WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Rindunya Hati



Pernyataan cinta Alex membuat dunia Kania teralihkan, bola matanya melebar, tatapan matanya tertuju pada lelaki tampan yang saat ini berada tepat di depannya itu.


Wajah putih bercahaya itu saat ini seperti kepiting rebut yang memerah. Baru kali ini juga Kania melihat lelaki tampan itu menatapnya dengan tatapan serius.


Dak ..., Dik ..., Duk ....


Ada debaran tidak biasa melebihi debaran sebelumnya, apalagi ketika mata Kania dan mata lelaki itu saling bertemu.


"Apakah ini yang namanya jatuh cinta?" ucap Kania di dalam hati.


"Kania!"


Lelaki tampan itu kembali membuyarkan lamunan Kania.


"I-i-ya, ke-na-pa?" tanya Kania dengan nada suara terbata-bata. Kania merasa benar-benar malu dan salah tingkah ketika lelaki yang berada tepat di depannya itu semakin menatap Kania dengan tajam.


"Sayang, aku bertanya, apakah kamu mau menikah denganku suatu saat nanti?" tanya Alex sekali lagi.


Kania terdiam dan menunduk malu. Sungguh, ia tidak tahu apa yang akan ia katakan kepada Alex, karena hati ini juga mulai merasakan keraguan, antara jatuh cinta namun belum siap menikah.


"Kania, apa diammu pertanda kalau kamu setuju menikah denganku suatu hari nanti?" tanya Alex sekali lagi.


"Kania diamnya seorang wanita itu pertanda iya, tapi bantahannya pertanda penolakan."


Dengan senyum tipis yang terlihat sangat manis, Alex tersenyum kepada Kania. Senyum yang membuat Kania terpesona dan merasakan jatuh cinta yang teramat sangat.


Ya, lelaki itu adalah lelaki yang berhasil mengalihkan dunia Kania, lelaki yang mencuri hati Kania pada pandangan pertama.


Sejujurnya, saat ini seluh tubuh Kania terasa sangat dingin karena grogi, wajahnya juga memerah karena malu.


Debaran jantung Kania? Jangan ditanya lagi, ia seperti tersengat aliran listrik yang membuatnya lemah tidak berdaya.


Ya, cinta datang kepada Kania di saat ia baru saja putus dengan kekasih hatinya.


Lelaki tampan seperti Alex itu benar-benar membuat Kania tidak bisa berkata apa-apa dan diam seribu bahasa.


"Kania, aku akan mendukungmu untuk mengembangkan perusahaan ini seperti yang kamu harapkan."


Penjelasan Alex membuat Kania bertanya-tanya apa motif dari lelaki tampan yang tidak lain adalah sekretaris pribadinya itu.


"Papa sudah menunggu, bagaimana kalau kita segera kembali ke kantor?"


Rasa malu yang bersemayam di dalam hati Kania membuatnya salah tingkah dan mengalihkan pembicaraan. Saat ini yang ada dalam fikiran Kania adalah segera sampai di kantor, agar ia tidak berhadapan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan Alex, lelaki yang merupakan sekretaris pribadinya ketika di kantor, temannya jika berada di luar kantor.


"Kania, apakah kamu ingin segera ke kantor?"


Alex seolah paham dengan apa yang saat ini Kania pikirkan.


Dengan mengangguk, Kania melangkahkan kakiku duluan menuju parkiran dengan langkah seribu, agar ia cepat sampai di mobil.


"Kania, hati-hati!"


Kata-kata lembut yang terdengar singkat itu membuat Kania berbunga-bunga.


Tidak pernah terbayangkan oleh Kania akan jatuh cinta dengan lelaki yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.


Lamunan Kania akan Alex di buyarkan karena ia ingat kalau abak dan bundo tengah menunggunya di sawah.


Kania segera berlari menuju sawah dan mendapati abak tengah lelap tertidur di saung sederhana di pinggir sawah.


"Abak!"


Dengan lembut Kania genggam tangan abaknya, tangan beliau terasa sangat kasar, namun tetap hangat dan mendamaikan Kania.


