
"Kania, tolong bantu Bundo!"
Teriakkan bundo langsung membangunkan Kania dari lamunannya.
Kania bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju kamar bundo.
"Bundo, apa yang terjadi?" tanya Kania dengan nada suara terbata-bata dengan kekhawatiran yang ia bawa bersamanya.
"Abak tidak bangun-bangun, Nak."
Bundo menatap Kania dengan mata berkaca-kaca.
Kekhawatiran yang teramat dalam membuat hati Kania takut. Kania mengingat masa dimana ia kehilangan mamanya. Kania tidak ingin hal buruk terjadi kepada abak.
"Bundo, apakah rumah sakit jauh dari rumah kita? Bagaimana kalau kita bawa Abak ke rumah sakit saja?"
Kania bersikap lihat, ia tidak ingin menyesal dikemudian hari karena lalai dalam menangani abak.
"Nak, panggillah bendi, kita bisa segera membawa Abak ke rumah sakit."
"Baik, Bundo."
Dengan sigap, Kania mencari bendi (delman) dan meminta sang kursir untuk segera mengantarkan abak ke rumah sakit.
Setelah beberapa saat, akhirnya sampailah Kania, bundo dan abak di rumah sakit.
"Dokter, tolong Abak saya, beliau tidak sadarkan diri!"
Kania meminta dokter memeriksa dan segera melakukan perawatan kepada abaknya.
"Baiklah, kami akan melakukan perawatan, akan tetapi pihak keluarga tunggu di luar!" ujar dokter sembari membawa abak ke ruang rawat inap.
"Kania, apa yang sebenarnya terjadi dengan Abak?"
Dalam isak tangis, bundo terlihat takut dan sangat panik karena belahan jiwanya terbaring lemah tidak berdaya.
"Tenanglah, Bundo, semuanya akan baik-baik saja, Abak akan sehat."
Kania memeluk bundo dan menepuk-nepuk pundak bundo untuk menenangkan hati wanita separuh baya itu.
Selang beberapa menit kemudian, dokter keluar dengan senyum merekah dari bibir beliau.
"Dokter, bagaimana keadaan Abak saya?" tanya Kania penasaran ketika menghampiri dokter.
"Alhamdulillah, Abak anda telah sadar, beliau hanya kelelahan. Sepertinya beliau bekerja sangat keras dengan beban pikiran yang ia tanggung," jelas dokter.
Namun, ada sedikit kebahagiaan di dalam hati Kania, karena dokter mengatakan kalau kondisi abaknya baik-baik saja. Setelah menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut dan beristirahat disini mungkin esok beliau akan diperbolehkan untuk pulang dan kembali berkumpul dengan keluarganya," jelas dokter dengan senyum yang terlihat mempesona.
"Kalau begitu apa saya bisa melihat suami saya, Dokter?"
Bundo berharap ia segera bisa menjenguk abak.
Dokter mengangguk kemudian berlalu pergi meninggalkan Kania dan bundo.
"Kania, kamu mau kemana, Nak?"
"Bundo, Kania harus mengurus adrminstrasi, setelah itu Nia ingin ke musala untuk salat. Bundo duluan saja menemui Abak, sebentar lagi Nia menyusul."
Kania berlari meninggalkan bundo dan berlari dengan semangat yang membara.
Bundo tersenyum tipis, pertanda beliau setuju dan mengizinkan Kania pergi.
"Hati-hati, Nak, jangan lama-lama!" sorak bundo.
Dengan langkah kaki cepat, akhirnya sampailah Kania di musala, rumah Allah yang kini menjadi tempat favorit untuk ia kunjungi.
