
“Bundo, maaf, Bundo,” jawab Kania sembari membasuh air matanya.
“Nak, ikhlaskanlah kepergian Alex juga ke masa depan, doakanlah dia. Mendoakan jauh lebih baik dari pada menangisi bukan?” bundo terlihat berusaha menenangkan dan menghibur Kania.
Bundo kasihan kepada Kania, namun ia juga bersyukur karena Keyla masih berada di masa lalu beraama beliau.
“Iya, Bundo, terima kasih banyak karena bunda telah memberikan Kania nasehat, Kania merasa tidak sendirian sekarang.”
Kania bersyukur karena ada bundo yang menguatkannya disini. Ya, bundo ternyata sedari tadi mengikuti kemana Kania akan pergi, sehingga ketika Kania hilang arah, bundo langsung ada di dekat Kania.
Kania merasa kalau bundo adalah malaikat yang dikirimkan oleh Allah untuk menjaganya, melindungi dan memberikan kebahagiaan kepadanya. Namun, Kania masih sangat bingung, sampai kapan ia akan terjebak di masa lalu dan hidup seperti ini.
Kania juga merasa sangat menyesal, karena ia selalu menunda-nunda pernikahannya dengan Alex, hingga ia dihadapkan pada masalah rumit seperti ini lagi.
"Apa yang harus Kania lakukan sekarang, Bundo?"
Kania menggenggam tangan bundo dan menatap wajah bundo dengan seksama, Kania membutuhkan sarab dari bundo, berharap bundo akan memberikan solusi terbaik untuk masalahnya.
Bundo diam dan tidak melakukan apa-apa selain memeluk Kania, karena bundo juga tidak tahu akan melakukan apa-apa.
"Kania, kamu dimana, Nak? Tolong Papa, Nak! Pulanglah, kembalilah, Sayang!"
Seperti bercampur, dunia masa lalu dan masa depan terasa berdampingan. Ya, ini tidak pernah terjadi, akan tetapi saat ini Kania bahkan bisa mendengar rintihan dari masa depan dari papanya.
"Apa yang harus kulakukan kepada Papa sekarang?"
Kania mengacak-acak kepalanya, hingga jilbab yang ia kenakan menjadi kusut. Kania benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Kalut!
Otak Kania sudah tidak lagi bisa melakukan apapun untuk memikirkan cara terbaik.
"Kania, Sayang, sudah!"
Kania merasakan tangan bundo tengah menggenggam tangannya dengan hangat, penuh cinta dan kasih sayang yang sangat tulus. Bundo terlihat sangat tidak ingin Kania menyalahkan diri sendiri bahkan sampai menyakiti diri sendiri, karena bundo sangat paham kalau Kania sedang mengalami rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya.
"Kania mendengar suara Papa dan saat ini beliau tengah membutuhkan bantuan Kania tapi Kania malah berada disini dan tidak bisa membantu Papa, Bundo," ucap Kania dengan nada suara serak, seperti orang yang tengah menahan tangisnya.
"Bundo paham bagaimana perasaanmu, Nak, tapi kita tidak bisa melakukan apa-apa selain berdoa," ujar bundo menyemangati dan menenangkan Keyla, gadis cantik kesayangannya.
Bagi bundo, baik Siti putrinya ataupun Kania yang datang dari masa depan, sama saja karena bundo telah menganggap putrinya. Namun, tidak ada yang dapat beliau lakukan sekarang selain menghibur Kania karena semua yang terjadi saat ini juga diluar batas kemampuan bundo sebagai manusia.
"Kania ingin tahu jalan kembali ke masa lalu karena itu akan memudahkan kita semua, Bundo," ujar Kania bersemangat.
Kania menatap bundo, seolah apa yang dikatakan oleh bundo benar adanya.
***
Sementara itu Alex mendapati dirinya tengah berada di masa depan, tengah tertidur di ruangan OSiS yang biasanya menjadi tempat ternyamannya di sekolah ketika jam istirahat bersama dengan Kania.
