
Dalam sakit atau tidak sadarkan diri, Kania selalu mendengarkan suara dan petunjuk dari Siti.
"Kania, sadarlah! Carilah Papamu dan kumpulkanlah banyak uang untuk membayar semua hutang-hutang Abak!" Akhir-akhir ini kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di kepala Kania ketika ia dalam keadaan tertidur atau sedang tidak sadarkan diri. Namun, Kania belum mendapatkan jawaban dari Siti tentang bagaimana ia akan membawa uang dari masa depan ke masa lalu.
"Sa-Sayang, bangunlah! A-ku sangat merindukanmu!"
Tiba-tiba terdengar oleh Kania suara Alex yang serak tengah memanggil-manggil namanya.
Alex mengatakan kalau sudah seminggu berlalu, akan tetapi Kania masih belum sadarkan diri dan masih dalam keadaan koma. Alex juga berharap agar Kania bisa segera membuka matanya.
Kania juga mendengarkan isak tangis dari Alex, hingga air mata Alex jatuh membasahi pipi Kania. Air mata kesedihan yang membuat hati Kania merasa sangat sakit mendengarkan isak tangisan itu.
"Kania, Sayang, bangunlah!"
Kania merasakan tangannya di genggam oleh Alex dengan sejuta kesedihan yang Alex bawa bersamanya.
'Alex? Apakah saat ini aku berada di masa depan?' ujar Kania di dalam hati.
Kania ingin segera bangun dan mengatakan kepada Alex tentang keadaan yang ia alami saat ini, namun matanya terlalu sulit untuk dibuka bahkan ia tidak bisa bergerak sedikitpun.
'Ya Allah, tolong izinkan hamba kembali ke masa depan. Banyak hal yang harus hamba lakukan agar hamba bisa membantu orang tua hamba,' ujar Kania di dalam hatinya dengan sejuta rasa harap yang ia bawa bersamanya.
"Sayang, tidakkah kamu merindukanku?"
Kecupan hangat dan penuh dengan kasih sayang mendarat di kening Kania, hingga air mata Alex kembali jatuh membasahi pipi Kania dan pada saat itulah Kania perlahan mencoba membuka matanya.
Kania melihat sekelilingnya, dan ia menyadari kalau saat ini ia berada di masa depan karena ia melihat rumah sakit modern dan Alex yang duduk di kursi roda menangisinya.
"Sa-, Sa-yang!" ujar Kania lembut dengan nada suara terdengar sangat lemah.
Alex tersadar ketika mendengar suara Kania, ia langsung mengangkat wajahnya dan menatap erat gadis yang sangat disayanginya itu.
"Sa-, Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Alex dengan nada suara terbata-bata.
Alex merasa sangat senang bercampur dengan haru karena kekasih yang sangat dicintainya akhirnya membuka mata lagi setelah seminggu berlalu.
Alex membelai-belai lembut rambut Kania, sembari terus menatap wajah Kania yang teramat sangat dirindukannya itu dengan seksama.
"Sayang, ini bukan mimpi 'kan?" tanya Alex untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Kania menggeleng lembut, karena ia merasa tidak punya cukup tenaga. Di dalam hatinya Kania ingin sekali menghamburkan tubuhnya untuk memeluk kekasih hatinya itu, namun tubuhnya terasa sangat lemah, ia tidak bisa bergerak leluasa sama sekali.
"Kania, aku panggilkan Dokter dulu ya, Sayang!" ujar Alex dengan wajah khawatirnya. Ya, walaupun dalam keadaan terluka, Alex masih setia mendampingi Kania, bahkan baginya kebahagiaan Kania jauh lebih penting dari pada dirinya.
Kania menggangguk lagi dan Alex dengan sigapnya mengayuh kursi rodanya untuk memanggil dokter yang merawat Kania.
"Dokter, Kania sudah sadar," ucap Alex dengan nada suara tergera-gesa dan detak jantung yang berjalan cepat. Sungguh terdengar luar biasa sesak tapi tetap bersemangat.
"Baiklah, saya akan segera kesana!"
Alex dan Dokter berjalan cepat menghampiri Kania dengan sedikit kelegaan yang mereka bawa.
'Sayang, terima kasih karena kamu sudah sadarkan diri, bertahanlah!' ucap Alex di dalam hati, namun masih menyimpan ketakutan yang teramat sangat besar kalau Kania tidak bisa bertahan.
