WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Salam Perpisahan



"Assalamualaikum, Siti, aku kembali datang," sapa Kania lembut sembari memegang batu nisan makam Siti.


"Siti, aku datang ke masa lalu sebagai Kania bersama Alex setelah kami mengunjungi makam makam mu di masa depan," jelas Kania.


Kania merasa sangat yakin kalau Siti merasakan kehadirannya saat ini.


Kania mengatakan kepada Siti kalau Siti harus hidup tenang dan damai setelah ini, jangan lagi datang ke masa depan atau meminta Kania kembali ke masa lalu karena Kania akan berusaha menjalani hidupnya dengan sebaik mungkin.


"Nak, sudah hampir satu jam kamu mengobrol dengan Siti. Langit juga mulai gelap, kita pulang ya, Nak!" ucap bundo lembut sembari meletakkan tangannya di bahu Kania, yang memanh tidak sadar kalau waktu berjalan begitu cepat.


Kania membalikkan badannya kemudian menatap bundo dengan tatapan kesedihan.


Ya, semua beban yang ada di hati dan pundak Kania telah ia curahkan, namun ada satu kekhawatiran yang ia rasakan, yaitu rasa sedih karena akan berpisah dengan abak dan bundo. Kania berpikir mungkin saja Kania tidak akan pernah lagi bisa bertemu dengan kedua orang tuanya dari masa lalu itu.


Dalam isak tangisan, Kania langsung menjatuhkan tubuhnya ke pelukan bundo. Kania sangat ingin merasakan kehangatan dan kenyamanan pelukan itu, pelukan yang ia rasakan persis seperti pelukan mamanya. Pelukan yang mungkin juga tidak akan Kania rasakan lagi, sehingga Kania ingin menikmati agar ia bisa mengenangnya suatu hari nanti ketika ia merindukannya.


"Bundo, Kania sayang sekali sama Abak dan Bundo," ucap Kania dalam isak tangisnya.


"Bundo juga sangat sayang sekali sama Kania." Suara bunda juga terdengar serak karena menahan air matanya.


Kania menggandeng tangan bundo, berjalan mendekati Alex dan abak yang saat ini tengah duduk di tepi pematang sawah, menunggu Kania dan bundo sembari menikmati pemandangan alam.


"Abak."


Dengan suara lembut, langkah pelan, Kania mendekati abak dengan hati dan perasaan kesedihan.


Kania menyayangi abak seperti ia menyayangi papanya. Bagi Kania abak dan bundo sudah seperti orang tua kandungnya.


"Kania, itukah namamu, Nak?"


Abak langsung memeluk Kania, dan Kania kembali merasakan kasih sayang yang tulus dari lelaki yang sangat disayanginya itu.


"Iya, Abak, namaku Kania dan aku adalah Siti dari masa depan," jelas Kania dengan mata berkaca-kaca.


Kania sangat tahu sekali kalau saat ini abak merasakan kesedihan seperti yang ia dan bundo rasakan juga.


"Nak, yuk kita pulang, kita bisa ngobrol setelah salat magrib," ujar abak sembari melepaskan pelukan beliau dari Kania, karena beliau ingin menikmati waktu lebih lama dengan Kania dan Alex di rumah.


"Iya, Abak, tapi sebelum kita pulang, apa boleh Keyla mengatakan sesuatu?" ucap Kania sembari menatap bundo dengan tatapan penuh harap.


Abak mengangguk sembari menatap wajah cantik Kania yang terlihat anggun dengan balutan jilbab pasmina ala masa depan.


"Abak, Bundo, Kania sayang sama Abak dan Bundo layaknya orang tua Kania sendiri dan Kania merasa sangat bersyukur kembali ke dunia ini dan mengenal Abak dan Bundo."


Kania menghentikan ucapannya untuk sesaat, seolah ia takut apa yang akan disampaikannya nanti malah membuat kedua orang tuanya merasa sakit dan terluka.


"Kenapa wajahmu terlihat sedih seperti itu, Nak?"


