
Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu memelukku dengan erat?"
Seolah tidak ingin kehilangan, Kania terus saja memeluk Alex tanpa ingin melepaskannya sedikitpun.
"Sayang, pulang dari Padang kita harus langsung menikah ya!"
Dalam isak tangisnya, Kania meminta pernikahannya dan Alex dipercepat, tidah harus menunggu mereka tamat SMA.
Senang!
Tentu saja Alex merasa sangat senang, karena menikah dengan Kania adalah harapannya. Akan tetapi sikap Kania membuat ia merasa sangat heran, karena selama ini Kania adalah orang yang menunda-nunda pernikahan karena ingin menyelesaikan masa lalu dan masa SMA mereka, namun sekarang Kania sendiri yang meminta pernikahan dipercepat.
"Apakah ada hal buruk yang terjadi?"
Alex melepaskan pelukan Kania, kemudian menatap tajam mata Kania dengan sejuta rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.
Alex sangat tahu jika hal buruk telah terjadi, dan Kania tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari Alex.
"Sayang, katakan!"
Alex terus menatap mata Kania dengan tajam dengan sejuta pertanyaan dan rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.
"Aku bermimpi bertemu dengan Siti, dan pada saat yang sama Syamsul juga datang kesini," ucap Kania.
Kania menjelaskan semua hal yang terjadi sepengetahuannya, hingga Alex menjadi paham dan mengerti.
"Sayang, mana ponselmu?"
Syamsul mengulurkan telapak tangannya dan meminta Kania memberikan ponselnya.
Dengan patuh, Kania memberikan ponsel itu kepada Alex.
"Sayang, apa yang akan kamu lakukan dengan ponsel itu?" tanya Kania penasaran dengan sikap Alex.
"Kamu bilang ponsel ini tetap ada meski kamu kembali ke masa lalu, apa benar begitu?"
Alex bertanya serius kepada Kania.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Kania dengan nada suara lembut namun menyumpan rasa penasaran.
"Mungkin saja ada petunjuk di ponsel ini," jelas Alex.
Dengan sigap, Alex memeriksa ponsel Kania dengan seksama.
"Sayang, bagaimana kalau kita ke museum pagaruyuang di Batusangkar?" ujar Alex tiba-tiba.
"Batusangkar?" tanya Kania penasaran.
Kania tidak pernah mendengar nama kota itu, bahkan Alex juga tidak tahu di mana kota itu. Akan tetapi setelah melihat ponsel Kania, Alex langsung saja ingin mengunjungi kota itu.
"Kenapa kita harus kesana, Sayang? Bukankah kita harus mengunjungi makam Siti terlebih dahulu?" tanya Kania heran.
Kania sedikit ragu dengan rencana Alex, bahkan Alex sendiri juga tidak yakin dengan apa yang diucapkan oleh mulutnya tanpa kendali, akan tetapi ia merasa ada sesuatu di Pagaruyung dan Kania akhirnya juga memilih untuk percaya dengan rencana calon suaminya itu, karena satu hal yang Kania yakini kalau Alex pasti mendapatkan petunjuk dari Syamsul.
"Surat di istana Pagaruyuang?" ungkap Kania heran.
"Sayang, kita butuh waktu 3-4 jam menuju Istana Pagaruyung tang ada di Batusangkar itu dari kota Padang."
Alex melihat maps tentang keberadaan istana Pagaruyung.
Istano Basa atau yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung adalah sebuah museum yang terlihat seperti rumah bagonjong, ala rumah adat Minangkau yang berupa replika istana Kerajaan Pagaruyung. Istana Pagaruyung terletak di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Istana ini berjarak lebih kurang 5 kilometer dari Batusangkar. Istana Pagaruyung saat ini menjadi salah satu objek wisata budaya yang terkenal di Sumatra Barat yang menjadi tempat favorit bagi wisatawan lokal maupun manca negara.
"Sayang, apakah mungkin ada surat yang ditulis oleh Siti di istana itu?"