Wajah beliau terlihat sangat capek, dan Kania merasa tidak tega jika harus menyiksa beliau di waktu tuanya.


"Abak, maaf karena Nia belum bisa membahagiakan Abak dan Bundo. Maaf karena menjadi anak yang selalu merepotkan," ucap Kania lembut.


Kania kemudian mencium punggung tangan abaknya, hingga butiran-butiran air mata menggenangi pipi Kania, hingga jatuh dan menetes di tangan abak.


"Sayang, kamu sudah di sini?"


Belaian lembut abak di kepala Kania membuat Kania tersadar kalau air matanya membangunkan abak, lelaki terbaik yang menjadi panutannya itu.


"Abak, Abak sudah bangun?"


Tanpa mengangkat wajah, Kania berbicara terbata-bata.


Kania tahu kalau abak sadar putrinya saat ini tengah menangis, namun sebagai seorang anak yang berbakti, Kania tidak ingin abak melihat wajahnya ketika menangis.


"Sayang, putri kecil Abak yang sebentar lagi akan menikah dengan Alex, lelaki baik yang bisa membimbingmu menuju surga. Lelaki yang akan menggantikan tugas Abak dan Papamu sebagai walimu. Lelaki yang akan menjadi surgamu," ucap abak dengan nada suara terbata-bata.


Mendengar nasehat tulus yang abak sampaikan, membuat Kania merasa seperti anak yang beruntung karena memiliki orang tua yang sudah seperti malaikat di masa lalu dan di masa depan.


"Abak, tidak ada lelaki yang bisa menggantikan posisi Abak dan Papa, bahkan jika surga Nia berada di tangan suami Nia, semuanya tidak akan merubah fakta kalau Abak dan Papa adalah malaikat yang diturunkan Tuhan untuk menjaga Nia," ungkap Kania sedih.


Kania mengangkat wajahnya, kemudian ia peluk abak dengan penuh cinta dan kasih sayang, dan ia juga membayangkan kalau saat ini ia juga tengah memeluk papanya.


"Abak, Nia sayang sama Abam dan Bundo," ucap Kania dalam isak tangisan.


Sedikit demi sedikit, Kania mulai paham, kalau sudah waktunya untuk Kania membahagiakan hati kedua orang tuanya, baik ia berada di masa lalu maupun masa depan. Rasa takut kehilangan keduanya membuat Kania berpikir kalau berada disini saat ini memang adalah jalan terbaik untuk Kania. Ya, setidaknya Kania tidak lagi menjadi beban dalam keluarganya.


"Assalamualaikum, Abak, Kania," sapa bundo


"Waalaikumsalam, Bundo," jawab Kania an abak serentak.


"Bundo,"


Abak langsung menyambut bundo, yang tidak lain adalah belahan jiwanya itu dengan hangat.


"Bundo, izinkan saya membahagiakanmu dan Kania serta bertanggung jawab dihadapan Allah."


Ucapan latang dari Abak kembali mengagetkan Kania dan membuatnya haru, karena banyak pelajaran yang ia ambil di masa lalu. Rasa kagum dan suka kepada seseorang, membuat Kania belajar banyak dari keharmonisan keluarga yang ia lihat.


"Abak, apa yang kamu katakan? Jangan mengatakan hal yang melankolis seperti itu!"


Bundo terlihat bahagia mendengar kara-kata bijak yang keluar dari lisan abak. Beliau seperti mendapatkan orang yang tepat untuk dicintai sampai hari tua yang teramat sangat dicintai dan disayanginya.


"Nak, tapi Abak punya satu permintaan," ujar abak lembut dan sangat sopan sembaru menatap Kania.


"Apa, Abak?" Ungkap Kania kaget dengan mata membelalak.


Namun Kania terlihat siap menjawab apa yang dipertanyakan oleh abak.


"Apakah kamu merindukan keluargamu di masa depan dan ingin segera kembali ke masa depan menemui mereka, Nak?" tanya abak dengan tatapan serius.