Ya, sekarang Kania kini mulai berada di titik pasrah, pasrah dengan semua takdir dan ketetapan dari-Nya. Karena semakin ia memikirkan beban hidup dan masalah hidupnya, maka semakin Kania tidak menemukan solusi apa-apa untuk masalahnya itu. Dalam setiap sujud dalam salatnya, sampai sujud di sepertiga malam, selalu ia langitkan doa-doa untuk merayu Tuhan, agar Allah membantu Kania dan menyelesaikan semua persoalan hidupnya. Namun, ini diluar kendali Kania, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan ia tidak bisa melakukan apa-apa-apa kecuali hanya pasrah dan ikhlas menjalani hidup sesuai dengan ketetapan-Nya, meskipun terkadang hati Kania pun bertanya kapan kebahagiaan itu kembali datang menghampirinya, atau setidaknya Kania bisa membahagiakan papa, bundo dan abak, baik ketika ia berada di masa depan maupun dari masa lalu.
Entah apa yang saat ini Kania pikirkan, akan tetapi tiba-tiba saja memori dan kenangan masa kesil bersama mama dan papanya membuat air mata Kania tak bisa lagi di bendung. Kania merindukan mama dan papanya dari masa depan. Lania juga takut usia abak dan bundo tidak lagi lama, akan tetapk sampai saat ini Kania masih belum bisa mewujudkan keinginan terakhir Siti untuk membahagiaman orang tua mereka.
Perlahan Kania hapus air matanya, ia kenakan mukena dan aku menemui Sang Pencipta dan berdoa dengan penuh pengharapan hanya kepada-Nya.
“Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba tahu, hamba adalah hamba-Mu yang penuh dengan dosa, yang selalu lalai dengan perintah-Mu, jarang sekali datang bersimpuh kepada-Mu. Namun, kali ini hamba benar-benar tidak tahu lagi harus kepada siapa hamba akan mengadu dan meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, berikanlah kesehatan untuk Abak dan kuatkanlah kami dalam menghadapi setiap cobaan yang Engkau berikan," ujar Kania dalam doanya.
Kania sangat tahu sekarang kalau Allah, tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Hingga ia diberi petujuk dan ditolong oleh Allah.” Kali ini Kania berdoa sangat khusuk dan ia tumpahkan semua beban yang selama ini tertumpuk di kepalanya sembari menangis dengan penuh isak dan pengharapan. Ya, Kania benar-benar berharap Allah mendengar dan mengabulkan keinginannya.
Setelah menumpahkan semua beban di dada, hati Kania merasa lebih tenang dan damai. Namun, pikiran Kania kembali diganggu pada satu pertanyaan tentang biaya rumah sakit.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membayar biaua rumah sakit Abak? Apakah aku harus menggunakan uang pemberian Datuak Maringgih?"
Tiba-tiba pikiran seperti itu terbesit di benak Kania.
Kring ..., Kring ..., Kring ....
“Halo, Lex,” sontak Kania langsung mengangkat panggilan telepon yang bergetar, karena Kania sangat yakin sekali kalau itu adalah panggilan telepon untuknya.
“Assalamualaikum, Kania, maaf sebelumnya karena aku meninggalkanmu sendirian disana, dan aku merasa beruntung karena panggilan telepon ini akhirnya menyambung ke masa lalu," ujar Alex dari dunia lain.
“Waalaikumsalam, Alex, apakah ini benaran kamu, Sayang?” tanya Kania penasaran.
“Maaf, Nia, tapi apakah tidak bisa kamu kembali ke masa depan secepatnya?" pinta Alex dengan wajah yang terlihat sangat serius, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Iya ada apa, Alex? Apa terjadi sesuatu dengan Papalu?" tanya Kania dengan penuh rasa cemas.
“Dokter hanya meminta kamu untuk segera ke sini.”
“Baik, Alex."
Kania langsung menutup panggilan telepon itu dan bergegas keluar dari musala.
Kania berlari sekencang yang kubisa, tidak peduli lagi kakinya yang berliku, yang ada dalam otak Kania.
Kaki Kania terasa seperti tak memijak bumi, jantungnya berdegup sangat kecang, pikirannya bercabang dan begitu banyak hal yang terpikirkan di benaknya.
Kania berusaha berlari dengan stok tenaga yang ada, namun tersandung dan tidak berdaya. Kania terjatuh dan lututnya terluka lagi, hingga membuat air mata yang sedari tadi Kania tahan akhirnya bercucuran juga. Kania berusaha kembali bangkit dan kembali berlari agar segera sampai di ruang rawat inap abak.