
Di malam hari, semua keluarga Karendra sedang duduk di ruang tengah, menonton TV, ngobrol sambil bercanda.
"Bu, sudah malam nih. Kyra ke kamar dulu ya" ucap Kyra.
"Oh iya. Sudah sana pergi, katanya kamu mau berangkat pagi-pagi besok" kata Bu Sofia.
"Hem, baiklah"
Kyra pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
"Eric, bagaimana dengan perusahaan. Apa mengalami kendala?" tanya pak Daniel.
"Tentu saja tidak ayah, ada mereka bertiga di sampingku. Jadi semua berjalan lancar" jelas Eric.
"Kamu bisa minta bantuan ayah jika kamu mau Ric" lanjut pak Daniel.
"Aku tau, tapi saat ini aku bisa mengatasi semuanya" kata Eric dengan percaya diri.
"Bagaimana dengan pak Freddy, Ric? Apa dia masih berulah?" tanya Bu Sofia yang ikut penasaran.
"Hem ... Beberapa waktu yang lalu dia mencoba menggagalkan proyekku dan juga menggelapkan dana perusahaan" kata Eric.
"Lalu? Apa kamu membiarkannya begitu saja?" lanjut Bu Sofia.
"Tentu saja tidak Bu, dia sudah terlalu lama makan uang perusahaan. Aku tidak akan biarkan dia lolos kali ini" ucap Eric dengan santainya.
"Apa kamu sudah punya rencana Ric?" kata pak Daniel.
"Tentu saja ayah. Jangan meremehkan ku"
"Hufft, baguslah. Ayah tidak akan khawatirkan pak Freddy itu lagi sekarang" lanjut pak Daniel.
"Dia terlalu licik Ric. Ibu khawatir Kyra ..."
"Bu, tenanglah. Aku tidak akan membiarkan dia menyakiti Kyra" kata Eric memotong kalimat Bu Sofia.
"Jangan kamu pikir ayah tidak tau Ric. Beberapa waktu yang lalu dia mencoba mencelakai Kyra, tapi untung saja ada Farhan di sana" ucap pak Daniel.
"APA?" teriak Bu Sofia. "Apa yang terjadi dengan Kyra?"
"Bu, tenanglah. Dia tidak apa-apa, hanya hampir tertabrak. Untung saja ada Farhan yang menyelamatkan dia. Jadi Farhan yang perlu di bawa ke rumah sakit" jelas pak Daniel.
"Ayah tau semuanya? kenapa tidak memberitahu ibu?" ucap Bu Sofia.
"Aku hanya tidak ingin membuat mu panik. Seperti saat ini ... Lihatlah, kamu begitu khawatir" lanjut pak Daniel.
"Tentu saja yah, bagaimana ibu tidak khawatir tentang keselamatan Kyra. Eric, suruh pulang saja dia. Biarkan dia di rumah saja dengan ibu" kata Bu Sofia.
"Bu, dia begitu berambisi jadi seorang dokter. Bagaimana mungkin kita menjadi penghalang keinginannya" ucap Eric.
"Tapi, ibu khawatir sekali Ric"
"Ibu terlalu berlebihan. Lagipula meskipun aku tidak bisa menjaganya di luar, ada anak buah Farhan yang terus memantau Kyra. Ibu jangan khawatir" jelas Eric.
"Betul apa kata Eric, Bu" kata pak Daniel menambahkan.
"Tapi tetap saja, ibu masih khawatir. Apapun bisa saja terjadi" ucap Bu Sofia lirih. "Lalu bagaimana dengan Farhan? Apa dia baik-baik saja?"
"Hem, dia sudah keluar dari rumah sakit dan mulai bekerja" ucap Eric.
"Hey, Ric. Bagaimana pun juga dia telah berjasa karena menyelamatkan Kyra. Beri dia cuti atau kenaikan gaji, jangan terlalu menyusahkannya" kata pak Daniel.
"Sayang sekali kalau orang sepintar dia harus cuti Yah"
"Kamu terlalu tidak punya perasaan" gumam pak Daniel.
"Hahaha, aku hanya bercanda Yah, tentu saja aku sudah menyuruhnya cuti. Tapi dianya saja yang tidak mau, tapi ayah juga jangan khawatir. Aku akan berusaha untuk membuat mereka hidup dengan baik, mereka adalah orang-orang yang begitu berjasa di hidupku" jelas Eric.
"Baguslah, rupanya kamu sudah semakin dewasa sekarang" kata pak Daniel merasa bangga.
"Sudah malam ayah, ibu. Aku akan ke kamar" kata Eric.
"Hem, pergilah" ucap Pak Daniel.
Eric pun beranjak dari tempat duduknya setelah mengucapkan selamat malam kepada kedua orang tuanya.
