What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 106



"Bi, papa belum pulang ya?" kata Mikha sambil berjalan ke arah ke arah kulkas hendak mengambil air minum.


"Belum non, mungkin besok akan pulang" kata bi Rumi pembantu rumah tangga keluarga Mikha.


"Oh" gumam Mikha sambil meneguk air minumnya namun tiba-tiba ia tersedak hingga membuatnya kesakitan dan merasa air yang di minumnya masuk ke dalam paru-parunya. "Uhuk uhuk, uhuk uhuk" Mikha memukul-mukul dadanya.


"Non,non Mikha tidak apa-apa?" kata bi Rumi sambil mengelus-elus punggung Mikha.


"Uhuk, uhuk... tidak apa-apa bi"


"Hati-hati non"


"Hemmm"


"Ugghh, sakit sekali" batin Mikha sambil mengusap-usap dadanya. "Huhhft, bagaimana keadaan tuan Farhan sekarang? Aku tiba-tiba memikirkan dia dan ingin menghiburnya. Tapi ... Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tau alamat dan nomor ponselnya"


"Non Mikha, sudah tidak apa-apa?"


"Tidak bi, aku akan kembali ke kamarku"


Mikha segera berjalan ke arah kamarnya yang berada di lantai atas. Ia segera mencari-cari ponselnya dan menelepon seseorang.


"Halo Mikha? Ada apa?" kata Kyra dari balik telepon.


"Eemm ... Itu Kyra, bolehkah aku minta nomor ponsel tuan Farhan. Ada barangnya yang tertinggal, jadi aku ingin mengembalikannya" ucap Mikha berbohong.


"Oh, ok. Aku akan kirimkan padamu lewat chat nanti"


"Baiklah, Terimakasih"


Mikha segera mematikan panggilan teleponya. Dan tak lama kemudian, Kyra mengirimi nomor Farhan. Mikha yang sedari tadi khawatir, ia pun segera memencet nomor tersebut berharap Farhan mengangkat teleponnya.


"Nomor yang anda tuju sedang-"


"Ish, kok gak aktif sih" gerutu Mikha kesal.


Dia duduk termenung di pinggir ranjangnya sambil memikirkan sesuatu agar dia bisa bertemu dengan Farhan.


"Bagaimana caranya? Apa aku tanya Kyra saja, di mana rumahnya?" gumam Mikha. "Tapi, jelas dia pasti tidak di rumah sekarang. Huhhft ... Ayolah, aku sangat mengkhawatirkannya sekarang" Mikha terdiam sejenak, lalu ia pun terpikirkan seseorang yang bisa membantunya saat ini. "Bang Jio. Ya, dia pasti bisa menolongku"


Mikha segera bergegas mengambil Hoodie warna peach kesukaannya. Ia segera mengambil ponsel dan dompetnya lalu segera berlari keluar dari kamarnya.


"Non, malam-malam begini mau kemana?" kata bi Rumi yang melihat Mikha berjalan tergesa-gesa.


"Ke rumah bang Jio bi" teriak Mikha dari balik pintu rumahnya dan segera menghilang.


Mikha segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah pamannya. Waktu menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan lima belas menit kemudian Mikha pun sampai di rumah pamannya. Ia memarkirkan mobilnya di halaman rumah keluarga Reighan.


"Selamat malam non, ada yang bisa saya bantu?" kata satpam penjaga.


"Apa bang Jio di rumah?"


"Iya, tuan Jio baru saja pulang dari kantor"


"Baiklah, terimakasih" Mikha segera bergegas masuk ke dalam rumah. Setelah sampai di dalam, pak Willy Reighan alias paman Mikha sedang duduk di meja makan. Dan sang istrinya, Bu Lia sedang menyiapkan makan malam.


"Om ... Tante" teriak Mikha sambil berlari kecil dari ruang tamu.


Pak Willy dan Bu Lia segera menoleh ke arah Mikha. "Mikha? Kamu datang sendirian?" kata Bu Lia.


"Iya Tante, oh ya. Mana bang Jio?"


"Dia di kamarnya" kata pak Willy. "Ada apa mencari Abang mu?"


"HANYA KANGEN SAJA" teriak Mikha yang ternyata sudah berlari menaiki anak tangga.


"Haish, anak ini. Masih saja petakilan" gumam pak Willy.


"Namanya juga anak muda pa, biasa lah"


"Ya, tapi melihat gayanya yang seperti itu. Siapa yang mau sama dia"


"Halah, kalau sudah jodohnya. Pasti juga akan di pertemukan"


"Ini karena Raya dan Fino terlalu memanjakan anaknya" kata pak Willy lalu menyeruput secangkir kopi.


