
Hari sudah mulai gelap, dan mobil Eric pun berhenti di basement apartemennya. Kyra yang kelelahan pun tertidur di sampingnya.
"Kenapa akhir-akhir ini kamu sering sekali tidur di waktu petang? Itu tidak baik tau" Eric segera turun dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil dan langsung menggendong Kyra yang tengah tertidur. "Kamu pasti kelelahan"
Setelah sampai di apartemennya, Eric segera membawa Kyra ke kamarnya. Kyra yang kelelahan, akhirnya tertidur pulas sampai keesokan harinya.
Kyra merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Ia pun membuka matanya.
"Kamu sudah bangun? cepat mandi dan sarapan" kata Eric yang masih menggunakan baju tidur sambil merapikan gambar Kyra.
"Kakak sudah masak? jam berapa Kakak bangun?" ucapnya sambil mengerjapkan matanya.
"Sudah dari pukul 5 tadi"
Kyra pun menoleh ke arah jam dinding dan menunjukkan pukul 8 pagi.
"Ini sudah jam 8. Kenapa Kakak masih belum siap? Nanti kakak akan telat" kata Kyra sambil segera turun dari ranjangnya.
"Aku tidak akan pergi ke kantor, siapa yang akan menjagamu kalau aku pergi ke kantor? Kamu akan bosan sendirian di apartemen" ucap Eric sambil menaikkan lengan baju tidurnya.
"Kakak bilang sangat sibuk akhir-akhir ini, pekerjaan jauh lebih penting. Pergilah ke kantor. Aku akan baik-baik saja di rumah"
"Bagaimanapun juga aku tetap tidak tega. Kamu sedang hamil, kalau terjadi sesuatu kepadamu bagaimana?"
"Aku bisa jaga diriku sendiri, sekarang sana pergilah" kata Kyra lalu mendorong tubuh Eric ke arah pintu.
"Aku tetap tidak akan pergi. Kamu cepat mandi dan sarapan lah"
Eric segera keluar dari kamar Kyra dan menuju ke kamarnya.
"Kakak ini perhatian atau terlalu protektif? Bagaimana bisa dia tidak akan pergi ke kantor? Apa dia mau di rumah terus?" gumamnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Eric sudah mengganti pakaian dengan kaos oblong dan celana pendeknya, dia kini sedang berada di meja makan. Begitupun juga dengan Kyra, setelah selesai mandi dan berganti pakaian dia segera menghampiri Eric di dapur.
"Kak?"
"Ada apa?" kata Eric sambil menata piring.
"Pergilah ke kantor"
"Sudah aku bilang aku tidak akan pergi. Kamu akan sendirian di apartemen, aku tidak akan tenang"
"Oh iya tadi Mikha bilang kalau dia mau ke sini. Jadi Kakak tenang saja, dia akan bersamaku di sini. Kakak pergilah ke kantor dan jangan khawatir"
"Benarkah?"
"Dia bilang, dia cuti dan dia akan segera kesini"
"Baiklah kalau begitu, aku akan menunggunya sampai dia datang lalu aku akan pergi ke kantor"
"Kakak tidak keberatan jika temanku ke sini?"
"Kenapa masih bertanya? Bukankah dulu dia juga pernah datang ke sini?"
"Ah iya aku lupa"
"Sudahlah cepat habiskan sarapanmu"
Kyra pun segera melahap roti yang sudah disiapkan Eric beserta buah-buahan yang sudah dikupas.
Tak lama kemudian bel apartemen mereka pun berbunyi. Kyra segera berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Kyra ..." sapa Mikha dari balik pintu.
"Aku sudah menunggumu Mikha, masuklah''
Kyra dan Mikha pun masuk ke dalam apartemen dan duduk di sofa ruang tamu.
"Aku bawakan sesuatu untukmu" kata Mikha sambil menyodorkan sebuah paper bag kepada Kyra.
"Apa ini Mikha?"
"Bukan apa-apa hanya beberapa cemilan" ucap Mikha sambil tersenyum.
Kyra mempersilakan Mikha duduk dan dia segera pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin.
Setelah Kyra kembali kearah ruang tamu Eric juga baru keluar dari kamarnya.
"Temanmu sudah ke sini?" tanya Eric yang kini sudah berpakaian rapi.
"Sudah, dia ada di depan"
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Tidak sampai sore aku akan pulang. Kamu baik-baik di rumah ya" ucap Eric sambil membenarkan dasinya.
"Ya jangan khawatir"
Eric pun berjalan melewati ruang tamu dan diikuti Kyra dibelakangnya sambil membawa nampan berisi air dingin.
"Hey kamu tolong jaga Kyra sebentar" ucap Eric kepada Mikha.
"Aku pergi dulu ya"
Kyra mengangguk dan Eric segera keluar dari apartemen.
"Kyra duduklah. Aku ingin mendengar ceritamu selama beberapa hari ini"
Kyra pun segera duduk di samping Mikha lalu meletakkan nampan di atas meja.
"Jadi kamu beberapa hari ini berada dirumah orang tuamu?"
"Iya Mikha, setelah pulang dari rumah sakit kakak langsung mengajakku pulang ke rumah ayah"
"Kenapa jika kalian pulang, bukankah orang tua kalian ..." ucap Mikha menggantung.
"Heemm ... Mereka sudah tahu semuanya" kata Kyra dengan santainya.
