WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Meminta Restu Abak



"Kania, sudah subuh, Nak, bangunlah!"


Kania mendengar suara bundo memanggil-manggil namanya, hingga tersadarlah ia dari mimpi indahnya.


Kania membuka matanya dan mendapati bundo saat ini telah ada di depan matanya.


"Astagfirullahalazim, ternyata aku bermimpi, aku masih berada di masa lalu," ucap Kania di dalam hati.


Kania mungkin saja sangat merindukan Alex saat ini, sehingga lelaki itu sampai di dalam mimpinya.


"Nak, yuk kita salat subuh," ucap bundo sembari membelai rambut Kania yang terurai panjang.


Dengan senyuman dan hati yang terlihat bahagia, bundo terlihat sangat bersemangat untuk menjalani pagi ini.


"Kania lagi tidak salat, Bundo," jelas Kania dengan memasang muka bantalnya.


Kania mulai bermanja kepada bundo karena dekat dengan bundo membuat kerinduannya kepada mamanya sedikit terbayarkan.


"Kalau begitu Bundo salat duluan ya, Nak!"


Bundo keluar dari kamar Siti yang saat ini di tempati oleh Kania.


Kania kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang sederhana milik Siti. Kania menganang masa-masa indahnya bersama abak ketika ia mengunjungi masa lalu bersama Alex.


Dengan tatapan serius dan penuh pengharapan, abak meminta Alex untuk menjaga Kania, putri satu-satunya dari masa depan yang sangat beliau sayangi. Abak juga meminta kepada Alex yang sebentar lagi akan menjadi suami Kania itu untuk tidak sekali pun menyakiti hati dan perasaan Kania, apalagi sampai menduakan cinta Kania.


Bagi abak, harga diri dari seorang lelaki adalah saat ia bertanggung jawab dengan setiap perkataan yang keluar dari lisannya.


"Nak, apakah kamu berjanji untuk memperlakukan putri Abak dengan baik?" tanya abak sekali lagi.


"Iya, Abak, insaallah, saya akan mencintai dan menyayangi Kania karena Allah, akan menjaga dan melindunginya dengan segenap jiwa dan kemampuan yang saya miliki."


Dengan lantang, Alex menyatakan sebuah janji yang sangat meyakinkan Kania dan juga abak.


Terlihat sekali kalau Alex adalah lelaki yang sangat bertanggung jawab dan sangat memegang janji yang baru saja diucapkannya.


'Ya Allah, jika lelaki ini adalah lelaki yang baik untukku, maka aku ikhlas dan aku rida menjadi istrinya,' ucap Kania di dalam hati dengan debaran yang tidak biasa yang kembali ia rasakan.


Kania merasa sangat beruntung karena Alex adalah lelaki yang akan menjadi suaminya, insaallah akan menjadi cinta terakhirnya juga.


"Baiklah, Nak Alex, Abak akan menyerahkan Keyla untuk menjadi istrimu. Tapi, jika kamu menyakiti putri kesayangan Abak seperti Syamsul menyakiti Siti, maka kamu akan berhadapan dengan Abak!"


Abak terlihat sangat tegas, ia tidak ingin seorangpun menyakiti Kania, putri kesayangannya yang datang dari masa depan.


"Insaallah, Abak, dengan menyebut nama Allah, saya berjanji akan memberikan yang terbaik untuk Kania."


Ucapan lantang dari Alex itu terlihat benar-benar serius. Ya, janjinya seperti janji seorang lelaki sejati.


Sejujurnya, Kania semakin di buat terpesona oleh lelaki itu.


"I love you, Alex."


Ingin sekali Kania mengatakan kepada lelaki tampan itu, kalau Kania menyukainya. Kania juga ingin sekali melompat ke dalam pelukannya, mengatakan kepadanya kalau ia beruntung mengenalnya. Namun, sebagai seorang muslim, Kania harus menjaga martabat dan harga dirinya seperti kata Abak. Mereka berdua belum muhrim dan Kania harus menjaga batasan sampai kami berdua benar-benar menjadi pasangan halal.


Kania kemudian menatap wajah Alex dengan tatapan serius, hingga muncul pertanyaan di dalam hati ini, "Mas, sejak kapan kamu menyukaiku dengan sedalam itu?"