"Masih mending, daripada kamu. Lihatlah, anak kita jadi sibuk ngurusin perusahaan daripada sibuk cari istri. Gara-gara kamu nih, selalu maksa dia buat kerja, kerja, kerja terus"


"Lah, itu justru malah bagus. Dengan begitu, Jio akan jadi pemuda yang mapan dan banyak pengalaman sebelum akhirnya dia memiliki keluarganya sendiri. Kamu pikir menikah hanya karena perasaan saja. Dimana-mana finansial yang paling utama"


"Hah, baiklah baiklah. Kamu memang selalu benar pak tua"


Sedangkan kini Mikha sudah berada di depan kamar Jio.


"Bang Jio, kamu sedang apa?" teriak Mikha dari luar kamar Jio. "Bang, aku masuk nih" Mikha hendak membuka pintu namun dia berhenti karena mendengarkan teriakan Jio dari dalam kamar.


"Ck, cepetan dong"


"Mau ngapain sih?"


"Udah belom, aku masuk nih"


"Bentar napa"


Karena sudah tidak sabar, Mikha pun segera masuk ke dalam kamar Jio. Di dalam kamar, tampaklah seorang pria berumur 26 tahun, berkulit putih kini tengah telanjang dada hendak mengenakan kaosnya. Jio terkejut melihat Mikha yang menerobos masuk ke dalam kamarnya. Namun sepertinya, Mikha tak mengindahkan Jio yang kini hanya mengenakan celana pendek dan telanjang dada memamerkan otot-otot perutnya.


"Haish, kan sudah aku bilang aku sedang ganti baju" kata Jio kesal.


"Kamu aja yang lelet" kata Mikha dengan santainya dan kini duduk di sofa kecil milik Jio.


"Kamu ini, bagaimana pun juga kamu ini perempuan. Kamu gak malu apa masuk kamar cowok sembarangan" kata Jio sambil mengenakan deodoran.


"Malu kenapa? Lagipula, aku sudah terbiasa melihatmu telanjang dari kecil"


"Ck, bagaimana pun juga kita bukan lagi anak kecil. Bagaimana kalau kita khilaf? Kan gak baik" lanjut Jio sambil mengenakan kaos oblong hitam miliknya.


"Maaf saja, aku gak nafsu liat tubuhmu" kata Mikha dengan tatapan sinis kepada Jio.


"Ngajak ribut nih anak" gumam Jio lirih. "Ada apa kamu ke sini?" Jio pun menghampiri Mikha lalu duduk di sampingnya.


"Bang, tolongin aku dong. Tolong lacakin nomor ini" Mikha menyodorkan ponselnya.


"Ogah"


"Ayolah bang, please"


"Gak mau, aku gak punya waktu. Pekerjaan ku banyak, kamu gak liat tuh" Jio menunjuk atas meja yang penuh dengan berkas.


"Bentar aja bang, ayolah. Aku traktir makan deh"


"Gak ah"


"Ayolah, mau apa deh. Aku beliin. Penting banget nih"


"Oke, aku bantuin. Tapi ada satu syaratnya"


"Apa?" kata Mikha penuh semangat.


"Cium dulu" kata Jio menunjuk pipinya.


Ekspresi yang tadinya semangat kini berubah menjadi datar. "Ogah, jijik"


"Ya udah kalau gak mau" Jio tersenyum sambil merebahkan punggungnya.


"Ck, ish ... Ganti yang lain napa syaratnya" rengek Mikha.


"Gak bisa kompromi, gak bisa di tawar lagi"


"Ck, dasar sialan" batin Mikha menahan kesal.


"Kenapa sih, lagian dulu waktu kecil kamu sering menciumku. Kenapa sekarang keberatan?"


"Haish, aku sudah dewasa. Kamu juga. Mana bisa di samain sama masa kecil"


"Tuh tau. Dah ah, gak mau tau. Cium aku . Baru aku bantuin kamu" kata Jio sambil tersenyum dan menarik turunkan alisnya.


"Ck, iya udah deh. Tapi janji bantuin ya"


"Ya"


Mikha mendekatkan wajahnya ke wajah Jio dengan ekspresi enggan dan malas. Dia menempelkan sedikit bibirnya ke pipi Jio.


"Udah"


"Gak berasa. Emang kamu nyium aku ya tadi?"


"Jangan bercanda deh" kata Mikha kesal. "Aku buru-buru nih, niat bantuin gak sih"


"Tergantung seberapa niat kamu menciumku" Jio tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar"


Mikha pun mencium pipi Jio, bahkan sampai membuat lipstik peach milik Mikha membekas di pipinya.


"Nah gitu dong" Jio tersenyum lebar sambil mengacak-acak rambut Mikha.


"Ueeeeekkk ... Dasar Ajio sialan" kata Mikha sambil mengusap bibirnya.


"Rasain, emang enak. Salah sendiri nyelonong masuk ke kamar orang"