
Alex merasa ada lampu merah dari papa Haris atas hubungannya dengan Kania, hingga ia merasa bersemangat dan semakin ingin berusaha keras dan maksimal.
"Saya belum memberikan lampu hijau untuk hubungan kalian berdua, saya hanya menyuruh kalian berdua berusaha keras dan maksimal agar kalian berdua pantas untuk menikah, karena menikah bukan perkara mudah, bukan cuma sehari dua hari saja, butuh kesiapan mental lahir dan batin," jwlas papa Haris sembari berjalan mondar-mandir seperti kendaraan lewat.
"Pa, terima kasih banyak karena Papa telah memberikan Kania dan Alex kesempatan," ujar Kania dengan senyuman.
Kania sangat tahu bagaimana kerasnya papanya apalagi masalah hati dan perasaan, tapi jika papanya telah memberikan kesempatan maka itu artinya ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada larena sejatinya itu adalah sebuah lampu hijau yang tidak boleh ia sia-siakan.
"Kania, Om Galih masih hidup dan saat ini ia sedang mencarimu, jadi kamu jangan bersenang hati dulu," ucap papa Haris memperingatkan.
Kania merasa sangat dihargai dan dihormati oleh papanya, karena sang papa tidak langsung menjualnya tapi mendiskusikan terlebih dahuli dengannya agar ia bisa bersiap untuk mencari jalan keluar terbaik.
"Om, saya yakin desain-desain saya akan menguntungkan perusahaan sehingga perusahaan Om bisa membayar semua hutang-hutang ke Pak Galih," sela Alex dengan penuh percaya diri.
"Kamu benar-benar memiliki nyali, Alex," ucap papa Haris sembari menantang mata Alex dengan tajam.
Bagi seorang pengusaha dan pebisnis, nyali adalah yang terpenting dan paling diutamakan dan itu semua sudah ada pada diri Alex.
Sejujurnya papa Haris sangat kagum dan memuji Alex, namun ia tidak ingin memperlihatkannya terlalu dini karena itu akan membuat Alex besar muka dihadapannya.
"Kamu tidak usah banyak berbicara, Alex, buktikan saha kalau semua yang kamu ucapkan bukam omong kosong dan mimpi belaka," ujar papa Haris.
"Baik, Om, kalau begitu, apa saya boleh memita kertas lagi, Om?"
"Tentu saja boleh, saya akan memberikan sebanyak yang kamu inginkan asalkan kamu tidak mengecewakan saya."
"Pa, tapi Alex masih sakit, tidak bisakah Alex melakukannya nanti, Pa?" sela Kania yang tidak ingin hal buruk terjadi kepada kekasih hati yang sangat ia cintai dan sayangi dengan segenap hati dan perasaannya.
"Sayang, tenang aja, aku tidak apa-apa kok, aku bisa," balas Alex dengan memberikan senyum manisnya kepada Kania karena ia memang sangat bersemangat untuk membuktikan keseriusannya.
"Alex aja tidak apa-apa kok, Nak, jadi kamu jangan terlalu khawatir karena Alex adalah anak laki-laki, kalau ia ingin menjadi suamimu maka ia harus siap juga memberikan nafkah dan harus bertanggung jawab sama kamu, Sayang."
"Tapi kamu masih sakit, jangan memaksakan diri, kamu bisa menggambar lagi setelah kamu beristirahat sebentar," ujar Kania dengan rasa khawatir yang ia bawa bersamanya.
Alex sangat tahu kalau Kania akan terus cerewet dan tidak akan diam sama sekali jika Kania tidak menuruti keinginannya. Papa Haris juga sangat paham dan mengerti sekali bagaimana keras kepalanya sang putri.
"Baiklah, Sayang, aku akan beristirahat asalkan kamu juga tidur ya," ucap Alex sembari membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Alex memasang selimut kemudian memiringkan wajahnya menatap ke arah Kania karena ia ingin menatap kekasih hatinya itu.
Ya, Kania senang karena Alex menuruti keinginannya, dan karena pengaruh obat yang mereka minum akhirnya keduanya terlelap dalam waktu yang hampir bersamaan.
"Suster, jaga anak-anak saya, jangan sampai siapapun masuk ke ruangan ini tanpa izin saya," ucap papa Haris sembari berjalan meninggalkan Kania dan Alex.
"Baik, Tuan."
Papa Haris keluar dari kamar menuju ruang tamu dimana ada Gunawan di sana.
"Gunawan, saya harus ke kantor sekarang," ucap papa Haris dengan wajah datar namun terlihat sekali kalau beliau sedang menanggung beban yang sangat berat sekali saat ini.
"Tuan, yuk kita berangkat!"
Gunawan berdiri dari tempat duduknya, ia sadar dan tahu betul dengan tugas dan kewajibannya sebagai seorang sekretaris dan orang kepercayaan papa Haris.
"Tidak, kamu disini saja, tolong jaga anak-anak karena saya tidak ingin ada sesuatu yang buruk yang terjadi selama saya tidak ada," ujar papa Haris.
Papa Haris memiliki keraguan di dalam hatinya, ia takut jika Galih datang kembali ke rumahnya untuk mengambil putri kesayangannya, hingga ia membutuhkan bantuan Gunawan untuk menjaga putrinya dan melaporkan apapun yang terjadi kepadanya.
"Saya ingin menemui istri saya, setelah itu saya akan bertemu dengan salah sati investor yang akan membantu kita terlepas dari Pak Galih," jelas papa Haris.
