
Satu pukulan keras dari pak Daniel mendarat di pipi Eric dan membuatnya jatuh ke lantai.
"Kakak" teriak Kyra.
Kyra pun segera mengahampiri Eric yang tengah terduduk di lantai.
"Ayah, ayah ... Tahan emosimu yah" kata Bu Sofia sambil menahan suaminya yang hendak menghampiri Eric.
"Lepaskan aku Bu, aku harus memberi dia pelajaran" kata pak Daniel yang sudah terlewat emosi.
"Yah, kita bisa mendengar penjelasan mereka dulu. Siapa tau, Eric hanya asal bicara. Eric tidak mungkin melakukan itu. Kyra adalah adiknya" ucap Bu Sofia.
"Kakak ... Apa kamu baik-baik saja" gumam Kyra lirih sambil memegangi wajah Eric dan terdapat darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Eric yang masih duduk di lantai pun kini mengangguk menanggapi gumaman Kyra. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir" lanjutnya mencoba menenangkan Kyra yang kini sedang menangis.
Eric lalu mencoba berdiri dan membantu Kyra berdiri di sampingnya.
"Kyra, cepat katakan. Tidak mungkin, kakakmu yang melakukan itu kan? Kakakmu tidak mungkin berbuat seperti itu kepadamu" kata Bu Sofia dengan nada khawatir.
"Ibu ..." Kyra pun memberanikan diri untuk menjelaskannya kepada mereka. "Ini memang benar anak kakak" lanjutnya lirih.
Mendengar penuturan Kyra, seketika Bu Sofia pun melemas dan melepaskan tangannya di lengan pak Daniel.
"Hufft" desah pak Daniel sambil memegangi kepalanya. "Kalian berdua sangat mengecewakan ayah. Apa ini yang ayah ajarkan kepada kalian selama ini?"
"Ayah, ini kecelakaan. Kita tidak pernah ber-"
"Mau menjelaskan apa? apa kamu mau mengatakan kalau itu tidak sengaja? Sudah ada bayi di dalam perutmu dan kamu masih mau mengatakan kalau itu tidak di sengaja?" kata pak Daniel memotong kalimat Kyra.
"Ayah ... Aku bersedia untuk-"
Sebelum Eric menyelesaikan kalimatnya, pak Daniel pun mengangkat tangannya mengisyaratkan Eric untuk berhenti bicara.
"Aku tau apa yang akan kamu katakan. Ini bukan masalah sepele, yang harus kamu putuskan sendiri" kata pak Daniel sambil menghembuskan nafas dengan kasar. "Hufft, sebelum masalah ini terselesaikan. Kalian tidak boleh kemana-mana, tinggallah di sini beberapa hari"
Pak Daniel pun pergi meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri di tempatnya.
"Kalian ..." gumam Bu Sofia lirih sambil memandang kedua anaknya tersebut, lalu pergi menyusul pak Daniel.
Setelah sampai di kamarnya pak Daniel segera membuka laci dan mencari obatnya di sana.
"Yah, ini airnya" ucap Bu Sofia yang menyusul pak Daniel masuk ke kamarnya sambil membawa segelas air putih.
Tanpa banyak bicara pak Daniel pun segera menelan obat tersebut lalu meminum air yang di berikan Bu Sofia.
"Huuuhh" gumam pak Daniel sambil memberikan gelas kepada Bu Sofia kembali.
Beliau pun duduk di ranjangnya sambil menghela nafas panjang.
"Yah ... Apa yang akan kita lakukan sekarang?" ucap Bu Sofia sambil duduk di sebelah pak Daniel.
"Biarkan aku bernafas dulu Bu, dadaku masih terasa sesak karena habis marah-marah"
Dalam beberapa saat, mereka pun duduk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
Setelah obat yang di minum pak Daniel sudah bereaksi, barulah beliau sudah mulai tenang.
"Lalu? Menurutmu kita harus apa Bu?"
"Kita nikahan saja mereka yah, kita bilang kepada Eric kalau dia hilang ingatan dan bukan putra kandung kita. Setelah itu, kita bisa menikahkan mereka" ucap Bu Sofia.
"Kenapa harus menjelaskan kepada Eric? Dia sudah ingat masa lalunya"
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Entahlah, apa kamu tidak lihat tadi? Dia bahkan ingin mengatakan jika mau bertanggung jawab kepada Kyra. Dari gerak-geriknya, aku rasa dia sudah mengingat masa lalunya dan mengingat siapa dia sebenarnya" jelas pak Daniel.