Alex sangat takut sekali kehilangan Kania, karena baginya Kania adalah segalanya dan satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini. Ia rela melakukan apa saja demi kebahagiaan gadis cantik itu dan ia tidak akan membiarkan air mata jatuh membasahi pipi Kania juga.
"Alex, sebaiknya kamu tunggu diluar dulu, biarkan saya periksa Kania," ujar sang Dokter tepat di pintu masuk kamar rawat inap Kania.
Ya, awalnya sang dokter tidak mau dan tidak mengizinkan, tapi setelah berargumen, akhirnya dokter mengizinkan Alex masuk ke ruang inap Kania. Mungkin alasannya karena dokter merasa kasihan dan sangat iba.
"Selamat siang, Kania," sapa dokter lembut dan sangat hangat.
Sang dokter adalah teman papa Kania, yang sangat baik dan berjasa bagi Kania karena sang dokterlah yang selama ini merawat mama Kania yang sedang sakit.
"Selamat siang, Om Dokter," jawab Kania lembut dengan nada lemah namum tetap memberikan senyum terbaik yang terlihat indah dari wajah pucatnya.
Ya, walaupun dalam keadaan sakit, Kania masih ingin terlihat ceria dan bahagia. Ia tidak ingin membuat orang-orang terdekat dan orang-orang yang ia sayangi terlihat bersedih karena menatapnya.
"Masyaallah, Kania, ternyata kamu benar-benar sudah sadar," ucap sang dokter terlihat senang melihat perubahan Kania.
Kania juga merasakan tubuhnya membaik dan tenaganya mulai kembali.
Kania mengangkat tubuhnya dan ia ingin sekali untuk duduk.
"Kania, jangan duduk dulu, berbaring saja! Om ingin memeriksa keadaanmu terlebih dahulu," ucap sang dokter.
Kania akhirnya menurut dan mendengarkan saran dokter.
Setelah diperiksa ternyata Kania baik-baik saja dan dinyatakan sangat sehat.
Heran!
Tentu saja semua orang merasa sangat heran, karena luka-luka akibat dari kecelakaan juga hilang tanpa ada bekas sedikitpun.
"Apa yang terjadi, Om Dokter?" tanya Kania ketika dokter menggaruk-garuk kepalanya dengan wajah kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah beliau.
"Om hanya merasa heran saja, tubuhmu terlihat baik-baik saja, seolah tidak mengalami kecelakaan sama sekali," ujar sang dokter heran.
Sementara itu, Alex yang awalnya duduk di kursi roda juga merasakan keanehan. Ia merasa kalau tubuhnya tidak lagi lemah, ia serasa memiliki energi baru dan semua luka-luka di tubuhnya juga langsung menghilang dalam sekejap mata.
"Alhamdulillah, saya bisa berdiri, Dokter," ucap Alex merasa senang dan bahagia.
Alex melompat-lompat saking bahagianya, seolah tidak percaya dengan sesuatu yang terjadi padanya saat ini. Kemudian ia langsung memeluk Kania yang saat ini juga memancarkan rona kebahagiaan dari wajahnya.
'Siti, apakah keajaiban ini sebagian dari misi kita untuk membantu Abak dan Papaku?' ucap Kania di dalam hati.
"Sayang, semuanya terlihat ajaib dan sangat nyata, kita seperti tidak mengalami kecelakaan sama sekali," ujar Alex saking bahagianya.
Sang dokter yang ikut menyaksikan kejadian itu juga turut terlihat takjub dan merasa sangat heran dengan keajaiban yang terjadi.
"Papa," ucap Kania tiba-tiba hingga membuat keceriaan di wajah Alex memudar, ia emang sangat tahu kalau Kania sangat mengkhawatirkan papanya, apalagi papanya sekalipun tidak pernah menjenguk putrinya selama sakit.
"Om Dokter, apakah ada kabar tentang Papa?" tanya Kania sembari menatap dokter yang memandang iba kepadanya.
"Maaf, Kania, Om tidak tahu, sudah lama sekali Om tidak berhubungan dengan Papamu, terakhir semenjak Mamamu meninggal," ujar sang dokter.
Kania merasa sangat sedih mendengarkan jawaban sang dokter, karena ia tidak mendapatkan informasi apapun tentang papanya.
'Papa, di mana Papa sekarang?' ucap Kania di dalam hati.
"Sayang, aku akan membantumu mencari Papamu. Tapi, sekarang kita pulang ke apartemenku dulu ya!" ucap Alex seolah paham dengan apa yang Kania pikirkan.
"Apartemen?"