
Di sebuah cafe, di malam hari Tampaklah Serlyn sedang duduk di meja ujung cafe tersebut. Pandangannya tertuju ke arah pintu cafe sambil sesekali menyeruput segelas kopi.
"Dimana Susan, kenapa dia tidak datang-datang. Aku sudah menunggunya hampir dua jam" gumam Serlyn.
Tak lama kemudian datanglah Susan menghampirinya.
"Kamu kemana saja? Aku sudah menunggumu begitu lama" kata Serlyn.
"Ah, maafkan aku. Aku tadi terjebak macet" ucap Susan sambil duduk di kursi depan Serlyn.
"Oh tidak apa. Kita sudah lama tidak bertemu seperti ini. Kamu mau pesan apa?"
"Emm ... Latte saja"
Serlyn pun memanggil pelayan dan membuat pesanan Susan.
"Oh ya, bagaimana pekerjaan mu Serlyn? Apa kamu suka di rumah sakit itu?'' kata Susan.
"Tentu saja, aku sangat nyaman kerja di sana. Terimakasih ya, jika kalau bukan karena bantuan mu mana mungkin aku bisa bekerja di sana" kata Serlyn sambil tersenyum manis.
"Tidak perlu sungkan, kita kan sudah berteman sejak lama. Sudah seharusnya aku membantumu"
"Hem" gumam Serlyn sambil tersenyum manis pada Susan.
"Permisi" ucap pelayan sambil membawa minuman yang di pesan Serlyn untuk Susan. "Ini pesanannya, silahkan menikmati" lanjut pelayan tersebut sambil meletakkannya di meja.
"Terimakasih" kata Susan lalu pelayan itupun pergi meninggalkan mereka.
"Oh ya Serlyn, kenapa kamu tidak cerita kalau kamu mau menikah dengan Eric? Bukankah kalian baru saja bertemu?" kata Susan penasaran.
"Ya ... itu semua karena ... mmmhh"
"Karena apa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?"
"T-tidak ada. Aku tidak menyembunyikan apapun darimu" kata Serlyn gugup.
"Serlyn ... Kita berteman dan bersahabat sudah hampir sepuluh tahun. Apa aku percaya jika kamu tidak menyembunyikan apapun dariku? Aku tau jelas ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan kepadaku?"
"Emm ... sebenarnya ... sebenarnya ... aku ..."
"Sebenarnya apa?"
"Sebenarnya aku mencintai Eric sudah sejak lama Susan" kata Serlyn lirih. "Waktu kamu menyuruhku untuk ke apartemennya waktu itu ... Aku ... Aku sangat bahagia karena bisa melihatnya lagi"
"Apa maksudmu Serlyn?"
"Aku sudah menyukainya sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama. Aku selalu berusaha mendekatinya tapi ... dia bahkan tidak pernah mau memandangku. Setelah kita lulus, aku sudah tidak pernah bertemu dengannya. Hingga kamu menyuruhku untuk ke apartemennya waktu itu. Aku sangat bahagia Susan, tapi pandangannya kepadaku tetap sama. Aku bahkan yakin kalau dia tidak mengenalku yang dulu pernah satu sekolah dengannya''
"Lalu kenapa dia mau menikah denganmu jika dia saja tidak pernah memandang mu?"
"Ya, keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Apa kau tau, aku pernah mengantarkannya pulang saat mabuk. Tapi tidak ku sangka dia sedang mengoceh tak jelas"
"Mengoceh?"
"Ya, dia bilang dia mencintai Kyra, adiknya sendiri. Saat itu aku pikir dia gila karena mabuk. Tapi tanpa sengaja dia menceritakan kalau dia bukan kakak kandung Kyra. Dia menyembunyikan kebenaran itu dari semua orang termasuk Kyra sendiri. Dari situlah aku mulai cemburu dan iri kepada Kyra. Dia dengan beruntungnya mendapatkan cinta Eric tapi malah tidak pernah menganggapnya" jelas Serlyn.
"Apa? Bukan kakaknya?" gumam Susan tercengang mendengar ucapan Serlyn.
"Dan lagi, suatu hari. Saat malamnya Eric mabuk aku menaruh beberapa obat perangsang dengan dosis tinggi ke minumannya berharap setelah itu, dia mau kepadaku dan kami akan bersama. Tapi sialnya malah Kyra yang mendapatkannya?"
"Apa katamu?" kata Susan terkejut.
