WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Bantuan Datang



Kania terus menjauh beberapa langkah, namun ia mendengar degup jantung yang bergetar sangat hebat dari dada lelaki yang tidak lain adalah kekasihnya itu.


Kania menatap wajah Alex yang terlihat tanpa penuh dengan sejuta tanda tanya itu.


"Sayang, aku tahu kita sering melakukan hal ini sebelumnya, tapi satu hal yang telah aku pelajari beberapa hari yang lalu kalau wanita dan pria yang belum menikah tidak boleh saling menyentuh apalagi melakukan hal yang lebih dari itu," jelas Kania.


'Wah, Siti, ternyata kamu mengontrolku dan menjagaku dari dosa yang dilarang oleh agama islam,' ucap Kania di dalam hati karena Kania paham kalau sikapnya saat ini karena campur tangan Siti.


"Kania, Sayang, aku tahu ini salah makanya aku mengajakmu menikah! Kita bisa melakukan pestanya setelah semua masalah selesai, kita bisa akad nikah saja terlebih dahulu tanpa diketahui oleh Pak Galih. Jadi, kita berdua terbebas dari dosa dan kita juga mengecoh Om Galih," ujar Alex enteng tanpa berpikir panjang.


Kania tahu dan sangat paham dengan keinginan Alex yang ingin menikah dengannya, ia juga mengharapkan hal yang sama. Akan tetapi, Kania ingin pernikahannya sakral, jadi ia ingin pernikahannya sekali seumur hidup dengan pesta meriah, tentu saja dengan restu orang tuanya, tanpa ada yang disembunyikan, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


"Sayang, aku tidak ingin menikah seperti itu," ucap Kania dengan raut wajah yang terlihat sangat sedih dan kecewa.


"Iya, Sayang, ya sudah kalau itu yang menjadi keinginan hatimu, maka aku akan menyerahkan semuanya keputusannya kepadamu. Tapi, izinkan aku sebentar saja memelukmu," pinta Alex manja.


"Maaf, Sayang, bukankah sudah aku katakan kalau kita berdua tidak mukhrim," tolak Kania.


Kania kemudian berlari dan menghindar dari Alex, namun Alex mengejarnya, sehingga terjadilah adegan kejar-kejaran di Monas seperti yang terdapat dalam film-film India.


"Siti, apakah kamu melihat kalau lelaki itu teramat sangat mencintaiku dan rela melakukan apa saja untuk kebahagiaanku," ujar Kania di dalam hati.


Kania menatap bangunan Monas dengan seksama, ia ingin Siti menikmati pemandangan indah Monas. Kania juga berharap ada sebuah petunjuk yang Siti tinggalkan untuk mengatasi masalah yang tengah mereka hadapi saat ini.


"Kania, Sayang, kamu lagi ngapain sih?" tanya Alex yang saat ini tengah berada di depan Kania dan membuyarkan lamunan gadis cantik itu


"Sayang, udah dong, aku benar-benar sangat capek sekarang!" ujar Kania.


Kania tidak ingin lagi main kejar-kejaran sama Alex.


"Ehhhmmm," kini lelaki itu mendehem, hingga membuat Kania langsung menjauh beberapa langkah darinya.


"Nona Kania, kamu kenapa lari-lari gitu, seperti anak kecil," ucap seseorang yang terdengar gugup dan kaku.


Kania membalikkan badannya, ternyata ia hampir saja menabrak pak Adrian salah satu rekan bisnis papanya.


"Maaf, Pak, saya berasa di kejar sama Alex," ucap Kania tertunduk.


"Kania, kamu mau berlindung darik di balik Pak Adrian ya," ucap Alex karena saat ini pak Adrian memang berada di depan Kania untuk menutupi tubuh Kania dari Alex.


"Alex, udah! Berhenti sekarang, kalian berdua jangan kayak anak kecil gitu!" ucap pak Adrian tegas kepada dua orang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.


"Iya, Pak, maaf," jawab Kania lembut dan wajahnya pun kini tertunduk.


"Alex, ngapain kamu disana? Cepat kesini!" teriak pak Adrian sembari melambaikan tangannya ke arah Alex.