'Kenapa aku tiba-tiba berada disini?' ujar Alex di dalam hati dengan rasa penasaran yang ia bawa bersamanya. Alex bahkan merasa sangat heran dan tercengang karena ia merasa baru saja berada di masa lalu bersama Kania, dan mereka sekarang sedang berada di Padang, Sumatera Barat, namun tiba-tiba saja ia berada di Jakarta sendirian, bahkan ia bukan di apartemen tapi malah sedang tidur di sofa yang terdapat di ruang OSIS di sekolah mereka.
"Kania kamu dimana? Kania, apa yang sebenarnya terjadi? Sayang!"
Alex berteriak kemudian memperhatikan kesekitarnya dan akhirnya sadar, kalau sudah tidak ada Kania disini sehingga ia mulai khawatir dan panik sekali.
Alex mencoba bangkit dari tempat duduknya, dengan bergegas ia berjalan ke ruang kerja OSiS, dimana Kania sering duduk disana, berharap gadis cantik yang merupakan sekretarisnya di sekolah itu saat ini ada di ruang kerjanya.
"Sayang, kamu dimana? Apakah kamu masih berada di masa lalu? Apa yang sebenarnya terjadi? Maafkan aku, Sayang, aku tidak menepati janji kita," ucap Alex sembari mengacak-acak rambutnya dan menyalahkan dirinya sendiri.
Alex meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Kania, namun tidak ada jawaban apapun dari Kania hingga membuat Alex sangat panik sekali.
Alex kemudian duduk di meja kerja Kania yang terasa sangat empuk itu sembari membayangkan masa-masa indahnya dengan Kania ketika di ruangan OSIS ini.
"Sayang, apakah kamu ingat keseharian kita di ruangan ini? Sungguh, aku sangat merindukanmu, Kania," ujar Alex dengan nada suara lemah dan mata yang berkaca-kaca.
Kehadiran Kania di kantor benar-benar memberikan warna di hidup Alex, sehingga Alex berjanji akan memenuhi apapun yang menjadi keinginan Kania, bahkan ia ingin sekali membahagiakan Kania dan menuruti semua kemauan dan harapan Kania.
Bagi Alex, Kania adalah segalanya dan Kania adalah wanita yang ingin ia muliakan seperti seorang ratu dan satu-satunya ratu di dalam hatinya yag tidak akan pernah ia sia-siakan seumur hidupnya.
Kania ingat saat pertama kali ia merayakan ulang tahun ketua di ruangan OSIS ini. Ia memberikan kejutan kepada Kania dimana awalnya ia membuat gadis itu cemburu dengan kedekatannya bersama gadis-gadis di sekolah. Ya, Kania memang gadis paling cantik di sekolah tapi Alex juga lelaki paling tampan dan populer di sekolah bahkan ia ketua OSIS, jadi banyak cewek-cewek yang mengincarnya dan ingin dekat dengannya hingga membuat Kania merasa sangat cemburu walaupun sebenarnya hati Alex hanya milik Kania seorang.
"Sayang, kamu nggak mau membuka kado dariku?" goda Alex ketika mengulurkan kado ulang tahun untuk Kania yang sedang manyun karena kesal dengan Alex.
"Nggak!" jawab Kania singkat.
"Nggak boleh menolak rezeki, Nia," bujuk Alex dengan senyum tipis yang terlihat sangat manis. Bahkan Kania sebenarnya sangat luluh dengan senyum itu, tapi ia memilih untuk jual mahal dan mempertahankan keegoisan dan harga dirinya, tapi Alex ingin membuat Kania bahagia, agar ia tersenyum dan tidak merajuk lagi dengan gombalan yang keluar dari lisannya.
"Sayang, apakah kamu tahu kalau dari seluruh wanita yang ada di dunia ini hanya kamu yang aku cintai?" goda Alex sembari berbisik di telinga Kania.
"Gombal!" ucap Kania dengan nada suara lemah karena ia sudah tidak sanggup lagi marah kepada Alex yang membuatnya seolah melayang ke udara karena gombalan.
"Kamu tidak percaya? Kamu bisa membelah dadaku, Sayang!"