Dia pun kini melangkahkan kakinya menaiki tangga, namun bukan kamarnya yang ia tuju, melainkan kamar Kyra.
"Kenapa lampunya belum mati? Apa dia belum tidur?" gumam Eric yang kini baru saja sampai di depan pintu kamar Kyra.
Eric pun membuka pintunya yang tidak di kunci oleh Kyra, perlahan dia masuk ke dalam kamar Kyra dan mengunci pintunya.
"Ck, dasar kebiasaan" gerutu Eric.
Eric pun menghampiri Kyra dan menggendongnya agar tidur dengan posisi yang benar. Sesaat Eric pun menyelimuti Kyra dan ikut meringsak di baliknya.
Kyra yang sadar jika ada seseorang di sampingnya mulai membuka mata.
"Eemmm ..." gumam Kyra sambil menyipitkan matanya. "Kakak, kenapa kamu tidur di sini?" kata Kyra dengan suara sedikit serak.
"Kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Eric.
"Hmm... terserah kakak deh" kata Kyra sambil membalikkan badannya lalu mencoba memejamkan matanya kembali.
Eric pun semakin mendekatkan tubuhnya ke Kyra dan melingkarkan tangannya di pinggang Kyra.
"Kak, lepasin dong. Sesek nih, aku jadi sulit nafas" kata Kyra dengan masih menutup matanya.
"Aku bisa membantumu bernafas" bisik Eric yang kini wajahnya sudah berada di tengkuk Kyra.
Seketika Eric membalikkan badan Kyra menghadap dirinya, seketika itu juga Kyra membuka matanya.
Mereka berdua begitu dekat, sampai Kyra bisa merasakan nafas Eric yang menyapu wajahnya.
"Kak, minggir dikit napa. Aku jadi gak bisa tidur" ucap Kyra.
"Baiklah, tidak usah tidur kalau begitu" bisik Eric dengan santainya.
"Gak bisa, aku ngantuk banget. Udah ah, sana" kata Kyra sambil berusaha mendorong tubuh Eric.
Dengan cepat Eric malah membungkam mulut Kyra dengan bibirnya yang membuat Kyra terkejut.
Dengan lembut Eric melu*mat bibir Kyra. Berbeda dengan kemarin malam, Kyra justru malah merasa nyaman dengan ciuman Eric dan membalasnya.
Tidak ada suara di ruangan tersebut selain suara cecapan dan lidah mereka yang saling beradu. Perlahan Eric mulai mengarahkan tangannya ke piyama yang di kenakan Kyra.
Tangan Eric mulai menelusup ke balik piyama Kyra dan mulia menggerayangi perut rata Kyra. Kyra yang merasa geli mulai menggeliat badannya dan sesekali meleng*uh. Semakin Kyra mendesah Eric justru malah semakin memperdalam ciumannya, mengantisipasi agar suara Kyra tidak terdengar dari luar kamarnya.
Semakin lama Kyra semakin terbuai, hingga tanpa ia sadari tangan Eric sudah menangkup kedua buah da*danya yang tidak terbalut bra.
"Emmmhhh" desah Kyra ketika Eric memainkan tangannya.
Merasa kehabisan nafas,Kyra pun melepaskan ciumannya.
"Huh, huh ... Kak" ucap Kyra Terengah-engah.
"Hem?" gumam Eric sambil memandang Kyra dan masih memainkan tangannya di dada Kyra.
"Sssttt, aku capek sekali hari ini. Bisakah kamu melepaskan ku" kata Kyra sambil menahan rasa geli akibat ulah Eric.
"Gak mau" kata Eric dan malah semakin keras di mere*mas buah da*da Kyra.
"Akkhh, kak ..."
"Hahaha, baiklah baiklah" ucap Eric sambil melepaskan tangannya. "Aku hanya menggodamu saja"
"Ck, dasar" gumam Kyra.
Eric pun melingkarkan tangannya di pinggang Kyra dan masih menatap Kyra dengan tersenyum.
"Kak, aku ngantuk" kata Kyra.
"Tidurlah" ucap Eric sambil mengelus rambut Kyra.
Kyra pun mulai memejamkan matanya dengan badan mereka saling berhadapan.
"Lagipula, kenapa hari ini kamu terlihat lelah sekali huh? Kamu habis maraton ya" gumam Eric sambil masih mengusap rambut Kyra.
"Pura-pura aja terus" gerutu Kyra yang masih memejamkan matanya.
"Eh? belum tidur?" kata Eric.
Dan Kyra malah menyeruak kan kepalanya ke dada bidang Eric sambil melingkarkan tangannya di pinggang Eric.
"Kamu barusan bilang apa?" tanya Eric yang tidak mendengar gerutuan Kyra.
"Tidak ada, ayo tidur"
"Hem?"