WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Perpisahan Tersedih



Bundo semakin penasaran dengan masa depan dan cerita dari masa depan itu.


"Bundo, masa depan itu sungguh jauh berbeda sekali dari masa lalu. Akan tetapi, masa depan itu bukan surga karena di masa depan juga ada orang jahat dan licik seperti disini, bahkan lebih berbahaya dari pada disini," jelas Kania.


Kania kemudian memperlihatkan kepada bundo tentang kehidupannya di masa depan, semua kemewahan hidupnya bahkan semua kemewahan yang ada di masa depan.


"Masyaallah, mewah sekali," ucap bundo takjub dengan mulut menganga dan mata melotot, karena beliau tidak menyangka bahwa dunia yang beliau lihat adalah dunia yang beliau bayangkan seperti surga.


"Apakah semua manusia di masa depan hidup bahagia tanpa kekurangan harta, Nak?"


Pertanyaan klise yang mungkin saja akan ditanyakan oleh siapapun dari masa lalu ketika melihat kemewahan dan kesempurnaan masa depan.


Ya, mungkin kalau aku di posisi bundo, Kania juga akan berpikir dan menanyakan hal yang sama, walaupun kenyataannya kemewahan dan kesempurnaan itu membuat seseorang semakin haus akan harta hingga rela melakukan apa saja demi mendapatkan uang.


"Bundo, di masa lalu maupun masa depan sama saja, ada orang baik dan orang jahat, ada orang kaya dan ada orang miskin, hanya saja pada masa depan manusia jahat akan semakin kejam ketika ia dihadapkan pada kekayaan dan harta yang bergelimang, ia bahkan mampu membeli harga diri seseorang dengan uangnya," jelas Kania.


"Apakah di masa depan ada orang yang bersikap jahat seperti itu kepadamu, Nak?"


Bundo terlihat memastikan bahwa tidak ada orang yang akan menyakiti hati dan perasaan Kania.


Kania menggeleng, ia merasa tidak mungkin jujur kepada bundo tentang om Galih yang ingin menikahinya dan yang lebih sadisnya lagi papanya yang menjualnya kepada si tua bangka hanya demi uang, harta dan kehormatan. Kania tidak ingin membuat bundo sedih jika mengetahui hal buruk dan malang seperti itu menimpa dirinya, bahkan apa yang terjadinya lebih sadis dari pada apa yang dialami oleh Siti.


"Syukurlah, Nak, Bundo merasa sangat senang mendengarnya," ucap bundo dengan senyuman merona yang terlihat benar-benar sangat meneduhkan dan menawan kala dipandang.


"Bundo, Kania berharap Abak, Bundo, dan Siti bisa senang dan berbahagia," ucap Kania dengan senyum kebahagiaan.


Kania berharap orang-orang yang ia sayang di masa lalu bisa hidup tenang dan damai karena kehidupan Kania di masa depan juga sudah bahagia.


"Iya, Nak, kami akan berbahagia, tapi Bundo penasaran akan sesuatu," ucap bundo dengan wajah yang terlihat malu-malu.


"Apa, Bundo?"


Kania sedikit heran dengan reaksi bundo yang berbeda dengan biasanya. Ya, ada sedikit rasa penasaran di hati Kania kepada orang tuanya yang berasal dari masa lalu itu.


Bunda tersenyum tipis dengan wajah yang terlihat merona.


"Apakah Abak dan Bundo ada di masa depan?"


Wajah bundo terlihat malu-malu dengan rona wajah memerah.


Kania juga tersenyum malu karena ia merasa kali ini sikap bundo sangat lucu dan menggemaskan bagi Kania.


"Bundo, Kania belum melihat orang yang mirip dengan Abak dan Bundo," ujar Kania dengan senyuman tanpa menyinggung hati dan perasaan bundo.


Kania juga tidak tahu siapakah orang yang beruntung memiliki abak dan bundo sebagai orang tuanya, namun satu hal yang pasti, siapapun yang berhasil menjadi anak dari abak dan bundo akan menjadi anak yang sangat bahagia karena akan dicintai dan disayangi oleh orang tua yang sangat baik dan tulus seperti abak dan bundo.


"Sayang, itu lelaki yang mirip Syamsul itu, siapa namanya?"


Bundo terlihat mengingat-ingat nama Alex yang memang sangat asing di telinganya.


"Alex, Bundo," jawab Kania dengan lembut.


Bundo dan Kania tiba-tiba melihat pemandangan yang tidak biasa, keduanya dibuat takjub dan terpesona dengan keakraban Alex dan abak. Dua orang yang terlihat sangat akrab itu tengah menatap kuburan Siti dengan air mata yang jatuh membasahi pipi mereka.


"Kania, ternyata lelaki yang bernama Alex itu benar-benar lelaki yang baik, Nak," ucap bundo lembut sembari menatap wajah Kania dengan rona wajah yang berbinar-binar.


Bundo sepertinya melihat ketulusan di hati Alex, dan terlihat sekali kalau Alex sangat tulus. Ya, lelaki itu memang telah berjanji akan menjadi versi terbaik dan akan membahagiakan kekasih hatinya jika ia diberi kesempatan untuk hidup kembali di masa depan.


"Iya, Bundo, Kania juga merasakan ketulusan dari lelaki itu."


Kania juga menceritakan kepada bundo kalau ia akan menikah dengan Alex, jika mereka telah kembali ke masa depan. Kania mengatakan kalau ia tidak akan lagi menunda untuk menikah dengan kekasih hatinya itu.


Bundo senang melihat senyum yang tergambar jelas dan terlihat sangat indah di wajah Kania. Rasanya bundo seperti melihat senyum putri kesayangannya, Siti.


Bundo merasa kalau putrinya terlihat semakin cantik ketika ia bahagia dan tersenyum semanis itu.


"Kania, yuk kita temui Siti!"


Bundo menarik tangan Kania dan membawa Kania menemui Siti dan bertemu dengan Alex dan abak.


"Assalamualaikum, Siti," sapa Kania kepada Siti.


Kania terus berjalan mendekati makam Siti, ia meneteskan air mata kesedihan, air mata kerinduan dan air mata penyesalan dan rasa bersalah karena tidak bisa mewujudkan keinginan Siti. Ya, yang bisa Kania lakukan sekarang adalah memberikan salam terakhir dan salam perpisahan kepada Siti.


"Siti, aku datang ke masa lalu dan aku mengunjungi makammu bersama dengan kedua orang tua kita," ucap Kania dengan nada suara sedih.


Kania mendekati makam Siti dengan langkah kaki lemah dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


Kini terlihat semua orang tengah memberikan kesempatan kepada gadis cantik itu untuk mengungkapkan semua perasaan yang ia rasakan di hatinya.


Ya, setelah Alex mengungkapkan isi hatinya, sekarang giliran Kania yang melakukannya.


Kania berharap, setelah ini tidak ada lagi masalah yang datang dari masa lalu, tidak ada lagi penyesalan dan air mata kesedihan sehingga Kania bisa menjalani masa depan yang lebih baik.


Kania sangat yakin kalau dalam hidup itu pasti ada masalahnya, tugas kita sebagai manusia adalah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Andai Allah memberikan sesuatu tidak sesuai apa yang kita harapkan sementara kita telah berusaha maksimal maka itu adalah takdir namanya, dan percayalah bahwa takdir Allah itu adalah yang terbaik, karena Allah tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hamba-hambaNya.