WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Negosiasi Bersama Syamsul



Kania menatap Syamsul dengan tatapan penuh dengan pengharapan. Sungguh, ia sangat ingin sekali Syamsul mengabulkan keinginannya. Kania juga meyakini kalau Syamsul memang malaikat tak bersayap yang dikirimkan Tuhan untuknya.


"Baiklah, ambo akan membantu Siti dan keluarganya terbebas dari hutang dengan membuka warung makanan seperti ini di kampung, lagian Siti adalah gadis yang ambo sukai dan ambo inginkan menjadi istri ambo. Tapi, ambo punya satu syarat!"


Syamsul menghentikan ucapannya dan menatap Kania dengan tatapan yang penuh dengan sejuta tanda tanya.


"Apa, Uda?"


Kania membalas tatapan Syamsul dengan rasa penasaran yang ia bawa bersamanya.


"Tolong jelaskan kepada ambo semua hal yang tidak ambo ketahui dan apakah tujuanmu datang ke masa lalu, Kania?"


Syamsul terlihat ingin mengetahui banyak hal dari Kania, hingga ia bisa menyusun strategi untuk melawan Datuak Maringgih atau om Galih.


"Baiklah, aku akan menceritakan semuanya kepada Uda, inti dari semua permasalahanku adalah ketika aku menolak dijodohkan dengan si tua bangka, hingga terjadi kecelakaan ketika aku dan Alex mencoba untuk kabur dan kawin lari. Ketika aku terbangun, aku mendapati diriku telah berada di Ranah Minang, daerah yang sangat berbeda jauh dari Jakarta, tempat yang kita tempati saat ini. Satu lagi yang aku tidak habis pikir sampai saat ini, ketika aku kembali ke masa lalu, terkadang aku dikendalikan oleh Siti, aku bahkan bisa berbahasa Minang padahal aku sama sekali tidak pernah mempelajarinya," jelas Kania dengan semua keanehan yang ia rasakan secara mendetail.


Kania membutuhkan bantuan Syamsul yang saat ini berada di jiwa Alex.


Jadi, Kania harus menceritakan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman dan tidak ada yang merasa dibohongi atau dirugikan.


"Awalnya aku juga merasa heran dengan perubahan Siti yang berubah drastis 360 derajat, gadis cantik yang sangat anggun dan sopan santun dengan ciri khas gadis Minang yang melekat pada dirinya, berubah menjadi gadis berani dan tanpa takut melawan Datuak Maringgih yang sangat ditakuti di kampung," ungkap Syamsul.


Syamsul menyampaikan isi hatinya perihal perubahan Siti, namun seiring berjalannya waktu Syamsul mulai curiga bahwa wanita yang ditemuinya waktu itu bukanlah Siti yang sesungguhnya melainkan Kania yang berada dalam raga Siti, persis sama dengan dirinya saat ini yang berada dalam raga Alex, lelaki yang merupakan dirinya di masa depan.


Syamsul juga berpikir diluar nalarnya tapi saru hal yang ia yakini ada sesuatu yang tidak beres diluar nalarnya.


"Kania, kalau boleh ambo tahu bagaimana penampilan dan sifat dari Galih Galah itu?" tanya Syamsul penasaran.


Kania menjelaskan kalah om Galih adalah teman papanya dengan usian 50-an, ia memiliki anak buah dan banyak uang untuk membeli sesuatu sesuai keinginannya termasuk orang. Ya, om Galih sifatnya mungkin sama serakahnya dengan datuak Maringgih versi modern," jelas Kania.


Syamsul terlihat mengangguk-angguk, ia terlihat mengerti dan mempelajari apa yang Kania sampaikan kepadanya.


"Kania, ada lagi yang mau saya tanyakan," ucap Syamsul dengan senyum tipis dan wajah yang terlihat malu.


"Apa, Uda?"


Kania berusaha untuk menyenangkan hati Syamsul dengan menjawab semua pertanyaan Syamsul.


"Apakah dunia modern itu surga?" tanya Syamsul polos.


Hahaha ....


Kania tertawa lepas dan terbahak-bahak mendengarkan pertanyaan Syamsul.


"Ih, Kania, kenapa malah menertawakan Uda?" protes Syamsul sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Kania menatap wajah polos yang tengah malu itu.


Lucu!


Menggemaskan!


