WHO ARE YOU?

WHO ARE YOU?
Rahasia Terselubung



Kania kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar ganti untuk menemui Alex yang saat ini sedang duduk menunggunya di ruang tunggu.


"Sayang, bagaimana?" sapa Kania.


Alex menatap Kania tanpa berkedip sedikitpun. Ia seolah terpana dan terpesona dengan penampilan Kania yang terlihat sangat berbeda, menawan dan sangat cantik.


"Sayang, bagaimana penampilanku?" tanya Kania sekali lagi, namun tidak ada jawaban apapun dari Alex. Lelaki tampan itu terus memperhatikan Kania dengan tatapan takjub.


"Sayang, apa aku terlalu cantik?"


Kania menyadarkan Alex dengan cara mencubit pinggang lelaki tampan itu.


"Sayang, sakit!" teriak Alex yang merasakan kesakitan dari cubitan Kania.


"Habis kamu diajak ngobrol malah bengong," protes Kania.


Kania menyilangkan kedua tangannya di perutnya kemudiab memanyunkan bibirnya di hadapan Alex.


"Maaf, Sayang, aku hanya terpesona melihat kecantikanmu," ujar Alex terus terang dengan mata yang masih tidak bisa berpaling dari Kania.


"Sayang, aku tahu aku cantik, tapi saat ini bukan saatnya bengong, kita harus segera menuju Batusangkar," ujar Kania, karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling memuji.


Kania menarik tangan Alex, kemudian membawa lelaki itu mencari sebuah kendaraan umum menuju daerah yang ingin mereka tuju.


Tidak ada yang dapat dilakukan oleh Alex selain menurut kepada Kania.


Alex sangat berharap sekali masalah mereka cepat selesai dan teratasi sehingga mereka berdua bisa menikah dengan tenang dan bahagia.


***


Selang beberapa jam perjalanan, akhirnya Kania dan Alex sampai juga di Istana Pagaruyung, salah satu tempat yang saat ini menjadi destinasi wisata yang wajib dikunjungi di Sumatera Barat, namun belum pernah mereka kunjungi.


"Sayang, istana ini sangat mirip sekali dengan rumah mewah milik Datuak Maringgih di masa lalu, namun lebih modern," ucap Kanis takjub.


Mata Kania menatap bangunan bagonjong itu.


Perlahan Kania dan Alex melangkahkan kakinya menuju pekarangan Istana Pagaruyung.


Selangkah demi selangkah, kaki dua insan itu menjelajahi Istana Pagaruyuang dengan perasaan yang berbeda.


Kesedihan!


Kerinduan!


Semua rasa membaur menjadi satu di hati Kania dan Alex. Mereka berdua seolah berada di masa lalu yang sesungguhnya.


'Abak, Bundo, Kania pulang kampung. Kania dan Alex mengunjungi Abak dan Bundo karena kami berdua akan segera menikah, jadi kami ingin meminta Resti,' ucap Kania di dalam hati dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya tanpa henti.


Alex paham dengan perasaan Kania karena ia juga merasakan hal yang sama dengan Kania. Ia menggenggam tangan Kania dengan erat, kemudian tanpa suara dua insan itu secara perlahan menaiki anak tangga Istana Pagaruyuang.


"Assalamualaikum," ucap Kania dan Alex serentak.


Mereka berdua seperti berkunjung ke rumah sendiri, rumah yang telah lama tidak mereka datangi.


Kania dan Alex menyusuri setiap sudut rumah dengan perasaan berkecamuk, serta memperhatikan semua yang mereka lihat di Istana Pagaruyuang. Ya, tempat yang saat ini lebih di kenal dengan museum itu mengingatkan Kania dan Alex dengan masa lalunya.


"Sayang, itu tertulis kamar Siti Nurbaya," tunjuk Alex langsung tertuju kepada salah satu ruangan yang sangat berbeda dan mencolok dari ruangan-ruangan lainnya.


"Kita harus masuk ke ruangan itu!" ujar Kania dengan tatapan datar dan lurus ke depan.


Kania memasuki kamar itu, kamar yang terlihat mewah dengan ornamen-ornamen klasik yang memang lebih terlihat seperti kamar pengantin.


