WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Harus Kembali



"Apakah yang harus aku lakukan sekarang?"


Kania sadar kalau saat ini ia sudah terjebak di masa lalu.


Entah apa yang sebenarnya terjadi dan entah apa yang harus Kania lakukan sekarang, hanya saja terjebak di masa lalu sedirian kali ini rasanya benar-benar menakutkan bagi Kania.


"Sayang, bangun!" ujar Kania dengan isak tangisan. Namun, jasad Alex hilang dalam pelukan Kania. Ya, sepertinya Alex memang telah kembali ke masa depan, dan Syamsul juga tidak ada di kampung ini karena lelaki itu ada di pulau Jawa.


Kania tahu kalau ada abak dan bundo di sini, dan Kania sangat senang dengan kedua orang tuanya dari masa lalu ini, hanya saja Kania ingin hidup di masa depan bersama papanya dan Alex.


Kania ingat kenangan masa lalunya bersama papanya.


Ya, memori dan kenangan masa kesil bersama papa Herman membuat air mata Kania tak bisa lagi di bendung, ia takut usia papanya tidak lagi lama dan ia sampai saat ini masih belum bisa membahagiakan papanya.


"Abak, Bundo, Kania ingin salat dulu," ucap Kania dalam isak tangisnya.


"Kania, tidak ada gadis yang pergi sendirian ke surau tanpa di temani, karena surau untuk laki-laki," ucap bundo namun tidak Kania dengarkan.


Perlahan Kania hapus air matanya, ia langkahkan kaki menuju surau (musala), yang jaraknya cuma beberapa meter dari rumahnya.


Kania menemui Sang Pencipta dan berdoa dengan penuh pengharapan hanya kepada-Nya.


“Ya Allah, Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hamba tahu, hamba adalah hamba-Mu yang penuh dengan dosa, yang selalu lalai dengan perintah-Mu, jarang sekali datang bersimpuh kepada-Mu. Namun, kali ini hamba benar-benar tidak tahu lagi harus kepada siapa hamba akan mengadu dan meminta pertolongan kecuali hanya kepada-Mu. Ya Allah, hamba tidak tahu siapakah jodoh yang telah Engkau persiapkan untuk hamba dan hamba juga tidak tahu dimanakah belahan jiwa itu sekarang, hamba juga tidak tahu ke mana hamba akan mencarinya. Tapi hamba ingin sekali mewujudkan keinginan Papa hamba untuk membuat usaha beliau sukses tanpa harus menikah dengan Om Galih. Ya, walaupun hamba tidak tahu bagaimana caranya. Namun, hamba percaya Engkau sebaik-baiknya perencana. Ya Allah, berilah hamba petujuk dan tolonglah hamba.” Kali ini Kania berdoa sangat khusuk dan ia tumpahkan semua beban yang selama ini tertumpuk di kepalanya sembari menangis dengan penuh isak dan pengharapan. Ya, Kania benar-benar berharap Allah mendengar dan mengabulkan keinginannya.


Setelah menumpahkan semua beban di dada, hati Kania merasa lebih tenang dan damai. Namun, pikirannya kembali diganggu pada satu pertanyaan tentang Alex.


“Alex ke mana ya? Padahal udah janji akan bersama dan akan menikah setelah ini.,” batin Kania mulai merasa cemas karena khawatir kekasih hatinya mengingkari janjinya.


Kania raih HP-nya dan berusaha untuk menghubungi Alex. Namun, nomornya tidak bisa dihubungi dari masa lalu dan tak ada kabar apapun dari Alex.


“Alex ..., Sayang, kamu dimana sih?” hati Kania semakin risau dan khawatir.


“Halo, Sayang,” sontak Kania langsung mengangkat panggilan telepon yang bergetar.


“Assalamualaikum, Kania, maaf sebelumnya ini bukan Alex,” terdengar suara seorang wanita yang tidak familiar di telinga Kania. Suara yang tidak pernah Kania dengar namun suara itu tahu dengan nama Kania seolah mengenal Kania sangat dekat.