Kania merasa terhibur dengan kehadiran Syamsul saat ini, bahkan Kania lupa dengan keberadaan kekasih hatinya yang saat ini entah berada di dunia mana.


"Uda!"


Kania menghentikan ucapannya, kemudian menatap wajah Syamsul.


"Uda!" panggil Kania sekali lagi.


Dengan pelan Syamsul membuka jari-jari tangannya dan memandang Kania dari balik jari-jari tangan itu.


Mata Syamsul terlihat tengah menatap wajah Kania yang teramat sangat cantik.


'Astagfirullahalazim,' ucap Syamsul di dalam hati sembari memalingkan wajahnya dari Kania.


Jantung Syamsul berdetak tak menentu, semakin lama semakin kencang, seperti bom atom yang sebentar lagi akan meledak.


"Uda kenapa?" tanya Kania ketika ia melihat pipi Syamsul memerah.


Syamsul kemudian berjalan menjauhi Kania beberapa langkah, namun Kania mengikutinya beberapa langkah pula dan itu terjadi beberapa kali.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


"Kania, berhenti!"


Syamsul mendorong tangannya ke depan dan melarang Kania mendekatinya. Ia ingin menjaga dirinya agar tidak terjebak pada perbuatan yang mendekati zina.


"Uda, apa aku melakukan kesalahan?" tanya Kania heran.


"Tidak Kania, kamu tidak salah," jawab Syamsul dengan suara bergetar.


"Lantas?"


Kania semakin heran dan kaget dengan perlakuan Syamsul kepadanya.


"Kita tidak muhrim!"


Kata-kata yang keluar dari mulut Syamsul membuat Kania tidak lagi mendekati Syamsul.


Malu!


Ada perasaan aneh yang Kania rasakan yang membuat ia risih dengan dirinya sendiri.


Salut!


Baru kali ini juga ada lelaki yang sangat menjaga diri dan sangat menghormati seorang wanita.


Kring ..., Kring ..., Kring ....


Ponsel Kania tiba-tiba saja berdering, hingga membuat Kania tersadar dari lamunannya.


"Kania, apakah itu?"


Syamsul mendekat ke arah Kania dengan sejuta penasaran yang ia bawa bersamanya.


"Uda, Stop! Bukan muhrim!"


Kali ini giliran Kania yang melarang Syamsul untuk dekat-dekat dengannya.


"Maaf, Kania!"


Syamsul langsung bergenti mendekati Kania, namun matanya masih saja jelalatan melihat benda pipih yang ada di tangan Kania yang terus saja berbunyi.


Sementara Kania, wajahnya mulai terlihat pucat ketika layar ponselnya menunjukkan nama om Galih.


'Apa yang harus aku lakukan?' ucap Kania di dalam hati.


Kania tidak tahu bagaimana caranya menghadapi om Galih dan menjawab semua pertanyaan lelaki tua bangka yang sudah bau tanah itu.


"Kania, kenapa benda persegi empat itu terus saja berbunyi?" tanya Syamsul dengan wajah penasarannya.


Kania diam dan tidak menjawab apa-apa karena fokusnya saat ini adalah benda pipih itu.


Sudah puluhan panggilan tidak terjawab tidak Kania hiraukan, kali ini om Galih melakukan panggilan video call.


"Apa yang akan aku lakukan?" ujar Kania sembari menggoyang-goyangkan kakinya, pertanda risaunya hatinya saat ini.


"Aku penasaran dengan benda itu," ucap Syamsul.


Syamsul meraih ponsel Kania dan menekan sembarang tombol hingga muncullah wajah om Galih di benda pipih itu.


"Kania ...!" teriak lantang dan keras yang om Galih keluarkan membuat gendang telinga Kania dan Syamsul sakit.


"Astagfirullahalazim, apa ini?"


Syamsul terlihat kaget bercampur penasaran melihat ada wajah seseorang di balik layar benda pipih itu.


"Siapa kamu?" tanya Syamsul polos tanpa rasa bersalah sekalipun, sehingga membuat om Galih semakin marah dan geram.


"Kania, kamu keluar atau Papamu akan saya bunuh sekarang juga!" ancam om Galih.


"Nia, Kania ..., tolong Papa, Nak!" rengek papa Haris ketika sebuah benda tajam saat ini tengah berada di lehernya.


"Jangan sakiti Papa!"