Papa Galih selalu berkunjung ke makam istrinya saat hatinya sedang dirundung kesedihan, apalagi ia juga akan bertemu dengan investor, sehingga ia membutuhkan semangat dan dukungan dari wanita yang sudah tiada itu. Ya, dulu mama Kania yang memberikan dukungan dan semangat hingga papa Haris sukses hingga sekarang ini, karena mama Kania adalah wanita di belakang layar yang mendukung semua kegiatan papa Haris.
"Baiklah, Tuan."
Papa Haris kemudian berjalan menuju parkiran, memasuki mobilnya dan meminta supir untuk mengantarkan ia ke makam istri yang sangat dicintai dan disayanginya dengan segenap hati dan perasaannya.
Namun, jalannya menuju makan istrinya tidak mulus sama sekali, karena mobil yang ia tumpangi harus dihalangi oleh mobil mewah milik Galih.
"Tuan, sepertinya mobil Tuan Galih menghalangi kita untuk berjalan," jelas sang supir memberitahukan kepada papa Haris yang baru saja menutup matanya untuk beristirahat.
"Apa?"
Papa Haris kembali kembali membuka matanya dengan rasa yang bercampur aduk, mulai dari marah, emosi, namun juga tidak sanggup untuk melampiaskan semua amarah itu.
"Sepertinya Tuan harus keluar," usul sang supir dengan wajah khawatir dan cemasnya.
Papa Haris juga sama, ia khawatir jika hal buruk kembali terjadi kepadanya dan sang putri, namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain turun dan menghadapi lelaki tua bangka yang bernama Galih itu, karena bersembunyi tidak akan membuat masalah selesai.
Ya, dengan langkah kaki gemetar, papa Haris berusaha terlihat gagah, keluar dari mobilnya. Berjalan tegap menghampiri om Galih dengan keberanian sebagai seorang lelaki dewasa yang sangat berani dan bertanggung jawab tanpa rasa takut sedikitpun.
Hal yang sama juga dilakukan oleh om Galih, lelaki tua bangka yang berkuasa itu juga berjalan gagah berani menghampiri papa Haris, sehingga kedua lelaki separuh baya itu bertemu di tengah-tengah jalan dengan membawa wibawa dan kesombongan masing-masing untuk mempertahankan harga diri keduanya.
"Haris, dimana calon istri saya? Apakah kamu menyembunyikan Kania?"
Galih, si tua bangka terlihat sangat marah dan penuh dengan emosi yang teramat sangat. Namun, Haris juga terlihat sangat bersemangat, dan entah dari mana papa Kania itu mendapatkan keberanian yang teramat sangat luar biasa untuk melawan Galih.
"Maaf, Tua Bangka, saya tidak akan menyerahkan putri saya yang berharga kepada kamu, karena saya sudah menemukan lelaki yang tepat untuk putri saya."
Ya, Haris akhirnya mengakui betapa Alex sangat mencintai Kania, terlebih lagi lelaki itu memiliki ide yang sangat brilian untuk mengembangkan usahanya. Ya, setelah semua kesedihan dan rasa sakit yang selama ini terjadi di keluarga mereka, akhirnya Haris memutuskan untuk merestui hubungan sang putri dengan Alex, lelaki terbaik yang akan mencintai Kania dengan segenap jiwa dan perasaannya.
"Apa yang kamu katakan, Haris? Kamu melawan saya? Apakah kamu ingin kehilangan semua harta bendamu?" ucap Galih dengan emosi dan amarah yang sangat memuncak.
"Iya, tidak apa-apa."
Dengan keyakinan penuh, Haris melawan Galih, hingga lelaki tua bangka itu marah. Ia berlari kencang menemui Haris, namun kakinya tersandung ke aspal hingga ia mengalami serangan jantung dan struk mendadak. Ya, lelaki itu tidak bisa bangkit hingga seluruh bodyguard mengelilingi karena panik dengan bosnya. Sementara itu Haris langsung kembali ke rumahnya, berlari memasuki kamarnya untuk menemui putri kesayangannya yang tengah bergandengan tangan dengan kekasih hatinya.
"Papa," ucap Kania gugup sembari melepaskan tangannya dari Alex.
Keduanya terlihat panik dan ketakutan karena tidak menyangka papa Haris akan datang secepat itu.
"Kania, Alex, setelah kalian sembuh kalian berdua akan bertunangan dan melanjutkan kuliah di luar negeri, berusaha keraslah dan buat Papa bangga pada kalian."
Papa Haris terlihat tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada karena ia sangat yakin kalau ini kesempatan yang sangat bagus.
"Papa serius?" tanya Kania dengan keraguan di dalam hatinya.
Papa Haris mengangguk, ia juga mengakui betapa ia sangat bangga dengan Alex.
"Terima kasih banyak, Om, saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ucap Alex yang tidak kalah bersemangat
Bahkan yang aneh bin ajaibnya, Kania fan Alex langsung sembuh, keduanya bisa berdiri dan langsung memeluk papa Haris hingga suasana baru biru semakin terasa.
Ya, seperti sebuah keajaiban, semua terselesaikan dengan sangat baik, misi Kania dan Alex berakhir karena mereka tidak terjebak dalam cinta tak bersatu. Kania bukanlah Siti Nurbaya karena ia bisa hidup bahagia selamanya dengan Alex karena sebuah perjuangan dan pembuktian cinta, hingga keduanya hidup bahagia selamanya dengan anak-anak yang mendampingi dan menyempurnakan hidup mereka. Sungguh, tidak ada perjuangan yang sia-sia selagi manusia ingin berusaha.