Bundo menggenggam tangan putrinya, kemudian menatap Kania dengan dalam, seolah beliau paham kalau putrinya akan menyampaikan sesuatu yang besar kepadanya.


"Abak, Bundo, Kania minta maaf jika selama ini Kania merepotkan Abak dan Bundo. Kania juga minta maaf karena sikap Kania yang mungkin saja melukai Abak dan Bundo. Tapi, satu hal yang pasti Kania sayang sama Abak dan Bundo. Jika Kania kembali ke masa depan dan tidak lagi bisa kembali ke masa lalu, maka Kania akan tetap mengingat Abak dan Bundo dalam hati Kania selamanya," ucap Kania terbata-bata dengan tangisan air mata.


"Sayang, apa maksudnya kamu tidak bisa kembali lagi ke masa lalu, Nak?"


Abak seolah ingin memastikan kejelasan dari apa yang Kania sampaikan barusan.


"Iya, Nak, apa maksudmu?"


Bunda juga seolah menunggu jawaban dari Kania.


"Karena Siti dan Syamsul saat ini sudah tenang dan semua kesalahpahaman telah terselesaikan, mungkin saja tidak akan ada lagi jalan bagi Kania untuk kembali ke masa lalu. Tidak ada lagi Siti yang memanggil dan meminta Kania datang dan mungkin saja urusan Kania di masa lalu telah usai. Jadi, tugas Kania adalah kembali ke masa depan dan menyelesaikan masalah di masa depan," jelas Kania tegas namun dengan lembut dan sopan santun dan wajahnya tertunduk.


"Nak, angkat wajahmu!" pinta abak.


Abak seolah ingin menatap wajah putrinya dengan seksama, sebelum gadis cantik itu benar-benar pergi dan mungkin saja tidak akan pernah kembali lagi.


Dengan pelan Kania mengangkat wajahnya, menatap seksama wajah abak dan bundo secara seksama, wajah yang nantinya pasti akan sangat Kania rindukan, wajah yang tidak ingin Kania lupakan.


"Andai aku bisa membawa Abak dan Bundo ke masa depan, mungkin aku akan membawa keduanya dan meminta keduanya untuk tinggal denganku,' ucap Kania di dalam hati dengan penuh pengharapan.


"Kania, bagaimana kalau kita foto bersama dengan Abak dan Bundo?" usul Alex tiba-tiba di sela-sela pembicaraan Kania dengan kedua orang tua Siti.


"Kamu benar, Alex, ponsel ini akan berfungsi di masa lalu dan di masa depan. Kalau begitu apa aku boleh meninggalkan ponselku di sini?" ujar Kania bersemangat.


Alex mengangguk pertanda setuju, dan Kania nantinya bisa mengajarkan abak dan bundo menggunakan ponsel itu termasuk cara melakukan panggilan video.


"Bundo, Abak, kita bisa berkomunikasi dengan alat canggih ini setiap hari, jadi Kania berharap Abak dan Bundo mau menerima hadiah kecil ini dari Kania," ucap Kania lembut dengan senyuman.


"Apakah ini adalah benda sulap, Nak?" ucap bundo takjub.


Kania berharap ponsel yang ia miliki tetap bisa berfungsi meskipun ia tidak lagi ada di masa lalu, dengan begitu Kania masih tetap bisa berkomunikasi dengan kedua orang tuanya di masa lalu.


Kania tahu, mungkin saja semuanya mustahil, tapi bagi Kania tidak ada salahnya untuk mencoba.


"Nak, kita bicara di rumah saja ya, setelah salat magrib kita makan malam bersama sekalian ngobrol," ucap abak.


Abak terlihat penasaran dengan ponsel itu, namun langit mulai gelap dan abak adalah orang yang tidak ingin sekali kalau salatnya dilalaikan. Bagi abak salat adalah tiang agama dan sebagai imam di dalam keluarga sudah sepantasnya abak mengingatkan keluarganya untuk tidak melanggar perintah Allah.


"Yuk, Nak!" ajak bundo.