'Dimana Siti meletakkan surat itu?' batin Kania.


Kania terus berpikir sembari mencari setiap sudut ruangan sebuah surat yang ditinggalkan oleh Siti.


"Sayang, apakah kita perlu memotret tempat ini?" ujar Alex tiba-tiba, seolah ia ingin mengabadikan moment indah kembalinya ia ke kampung halaman.


Kania hanya mengangguk tanpa menatap atau berkata apapun kepada Alex karena fokus Keyla saat ini adalah mencari surat dari Siti seperti yang terdapat dalam mimpinya.


"Sayang, coba lihat di bawah bantal!" ujar Alex tiba-tiba.


Tidak mungkin juga Siti menyimpan surat di bawah bantal, kalau pun ia menyimpan disana tentu saja telah ditemukan oleh orang-orang yang berkunjung ke Istana Pagaruyung ini. Tapi, apa yang dikatakan oleh Alex mungkin saja benar, mana tahu ada sebuah keajaiban yang terjadi. Toh, semua yang terjadi akhir-akhir ini memang sebuah keajaiban yang masih menjadi misteri.


"Sayang, coba dilihat!"


Alex berusaha meyakinkan Kania kalau apa yang ada di pikirannya mungkin saja benar.


Dengan ragu-ragu Kania memeriksa sesuatu di balik bantal kamar pengantin itu, karena tidak ada yang mustahil jika memang itu keajaiban.


Ya, kamar pengantin yang terlihat mewah dan megah untuk ukuran orang zaman dahulu, penuh dengan hiasan bunga-bunga dan pernak-pernik berwarna-warni asli Minangkabau.


'Andai kamar pengantin ini adalah kamar pengantin Siti dan Uda Syamsul, pasti aura dari kamar ini akan memancarkan kebahagiaan dan keceriaan. Sayangnya ini kamar pengantin yang disiapkan oleh Datuak Maringgih untuk Siti, walaupun terlihat megah namun rasanya menyedihkan,' ucap Kania di dalam hati dengan air mata yang jatuh membasahi pipi bulatnya, karena aura kesedihan begitu kental dirasakannya.


"Sayang, kamu kenapa menangis? Tidak jadi melihat di bawah bantal itu?"


Alex juga terlihat sangat sedih melihat kekasih hatinya menangis, ia sangat paham dengan hal-hal aneh yang ia lihat pada diri Keyla karena itu mungkin saja adalah ungkapan perasaan Siti.


"Eh, i-iya, Sayang, maaf!"


Kania gugup, dengan nada suara bergetar ia menghapus air mata yang jatuh di pipinya, kemudian ia melihat di bawah bantal.


"Sayang, bukankah itu ...."


Kania dan Alex terlihat heran, ketika mereka melihat memang ada sebuah surat di bawah bantal.


"Sayang, apakah tidak ada yang menemukan surat ini selain kita?" ucap Kania sembari mengambil surat dengan amplop berwarna merah muda, warna kesukaan Siti dan Kania.


"Benar, Sayang, itu mungkin memang surat yang hanya bisa kamu temukan karena ...,"


Alex menghentikan ucapannya, seolah ada sesuatu yang telah terjadi yang membuat lelaki tampan itu heran dan kaget.


"Kena-pa, Sayang?" ujar Kania heran ketika melihat Alex ternganga dengan mata melotot karena heran.


Kania kemudian menatap sekalilingnya dan akhirnya paham kenapa Alex heran. Ya, mereka yang awalnya berada di kamar pengantin Siti dan datuak Maringgih tiba-tiba saja berada di luar rumah gadang. Bahkan saat ini mereka tengah terduduk di taman rumah gadang sembari memegang surat yang mereka dapatkan itu.


Amazing!


Sebuah keajaiban kembali terjadi dan semua itu diluar kendali keduanya.


Bingung!


Tertu saja semua keajaiban yang telah terjadi membuat Kania dan Alex merasa bulu kuduk mereka merinding.


"Sayang, apa aku bermimpi?"


Alex masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya. Begitu juga dengan Kania, mereka benar-benar mengalami kejadian yang terjadi seperti mimpi.