Kania menebak-nebak dan berpikir panjang sembari menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Mungkin saja, Sayang," jelas Alex yang saat ini masih bingung tentang misteri masa lalunya dan Kania.
"Sayang, kok bengong? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kania sembari menatap Alex yang terlihat bengong dan memikirkan sesuatu.
"Sayang, rata-rata masyarakat di Sumatera Barat mengenakan pakaian muslimah dengan hijab sebagai penutup kepala mereka. Bagaimana kalau kita beli pakaian dulu untukmu agar penampilan kita tidak terlalu menonjol," ujar Alex.
Kania merasa apa yang dikatakan oleh Alex itu benar. Keyla memperhatikan sekitarnya dan ia melihat 95% masyarakat di Sumatera Barat mengenakan hijab.
Kania juga melihat beberapa tulisan di geogle, kalau Sumatera Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang menggalakkan pakaian muslimah untuk dikenakan.
"Sayang, kamu benar, kita harus membeli pakaian!" ujar Kania yang sependapat dengan apa yang Alex katakan kepadanya.
Alex kemudian menarik tangan Kania, kemudian membawa gadis cantik itu singgah di sebuah pusat oleh-oleh di Bandara Internasional Minangkabau yang menjual pakaian-pakaian khas dari Sumatera Barat seperti songket dan baju kurung yang merupakan ciri khas dari pakaian orang Minangkabau. Ia ingin sekali mengenakan pakaian yang sama dengan pakaian masyarakat Minangkabau agar terkesan tidak berbeda dari mereka dan menjadi bagian dari mereka. Ya, mungkin saja ini adalah sebuah kerinduan masa lalu yang bisa dilepaskan dengan mencoba berbagai hal termasuk menikmati makanan atau menggunakan pakaian khas asli dari Sumatera Barat yang memang sangat unik dan berbeda dari pakaian daerah lainnya.
"Sayang, pilihlah beberapa buah pakaian untuk kamu kenakan," jelas Alex sembari menunjuk pakaian-pakaian yang tertata rapi.
"Kamu punya uang, Sayang?" tanya Kania memastikan.
Kania melihat bandrol, harga pada pakaian itu termasuk mahal karena memang merupakan pakaian daerah yang dibuat oleh pengrajin Minangkabau. Jika Kania membelinya maka ia takut akan memberatkan Alex.
Alex tersenyum kepada Kania, senyum yang menandakan kalau ia memiliki cukup uang untuk membahagiakan kekasih hati yang teramat sangat disayanginya itu.
"Sayang, jangan khawatir, pilihlah! Atau aku yang memilihkannya untukmu?" tanya Alex.
Kania tersenyum dan mengangguk pertanda ia memang sangat ingin dipilihkan oleh Alex, karena bagi seorang wanita, pilihan dari kekasihnya sangatlah berharga.
Ya, Alex memang sangat sering sekali memilihkan pakaian untuk Kania dan gadis itu juga sangat senang sekali ketika Alex memilihkan pakaian untuknya.
"Sayang, gantilah!"
Alex memilihkan pakaian untuk Kania kenakan, dan meminta kekasih hatinya itu untuk berganti pakaian.
Kania mengambil pakaian yang dipilihkan Alex. Baju gamis modern berwarna coklat susu, namun dengan ciri khas Minangkabau dikenakan Kania dengan memadupadankannya bersama jilbab segiempat berwarna putih polos.
'Masyaallah, adem sekali rasanya mengenakan pakaian tertutup seperti ini,' ucap Kania di dalam hati.
Kania sebelumnya pernah berpikir kalau mengenakan pakaian tertutup seperti itu apalagi dengan mengenakan hijab, pasti rasanya panas sekali. Apalagi dalam keadaan tertutup seperti itu, pasti rambutnya akan rusak. Namun, kenyataannya berbeda, Kania merasakan ketenangan dan kenyamanan dari pakaian menutup aurat yang ia kenakan.
'Apa Alex suka melihat penampilanku seperti ini?' ucap Kania di dalam hati.