Ingin sekali Kania menanyakannya, namun untuk saat ini, Kania hanya perlu bersabar sampai ia resmi menjadi istri Alex.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


Jantung ini kembali mengalami debaran tidak biasa, ketika dua bola mata saling menatap. Untuk sesaat Kania dan Alex berbicara lewat tajamnya tatapan mata, sehingga membuat mereka kembali salah tingkah dengan wajah yang langsung tertunduk.


"Nak Alex, Nak Alex."


Panggilan abak yang menyadarkan Kania dan Alex.


"Ma-maaf, Abak, a-a-aku ...,"


Suasana salah tingkah dan menegangkan ini benar-benar membuat abak tersenyum tipis, karena kelucuan sikap Kania dan Alex.


"Nak Alex!"


Abak terus menggoda calon menantunya itu dengan terus memanggil nama lelaki tampan itu.


"Abak, jangan godain Alex dong!" Dengan nada suara lembut dan sedikit terbata-bata, Kania sontak membela calon suaminya. Bahkan, dengan malu-malu, Kania akhirnya memanggil lelaki itu dengan panggilan yang disukainya.


"Sayang, kamu membelaku?"


Dengan wajah memerah, Alex bertanya kepada Keyla, sepertinya untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Sayang, bisa tolong antarkan aku kembali ke rumah? Aku ingin pulang!"


Kania mengelak, ia seolah tidak ingin menjelaskan apa-apa atau mengulang kembali perkataannya, sehingga ia berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Pulang? Bagaimana kalau kita makan dulu? Abak dan Kania belum makan, bukan?"


"Tidak usah, Nak, kita langsung pulang saja karena kalian berdua tidak boleh lagi terlalu sering bertemu sampai hari pernikahan kalian," jelas abak yang bertingkah layaknya papa Kania.


Ya, beberapa hari lagi Kania dan Alex akan menikah di masa depan, mereka berdua akan resmi menjadi pasangan suami istri menurut agama dan hukum, tetapi entah mengapa keduanya tidak ingin berpisah.


"Apakah selama di masa lalu aku tidak bisa melihat wajah calon suamiku?" Protes batin Kania yang sepertinya memberontak dan tidak terima.


'Ah, Kania, apa yang kamu pikirkan? Bukankah kamu ingin menikah secara baik-baik? Kenapa kamu malah ingin melihat wajah Alex setiap detik?' Berbagai macam gejolak muncul di batin Kania.


"Kania, Kania, Nak, kita pulang!"


Abak mengagetkan Kania, hingga buyarlah semua lamunannya. Ternyata Alex telah meracuni hati dan pikiran Kania, sehingga hanya ada namanya yang muncul dalam ingatan Kania.


"I-iya, Abak, maaf!"


Dengan bismillah, Kania langkahkan kakinya memasuki mobil.


"Beneran kita langsung pulang, Abak?" Alex sepertinya juga belum ingin berpisah dengan Keyla.


"Iya, Nak, kamu yang sabar! Kalian berdua sebentar lagi akan menikah kok, jadi tahan dulu!"


Uhhukk ..., Uhhukk ....


Ucapan dan kata-kata abak membuat Kania dan Alex mengalami batuk mendadak secara serentak.


"Nak kalian kenapa? Kalian sakit?"


Dengan senyum tipis yang terlihat menggoda, abak kembali membuat kami berdua malu.


"A-awas ...!" teriak Kania sangat keras. Alex dan Kania hampir sana menabrak batu besar yang ada di depan mereka.


"Astagfirullahalazim."


Sembari mengurut dada, Kania terus melafazkan istigfar.


"Nak, kamu tidak apa-apa?"


"Kania, kamu tidak apa-apa?"


Secara bersamaan, dua orang lelaki yang sangat Kania sayangi itu menoleh kearah Kania dan memastikan Kania dalam keadaan baik-baik saja.


Kekhawatiran memuncak tergambar jelas dari wajah keduanya.


"Kania tidak apa-apa, hanya sedikit syok," jawab Kania dengan wajah pucat yang terlihat ketakutan.


"Begini nih, Nak, kalau mau menikah banyak rintangan dan ujiannya," jelas Abak dengan wajah yang terlihat sangat serius.