WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Indahnya Berbagi



Sungguh, ucapan yang keluar dari lisannya anak-anak, seperti sebuah hiburan yang dapat menenangkan hati dan perasaan Kania.


"Aamiin ya Allah, terima kasih banyak ya adik-adik semua. Doa yang sama juga Kakak dan Mas panjatkan untuk kalian," balas Alex dengan senyum terbaiknya.


"Kakak dan Mas pacaran ya? Apa nanti akan menikah?"


Pertanyaan anak-anak membuat Kania dan Alex merasa grogi dengan jantung yang berdebar sangat kencang.


Wajah keduanya memerah dan mereka berdua saling tersipu malu.


"Kakak, Mas, jawab dong! Kami penasaran dan kami sudah tidak sabar menunggu adik nanti menunggu kabar dari kalian berdua," timpal yang lainnya.


Alex kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum kepada anak-anak itu.


"Hari ini Mas akan melamar Kakak Kania, kebetulan Mas sudah menyiapkan cincin untuk melamarnya, walaupun kami menikahnya suatu hari nanti. Jadi, doakan semoga Kakak Kania mau menerima cinta Mas ya!"


Alex terlihat berani mengungkapkan perasaannya di depan banyak orang.


Tanpa basa-basi lagi, Alex mengeluarkan cincin untuk melamar Kania, kemudian bersujud di depan gadis yang sangat dicintainya itu. Ia ingin mengikat Kania, agar setelah tamat SMA keduanya bisa menikah.


"Sayang, ini adalah kado dan kejutan yang aku katakan sebelumnya kepadamu. Cincin ini adalah cincin milik kedua orang tuaku, cincin yang digunakan oleh Ayah ketika melamar Ibuku," jelas Alex sembari menatap Kania yang saat ini yanya diam sembari menatap kekasihnya yang bersujud di depannya.


"Sayang, aku tahu ini bukanlah cincin berlian yang harganya mahal. Ini juga cincin yang tidak sesuai dengan harapan dan kepribadianmu. Akan tetapi, ketahuilah Kania, kalau cincin ini adalah sesuatu yang sangat berharga bagiku. Jadi, maukah kamu menikah denganku?"


Alex bersikap sangat romantis dan manis, seperti seorang pangeran yang melamar putrinya dalam cerita-cerita dongeng.


Kania terpukau dan terpana dengan perjuangan dan semangat yang tanpa henti kekasihnya untuk melamarnya selalu. Lelaki yang dengan sabar masih menunggu Kania walaupun Kania selalu menolak dan menunda-nunda waktu untuk menjadi kekasih Alex sejak lama.


"Kania, Sayang, anak-anak dan semua orang yang ada di panti asuhan ini menjadi saksi betapa aku teramat sangat mencintamu dan serius ingin menjadi suami mu. Kamu mau 'kan menjadi istriku?"


Dengan penuh harap, Alex mengungkapkan semua isi hatinya kepada Kania dengan tulus.


"Terima ..., terima ..., terima ...!"


Seluruh anak-anak bersorak dan mendukung Alex dan Kania untuk segera meresmikan hubungan mereka.


"Nak Kania, niat baik jangan ditunda-tunda. Jika memang kalian berdua saling mencintai maka kalian berdua harus meresmikan hubungan kalian, segeralah menikah dan resmikanlah pernikahan kalian," sela ibu penjaga panti asuhan yang juga sangat mendukung hubungan Kania dan Alex segera diresmikan.


"Kania, mau 'kah kamu menikah denganku?" tanya Alex sekali lagi.


Kania berpikir sejenak, ia sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran Alex karena masalah yang ia hadapi saat ini tidak bisa dihadapinya sendiri. Ia butuh teman dan butuh sandaran yang akan menjaga dan melindunginya. Apalagi jika om Galih bersikeras ingin menikah dengannya, maka Kania lebih baik kawin lari dengan Alex.


"Sayang, kamu mau kan menikah denganku?"


Rasanya dada Alex benar-benar sangat sesak ketika menunggu jawaban dari lisan Kania. Akan tetapi gadis itu tetap terlihat sangat santai, ia tidak mengeluarkan kata-kata apapun kecuali anggukan.


