal Kania yang hadir dari masa depan.


"Abak, Bundo, bagaimana kalau malam ini kita bergadang sembari bercerita-cerita, karena Kania belum ingin kembali ke masa lalu. Kania juga tidak ingin malam ini cepat berlalu, bahkan Kania takut menutup mata ini karena jika mata ini tertutup mungkin saja Kania telah berada di masa depan," ucap Kania jujur menyampaikan kemungkinan terburuk yang akan terjadi.


Bundo dan abak langsung memeluk Kania dengam erat seolah tidak ingin hal buruk seperti itu terjadi.


"Kania, jangan mengatakan hal yang tidak-tidak karena Abak dan Bundo akan menjaga Kania malam ini. Kami tidak akan membiarkan Kania pergi terlalu cepat karena begitu banyak hal yang belum kita ceritakan," jelas bundo.


Bruk ...!


Tiba-tiba saja lantai rumah bundo berbunyi, seolah ada sesuatu yang jatuh.


Semua mata langsung memandang ke sumber suara dan mendapati Alex telah terbaring di lantai.


"Alex!" teriak Kania.


Gadis cantik itu langsung mendekati Alex dan membawa lelaki yang sangat disayanginya itu ke dalam pelukannya.


"Sayang, Alex, sadar!"


Kania menepuk-nepuk pipi Alex dengan perasaan khawatir dan hati yang berkecamuk.


Kania takut sesuatu yang buruk terjadi kepada Alex.


"Sayang, bangun! Jangan tinggalkan aku!" ucap Kania dalam isak tangisnya dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya.


"Nak, bawa Alex ke kamar tamu di samping kamar Abak," jelas abak yang terlihat juga sangat khawatir namun memilih tetap tenang agar Kania tidak merasa semakin panik.


Sementara bundo segera bangkit dari tempat duduknya menuju dapur, sepertinya beliau ingin mengambil sesuatu yang bisa digunakan untuk membuat kesadaran Alex kembali.


"Sayang, apakah kamu kembali ke masa lalu sendirian dan meninggalkanku di sini? Bukankah kita akan segera menikah, Sayang?" ujar Kania dalam isak tangisnya.


Kania terus menangis memanggil-manggil nama Alex, namun tidak terdengar sahutan sedikitpun dari Alex. Ya, Kania akhirnya menyadari kalau Alex telah kembali ke masa depan, meninggalkan Kania sendirian di masa lalu, hingga kini tinggallah Kania sendirian di masa lalu tanpa ada Alex lagi yang menemaninya. Ia merasa seolah Siti menahannya di masa lalu untuk menjaga abak dan bundo seperti keinginan dan permintaan Siti sebelumnya, namun Alex merasa ia harus pergi dan kembali ke masa depan.