"Apa kamu sudah gila? Apa yang akan di katakan orang-orang nanti setelah kita menikahkan mereka? Putri dari Tuan Daniel menikah dengan kakaknya. Atau, pak Daniel ternyata membesarkan seorang anak laki-laki untuk di jadikan menantunya? Kita tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan ini Bu"
"Lalu? Apakah ayah akan membiarkan Kyra melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa seorang suami? Bagaimana dengan nasib Kyra kita nanti yah" ucap Bu Sofia yang kini tak mampu membendung air matanya. "Mereka memang salah kali ini yah, tapi ... Tolong pikiran anak kita, bagaimana dia menjalani hidup nantinya"
"Aku tau itu Bu, aku juga sedang memikirkannya. Aku akan mencari laki-laki untuk di nikahkan dengan Kyra secepatnya"
"Itu tidak mungkin. Setelah tau Kyra hamil, laki-laki mana yang mau menikahinya yah? Nikahkan saja dia dengan Eric, lagipula kita yang telah membesarkan dan mendidiknya. Kita jelas sudah tau perangai dan sifatnya"
"Aku tidak akan menikahkan mereka" ucap pak Daniel dengan tegas.
"Kenapa? Kenapa ayah egois sekali?"
Di tengah perseteruan pak Daniel dengan istrinya, di waktu yang sama Kyra dan Eric sedang berada di ruang tamu menunggu ayahnya.
"Kakak, duduklah" kata Kyra sambil memegang lengan Eric. "Aku akan mengambil kotak obat sebentar"
Kyra pun segera pergi ke ruang tengah untuk mengambil kotak obat. Tak berselang lama, ia pun kembali ke ruang tamu dan duduk di sebelah Eric.
"Sini biar aku lihat" kata Kyra sambil memegangi kedua pipi Eric.
"Aku tidak apa-apa" ucap Eric dengan lembut sambil membelai rambut Kyra.
"Tidak apa-apa apanya? Ayah tadi memukulmu dengan keras, lihatlah bibir kakak jadi berdarah. Pipi kakak juga memar"
"Ini cuma luka kecil, tidak sebanding dengan luka yang diderita oleh ayah. Dia pasti terpukul dan syok sekali, karena anak perempuan satu-satunya hamil dan di hamili oleh kakaknya sendiri"
"Aku tau itu ..." ucap Kyra sambil membersihkan noda darah di sudut bibir Eric. "Aku juga sangat sedih melihat ayah marah seperti itu, aku takut ayah akan kambuh penyakitnya dan ayah ..."
"Sssttt, jangan bicara sembarangan. Ayah akan baik-baik saja, aku yakin itu. Setelah ini, ayah pasti akan memaafkan kita" kata Eric dengan santainya.
"Bagaimana kakak bisa seyakin itu?"
"Tentu saja, karena aku tau ayah sangat menyayangi kita" kata Eric lalu tersenyum.
"Jangan tersenyum terlalu lebar, nanti berdarah lagi" kata Kyra sambil mengoles salep ke pipi Eric. "Lalu? Apa yang akan di lakukan ayah setelah ini? Mungkinkah kita akan di usir, dan tidak di anggap anak lagi?"
"Kamu terlalu berlebihan, mana mungkin ayah mengusir kita"
"Lalu? Aku sangat khawatir sekali ..."
"Kyra ..."
Kyra pun menoleh dan menatap Eric.
"Apa kamu mencintaiku?" lanjut Eric.
"K-kenapa kakak tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Cukup jawab aku jangan bertanya lagi, aku hanya ingin memastikan sesuatu"
"Ya ... Entahlah ... Tapi sepertinya, aku tidak bisa jauh dari kakak. Aku hanya ingin kakak selalu berada di sampingku. Aku juga tidak suka kakak dekat dengan wanita lain. Perasaan seperti itu ... Entah kapan aku mulai merasakannya ... Yang pasti, aku nyaman dan bahagia jika bersamamu. Aku sedih saat kamu terluka, aku juga sangat khawatir jika kakak tidak mengabari ku. Aku-" Kyra pun menghentikan kalimatnya saat Eric tiba-tiba memeluknya.
"Cukup. Itu sudah cukup. Aku sudah cukup mendengar apa yang ingin aku dengar. Terimakasih Kyra" kata Eric.
Eric pun melepaskan pelukannya dan memegang bahu Kyra sambil tersenyum lebar.
"Kalau begitu, aku akan meyakinkan ayah untuk menikahkan kita"
"Apa? Tidak mungkin. Kakak meskipun aku mencintaimu, tapi kita tidak mungkin menikah"
"Tentu saja mungkin Kyra, karena aku bukan ka-"
"Ehem"