Kania tersenyum kepada Alex dengan wajah yang memerah dan tersipu malu.


"Serius kamu mau menikah denganku?" Alex berdiri dan menatap mata Kania dengan seris, ia terlihat ingin memastikan kalau saat ini ia tidak salah dengar.


"Iya," jawab Kania singkat.


Alex langsung memasangkan cincin milik ibunya di jari manis Kania, dan memasang cincin milik ayahnya di jarinya sendiri.


Sungguh, tidak ada yang lebih membahagiakan bagi Alex selain bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintai dan diharapkannya.


"Alhamdulillah, akhirnya selangkah demi selangkah jalan menuju kebaikan mulai terbuka. Jadi, setelah ini kalian berdua aturlah hari baik itu, segerakanlah dan jangan ditunda-tunda lagi! Jika kalian telah tamat SMA, segeralah menikah!" nasehat ibu pengurus yayasan.


"Terima kasih, Bu, insaallah akan kami segerakan," jawab Alex ramah dan sopan.


Untuk beberapa saat suasana di panti asuhan beruhah menjadi kebahagiaan dan senyuman. Semua orang yang ada di panti asuhan menikmati makan bersama dan mencicipi berbagai macam hidangan enak yang dibawa oleh Kania dan Alex. Acara silaturahmi di panti asuhan lebih terlihat seperti hajan dan syukuran lamaran Alex dan Kania.


Senang!


Happy!


Bahagia yang teramat sangat yang dirasakan oleh Kania dan Alex ketika mereka bisa berbagi dengan sesama, apalagi kepada mereka yang membutuhkan.


'Masyaallah, rasanya benar-benar bahagia,' ucap Kania di dalam hati.


Kania tersenyum ketika melihat wajah-wajah bahagia dari anak-anak yang mendapatkan berbagai macam makanan yang menjadi kesukaan mereka.


"Kak Kania, rasanya sudah lama sekali Kakak tidak bernyanyi untuk kami. Mau 'kah Kakak menyanyi untuk kami?" ucap salah seorang anak yang mewakili anak-anak yang lainnya.


"Ayolah, Kak, kami benar-benar rindu dengan suara Kakak yang sangat merdu itu," timpal yang lainnya.


Semua anak terlihat sangat antusias untuk mendengarkan Kania bernyanyi dan menghibur mereka.


"Salawat lebih utama dari pada bernyanyi, Nak!" Terngiang-ngiang oleh Kania pesan bundo ketika Kania bersebandung di kamarnya saat berada di masa lalu.


'Apakah aku bersalawat saja dengan irama?' batin Kania.


Kania sangat ingin sekali menghibur anak-anak agar senyum dan keceriaan tergambar jelas di wajah anak-anak itu. Ya, setidaknya ia bisa menghibur mereka dengan kemampuannya karena saat ini Kania sudah tidak lagi memiliki harta benda.


"Sayang, hiburlah anak-anak ini!"


Alex meminta Kania dengan ramah sembari memberikam senyuman terbaiknya kepada kekasih hatinya itu.


Kania akhirnya bernyanyi, tapi bukan menyanyikan lagu-lagu pop seperti yang biasa ia nyanyikan sebelumnya, tapi nyanyian salawat yang meneduhkan dan menentramkan jiwa.


"Masyaallah Tabarakallah, merdu sekali suara Kak Kania ketika bersalawat," puji salah seorang anak mewakili yang lainnya yang terlihat memandang takjub kepada Kania.


"Terima kasih banyak, Sayang, Kakak banyak kekurangan bahkan pelafazannya sangat jauh sekali dari kata sempurna," ucap Kania merendah.


Akan tetapi semua anak-anak malah meminta Kania kembali bersalawat untuk menghibur mereka.


"Adik-adik, sudah dulu ya! Insaallah, kapan-kapan Kakak akan mampir lagi kesini lebih lama. Untuk sekarang Kakak tidak bisa lama-lama karena Kakak dan Mas akan segera pergi keluar kota untuk mengurus sesuatu," jelas Alex mewakili Kania.


Seperti seorang manajer yang mengatur jadwal Kania dengan sangat baik.