"Kamu gila ya?" teriak Susan.
"Ya, aku gila karena cinta"
"Kamu keterlaluan Serlyn, apa kamu tau? Kyra hamil dan Eric sangat marah karena itu, dia bahkan ingin membunuh anak Kyra yang berarti juga anaknya sendiri" kata Susan hampir tak percaya dengan perbuatan sahabatnya itu.
"Aku tau, aku tau kalau dia hamil"
"Lalu kenapa kamu tidak mundur dan kasih penjelasan kepada Eric?"
"Tidak mungkin Susan. Aku tidak akan mundur. Aku mencintainya dan dia hanya boleh menjadi milikku. Tidak ada yang boleh memilikinya meskipun itu adalah Kyra"
"Kamu benar-benar gila Serlyn. Kamu tau, tanpa kamu sadari, kamu sudah menghancurkan hidup Kyra"
"Menghancurkan apa? Aku dan adikku sudah merencanakan semuanya. Dengan foto yang aku kirim pasti Eric mengira anak itu adalah anak Zian. Dan zian akan menikahinya dengan begitu bukankah kita impas. Dia juga akan mendapatkan seorang laki-laki yang akan bertanggung jawab kepadanya"
"Kamu sudah banyak berubah Serlyn. Karena kamu sahabatku maka aku sarankan kamu untuk segera memberitahukan Eric apa yang sebenarnya terjadi" kata Susan sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan harap Susan" ucap Serlyn sambil berdiri dari tempatnya.
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku ikut campur" ancam Susan.
"Kalau kamu berani memberitahu Eric, maka aku akan bunuh diri" kata Serlyn mengancam.
"Kamu jangan gila Serlyn. Apa kamu tidak kasihan kepada Kyra? Dia sangat menderita sekarang" teriak Susan tak tertahankan.
"Aku tidak peduli Susan. Aku benci dengannya. Biarkan saja dia menderita. Aku benci karena Eric lebih mencintainya"
"Serlyn kamu ..."
Plak
Satu tamparan keras mendarat di pipi Serlyn dan membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
"E-eric" gumam Susan yang melihat Eric tiba-tiba datang dan menampar Serlyn.
"Ugh ... ssstt ..." desis Serlyn kesakitan dia pun menoleh ke arah seseorang yang menamparnya. "Eric?"
"Dasar wanita ja*Lang. Berani-beraninya kamu menipuku" kata Eric geram.
Serlyn pun segera berdiri dan memeluk lengan Eric.
"Eric, dengarkan penjelasan ku dulu. Ini tidak seperti apa yang kamu kira"
"Lalu apa? Aku sudah mendengar semuanya. Aku tadinya ingin minta penjelasan kepadamu, Susan memberitahu ku kalau dia akan bertemu dengan mu jadi aku segera datang ke sini. Dan apa yang aku dapat? Ternyata kamu di balik kesalah pahaman semua ini" ucap Eric sambil menghempaskan tangan Serlyn dari lengannya.
"Tidak tidak Eric, maafkan aku. maafkan aku" kata Serlyn kembali memeluk lengan Eric. "Aku mohon Eric maafkan aku, jangan batalkan pernikahan kita. Kau sangat mencintaimu Eric. maafkan aku" Serlyn pun menangis berharap Eric memaafkannya.
"Cukup" bentak Eric. Iapun memegang erat tangan Serlyn. "Sedari awal kita tidak ada hubungan apapun. sekarang pun juga begitu. Tapi ... aku tidak akan bisa memaafkan perbuatanmu" kata Eric hendak menyeret Serlyn.
"Gawat, Eric sangat kejam jika marah. Serlyn pasti tidak akan bisa lepas darinya" batin Susan.
"Ric" Susan pun menghentikan Eric. "Ric, ini semua adalah salahku, andai aku tau, mungkin hari itu aku tidak akan menyuruhnya datang ke apartemen mu. Ric, aku tau kamu tidak bisa memaafkan dia. Tapi ... Dia adalah sahabatku Ric, sama halnya dengan mu" kata Susan berharap Eric melepaskan Serlyn.
Eric pun melepaskan tangan Serlyn.
"Baiklah, demi Susan aku akan melepaskanmu. Tapi ... jangan harap aku akan memaafkanmu. Aku akan pastikan kamu akan membayar semua apa yang telah kamu lakukan kepadaku" ucap Eric dengan tatapan tajamnya.