“Maaf, Mbak, saya Suster yang merawat Papanya Mbak. Pak Galih meminta saya menghubungi Mbak, karena saat ini beloau sangat ingin bertemu dengan putrinya,” ucap sang suster.


“Iya ada apa Suster, apa terjadi sesuatu dengan Papa saya?" tanya Kania dengan penuh rasa cemas dan ketakutan akan hal buruk yang terjadi pada papa kesayangan yang sangat dirindukannya.


“Pak Galih meminta Mbak untuk segera kesini karena ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan.”


“Baik Suster,” Kania langsung menutup panggilan telepon itu dan bergegas keluar dari tempat ia berada sekarang


Kania berlari sekencang yang ia bisa, agar cepat sampai di ruang inap papanya.


Kaki Kania terasa seperti tak memijak bumi, jantung Kania berdegup sangat kecang, bahkan pikiran Kania bercabang dan begitu banyak hal yang terbesit di dalam benaknya.


Kania sangat berusaha berlari dengan stok tenaga yang ada, namun ia tersandung. Kania terjatuh dan lututnya terluka, hingga membuat air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya bercucuran juga. Kania bahkan berusaha kembali bangkit dan kembali berlari agar segera sampai di ruang rawat inap papanya, tapi ia tidak kuat dan ia tidak sanggup. Hingga Kania merasa sangat lemah dan tidak berdaya, ia hilang arah, ia lupa kalau saat ini berada di masa lalu bukan masa depan.


"Kemana aku harus pergi sekarang? Tapi kenapa jaringan ponsel bisa ada disini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Berjuta pertanyaan muncul di benak Kania tentang keanehan dan keajaiban yang terjadi kepadanya.


Kania mencoba membuka pintu dan ia melihat sekelilingnya, hanya ada sawah dan ladang. Tempat ini bukan rumahnya, bukan juga dunianya, tapi masa lalu yang tidak tahu dimana jalan kembali ke masa depannya.


“Papa ..., Papa,” isak tangis Kania semakin pecah ketika aku tidak bisa menemui separuh nafasnya yang kini sedang tidak baik-baik saja.


“Papa ..., Maaf, Kania anak kesayangan Papa tidak bisa menemui papa dan belum sempat membahagiakan Papa," ucap Kania dalam isak tangisnya.


“Sayang ..., Kania, sadar, Nak, jangan seperti ini!” bundo memeluk Kania dengan erat sembari mencium kepala Kania. Bundo sadar kalau saat ini Kania sedang tidak baik-baik saja dan sedang mengharapkan dukungan dan suport darinya. Bahkan tanpa bertanyapun bundo paham kalau Kania sedang memikirkan sesuatu.


Kania rasakan pelukan bundo terasa menenangkan dan hangat bagi Kania tapi tetap saja Kania tidak bisa bertahan dengan pikiran yang ada di masa depan.


“Kania belum sempat membuat Papa bangga Bundo, Kania hanya bisa merepotkan Papa, dan sekarang saat Papa membutuhkan Kania malah tidak ada di sisi Papa.” Kania menangis dan meraung sembari membalas pelukan bundo yang terasa hangat itu dengan air mata yang semakin mengalir deras.


“Sabar, Sayang, sabar, Nak! Ikhlaskan semua ujian dari Allah, karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya dan ketika kita ditimpa musibah kita ucapkan“Innaillaihiwainnaillaihirojiun, semuanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah,” ucapan bundo akhirnya menyadarkan Keyla dari isakan tangisannya itu.


Kania teringat dengan surat yang Siti tinggalkan kepadanya, bahwa semua yang terjadi di dunia ini tidak bisa dikendalikan oleh manusia karena Allah adalah pemilik langit dan bumi dan Allah juga yang menentukan takdir hidup manusia, jadi tidak ada yang perlu ditangisi dan tidak ada yang perlu disesali.