"APA?" pekik Mikha terkejut. "Lalu bagaimana? Apakah kedua orang tuamu marah? Apakah Ayah mu langsung memukuli kakakmu? Atau mereka mengusirmu? Jangan-jangan mereka membuang mu dan kakakmu dari keluarganya"
Kyra pun tertawa kecil melihat reaksi Mikha. "Awalnya juga aku berpikiran seperti itu, tapi ternyata kenyataannya berbeda"
"Perbedaan maksudmu?"
"Ayah dan ibu memutuskan untuk menikahkan ku dengan kakak"
"Apa ..." Mikha pun tersentak kaget. "Apa kamu bercanda? Apa kamu sedang mabuk? Apakah kamu sedang mengigau Kyra? Bagaimana bisa kalian menikah? Itu tidak mungkin" kata Mikha yang masih tercengang.
"Huuhh ... Awalnya aku juga mengatakan itu kepada ayah, ketika aku mendengar bahwa mereka akan menikahkan ku dengan kakak. Tapi kenyataannya mereka malah bilang bahwa Kak Eric sebenarnya bukanlah kakak kandungku. Kak Eric adalah anak angkat dari ayah dan ibu, hanya saja selama ini dia kehilangan ingatannya"
Mikha membelalakkan matanya tak percaya di dalam otaknya masih mencerna kata-kata Kyra.
"Benarkah? Apa ini mimpi? Jangan-jangan kamu bermimpi dan ini semua hanya khayalan mu saja. Hey bangunlah Kyra" ucap Mikha sambil menggoyang-goyangkan paha Kyra.
"Aku bicara yang sebenarnya Mikha. Aku tidak sedang bermimpi ataupun menghayal, awalnya aku juga tidak percaya, tapi ... Kenyataannya memang begitu"
"Aku sangat senang sekali mendengar kabar ini Kyra. Aku berharap ini bukanlah mimpi" ucap Mikha dengan tulus.
"Aku juga demikian Mikha. Aku masih tidak percaya bahwa Kak Eric ternyata bukanlah kakakku"
"Akhirnya kamu bisa bersama dengan orang yang kamu cintai" ucap Mikha hampir menitikkan air matanya.
"Kenapa kamu yang malah menangis? Justru aku yang seharusnya menangis terharu disini"
"Aku ini sahabat mu. Bagaimanapun juga aku sudah merasakan kesedihan dan penderitaan mu selama ini. Meskipun kamu tidak banyak bicara, tapi aku tahu kalau kamu begitu mencintainya. Hanya saja kamu tidak mau mengatakannya, karena kamu malu. Kamu tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak waras karena telah mencintai kakakmu sendiri"
"Mikha ..." ucapnya terharu. "Ternyata kamu selama ini benar-benar memahamiku"
"Tentu saja bodoh. Kamu pikir setelah kamu dikhianati oleh satu orang, maka kamu sudah tidak bisa percaya lagi kepada orang lain. Hey aku Mikha bukan Nuril. Aku tidak akan menusuk orang dari belakang, aku lebih suka bertarung di depan" ucapnya sambil berkacak pinggang.
"Terima kasih Mikha" Kyra pun memeluk Mikha, dan Mikha pun membalasnya.
"Kyra, Apa kamu tahu yang aku rasakan sekarang ini? Aku benar-benar bahagia dengan keadaanmu sekarang" Mereka pun melepaskan pelukannya. "Lalu kapan rencana kalian akan menikah"
"Sekitar 2 minggu lagi"
"Apa 2 minggu lagi? Wah ... Hari ini kamu benar-benar membuatku jantungan. Bagaimana bisa kalian menikah dalam waktu 2 minggu? Kalian bahkan belum mempersiapkan apapun"
"Hey aku tidak perlu mempersiapkan apapun. Aku hanya tinggal duduk dan menunggu ayah menikahkanku" gumam Kyra sambil terkekeh.
"Haish ... Aku tahu itu. Dasar. Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?
"Melakukan apa? yang pasti aku akan kembali berkuliah"
"Tapi Kyra, bukankah lebih baik kamu kembali berkuliah setelah kamu menikah nanti. Karena di kampus sudah menyebar berita tentangmu yang tidak-tidak"
"Apa yang perlu ditakutkan Mikha. Orang yang membenciku akan menertawakanku akan hal itu, tapi orang yang benar-benar menyukaiku akan percaya kepadaku. Lagipula sejauh apapun kita berlari, kita tidak bisa menghindari masalah. Bukankah lebih baik kita hadapi"
"Kamu benar Kyra, belum tentu juga saat kamu sudah menikah rumor itu akan hilang. Tapi, apa kamu sudah siap saat kamu kembali kuliah?"
"Aku sudah siap. Bahkan, setelah kamu mengatakan kalau Nuril menyebarkan berita yang tidak-tidak tentangku. Di saat itu aku sudah menyiapkan mentalku untuk semua yang akan terjadi nanti"
Mikha pun merangkul bahu Kyra. "Kamu tenang saja Kyra, kamu tidak sendirian. Aku akan melindungimu"
"Aku tahu itu My bodyguard" Mereka pun tersenyum lebar lalu tertawa bersama. "Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu sudah bisa mendekati Kak Farhan?"
"Jangan bahas tentang dia. Dia itu batu es, sulit untuk dicairkan"
"Kamu salah Mikha, dia adalah pria baik dan juga sangat perhatian. Hanya saja kalian belum mengenal satu sama lain" kata Kyra. "Bagaimana kalau sehabis ini kita ke kantor kakak?"
"Mau ngapain?"
"Membawakan makan siang, dengan begitu kamu ada peluang untuk mendekatinya"
"Tapi apakah dia ..." kata Mikha ragu.
"Kalau belum dicoba mana tahu. Ayo segera bersiap. Kita akan pergi sebentar sebentar lagi"