Alex berjalan mendekat ke arah Kania dan pak Adrian dengan senyuman cerianya.


"Pak Adrian," sapa Alex agak gugup dan sedikit malu.


"Kalian ngapain sih berkeliaran di sekitar Monas begini? Mau prewedding?" tanya pak Adrian.


"Kania, Alex, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya pak Adrian sekali lagi.


"Alex masak ngajak saya nikah cepat, 'kan nggak lucu. Saya kan ingin pernikahan mewah seperti dalam film disneyland," jelas Kania dengan wajah yang terlihat kesal.


"Ah, dari pada kalian ribut, bagaimana kalau kita makan dulu. Kalian berdua temenin saya piknik di salah satu restoran dengan menyajikan pemandangan seperti tengah piknik," jelas pak Adrian.


Baik Kania maupun Alex tidak bisa membantah, mereka terpaksa harus menurut karena bagaimana pun juga mereka berdua ingin meminta bantuan dan ingin bekerjasama dengan pak Adrian.


Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya sampailah mereka di tempat yang di tuju.


"Kania, Alex, kalian berdua saya mintak tolong untuk membakar ikan yang siap saya pancing ini. Katanya ikan pancingan rasanya akan sangat enak dibakar walaupun tanpa bumbu karena dadingnya masih segar dan manis," jelas pak Adrian sembari memberikan ikan nila yang baru saja ia pancing dan langsung mengena.


"Oke," ucap Kania dan Alex serentak.


Kedua orang yang sedang mengambil hati pak Adrian itu langsung berlari meninggalkan pak Adrian untuk membakar ikan itu.


"Kania, tunggu!" sorak Alex yang berlari menyusul Kania.


Kania dan Alex meminta para palayan untuk membantu membersihkan ikan dan mempersiapkan kayu dari ranting-ranting pohon yang telah mengering untuk membuat bara api.


Sementara itu, Kania dan Alex tengah membersihkan tempat ikan bakar.


"Kaniaa cantik cepat sini! Kamu bantuin bakar ikannya ya," ucap pak Adrian melambaikan tangannya kepada Kania.


"Oke, Pak," jawab Kania ramah dan terdengar sangat sopan.


Ikan pun dibakar secara alami tanpa bumbu apapun. Setelah ikannya matang, mereka menikmati bersama-sama. Memang benar adanya ikan ini terasa manis dan enak walaupun tanpa bumbu apapun.


"Kania, Alex, besok kan kalender merah, bagaimana kalau kita nginap saja disini? Saya sudah memesan penginapan juga, jadi kita bisa sekalian membahas bisnis," usul pak Adrian yang terlihat bersemangat.


"Benar juga kata Pak Adrian, Sayang, sudah lama juga kita nggak liburan seperti ini," ucap Alex setuju.


"Benar, Lex, saya juga setuju. Kapan lagi kita bisa nginap di tempat piknik seperti ini, mumpung kita lagi libur sekolah juga," balas Kania bersemangat.


"Saya setuju," sela pak Adrian bersemangat.


"Karena semua telah setuju, sekarang kita akan menikmati makanan dulu," keputusan ada di tangan Kania," ujar pak Adrian.


"Yeeee..., akhirnya bisa menikmati pemandangan ala kampung disini," ucap Kania bersorak kegirangan sembari melompat-lompat karena bahagianya.


"Kamu kurang piknik ya, Nia?" tanya pak Adrian mengejek Kania. Ya, saat santai seperti ini mereka berbicara tidak formal dan sudah seperti orang tua dan anak.


"Emang, masalah buat Bapak?" ucap Kania membenarkan sembari mencibir ke pak Adrian.


Seperti Kania, Alex juga pasti jaang sekali berlibur seperti ini, hari-harinya selalu berkutik dengan pekerjaan. Tidur bukan lagi nikmat bagi mereka tapi hanya sebagai pelepas ngantuk saja.


"Kania, Alex, apa ada hal yang akan kalian ceritakan kepada saya? Mungkin saya bisa membantu kalian," ucap pak Adrian memulai pembicaraan antara mereka.