
"Kakak ... lepaskan aku" pinta Kyra sambil berusaha melepaskan tangan Eric yang ada di pinggangnya.
Eric hanya diam saja tak bergeming melihat Kyra yang berusaha melepaskan diri.
Meskipun Kyra mengakui kalau dia sangat nyaman berada di dekat Eric, dan terkadang punya hasrat terpendam kepadanya namun hati kecil Kyra selalu mengingatkan, bahwa Eric adalah kakaknya.
"Jalani saja Kyra ... aku tidak akan memaksamu ..." bisik Eric di telinga Kyra.
"Tidak Kak ... Meskipun aku menginginkannya, tapi kamu adalah kakakku" batin Kyra.
Eric pun perlahan menggenggam tangan Kyra dan mencium punggung tangannya. Kyra hanya diam saja, kini jantungnya berdetak lebih kencang.
Semakin Eric dekat dengan Kyra semakin dia tidak bisa menahan dirinya, ingin rasanya Eric memiliki Kyra seutuhnya namun ia tidak bisa bertindak lebih kecuali jika Kyra yang menginginkannya, karena dia tidak ingin Kyra kecewa kepadanya.
Tanpa di sadari kini hembusan nafas Eric terasa hangat di leher Kyra. Entah mengapa Kyra seperti tersihir dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya.
Perlahan-lahan Eric mulai menciumi leher Kyra dan mengecup lembut di sana. Kyra hanya diam saja dan menggigit bibir bawahnya.
Dengan cepat Eric pun membalikkan tubuh Kyra dan perlahan wajahnya mulai mendekati bibir Kyra.
"Tidak, aku harus bertindak tegas kepada kakak"
Sebelum bibir Eric menyentuh bibir Kyra, dengan cepat Kyra memalingkan wajahnya.
Eric pun merasa bingung dengan sikap Kyra.
"Kakak, jaga sikapmu ... aku sudah punya pacar" ucap Kyra sekenanya.
Eric hanya menyeringai dan memalingkan wajahnya.
"Kamu mau menjauhiku ya?" kata Eric lalu menjauhkan tubuhnya dari Kyra. "Kalau begitu, siapa dia?"
"Ayo katakanlah ... Pasti kamu tidak bisa menjawabnya" batin Eric.
"Ehm, itu ..." ucap Kyra menggantung.
"Kamu berbohong kan?"
"Tidak"
"Kalau begitu katakan saja, kenapa kamu harus segugup itu?" ucap Eric sambil memandang Kyra dengan tatapan menyelidiki.
"Hem, dia ... dia ... temanku"
Deg
.
.
.
"Teman? jangan-jangan yang waktu itu di depan kampus Kyra?"
Mendengar penuturan Kyra, entah mengapa Eric menjadi agak sedikit kesal. Dia berfikir setelah semua yang dilaluinya bersama Kyra kenapa dia masih saja memikirkan pria lain? Pikiran egois karena ingin memiliki Kyra kini telah mendominasi Eric.
"Baiklah ... aku akan mengikuti permainanmu ini Kyra, sampai kapan kamu akan bersandiwara ingin menjauhiku?"
"Hem ... baiklah, kapan-kapan kenalkan ke kakak ya?" kata Eric dengan malas sambil berpaling menghadap ke laptopnya lagi.
Melihat ekspresi wajah Eric yang terlihat kecewa, entah mengapa Kyra pun juga merasa sakit di hatinya. Kyra pun menundukkan kepalanya dan meremas ujung bajunya.
Tanpa sepatah kata pun Kyra beranjak dari sofa dan pergi ke kamarnya.
Eric mendengus kesal dan merebahkan punggungnya dengan kasar ke sandaran sofa.
Di dalam kamar Kyra langsung menutup pintunya dan terduduk di sana sambil memegangi dadanya yang entah kenapa merasa sesak.
"Kenapa hatiku sakit sekali melihat kakak seperti itu ... Bukankah ini benar? Semakin aku menjauhi kakak, maka perasaan kakak terhadapku juga akan semakin memudar" ucap Kyra sambil menundukkan kepalanya.
Di malam hari, Eric juga masih sangat sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian ia menerima panggilan dari Susan bahwa Farhan sudah siuman. Tanpa memberitahu Kyra, Eric langsung saja keluar dari rumah dan bergegas ke rumah sakit.
Dan benar saja, Kyra semalaman juga tidak keluar dari kamarnya hingga pagi.
...****************...
Keesokan harinya, Eric bangun pagi sekali dan menyiapkan sarapan untuk Kyra seperti biasa.
Kyra yang sedari tadi sudah siap, kini berjalan keluar dari kamarnya.
"Eh, kamu mau kemana?" sanggah Eric yang melihat Kyra hendak keluar dari rumah.
"Tentu saja ke kampus" jawab Kyra.
"Sarapan dulu" kata Eric sambil duduk di kursi meja makan.
"Aku tidak lapar" ucap Kyra.
Kyra ingin menghindari Eric, namun tidak bisa di pungkiri bahwa kini perutnya juga lapar karena dari kemarin sore belum makan sama sekali.
"Duduklah, aku akan mengantarmu ke kampus hari ini" ucap Eric lalu mengoleskan selai ke sebuah roti yang ada di tangannya.
Kyra hanya menurut saja dan berjalan ke arah meja makan, ia pun menarik kursi dan duduk di seberang Eric.
Tanpa banyak bicara Eric menaruh sebuah roti yang sudah ia olesi selai ke piring Kyra.
"Anggap saja seorang ayah sedang memberi makan anaknya" ucap Eric menyela kata-kata Kyra dengan ketus.
Eric dan Kyra pun mulai menghabiskan sarapannya tanpa ada yang berbicara.
"Kenapa suasananya malah menjadi canggung seperti ini? Tapi bukankah ini yang aku harapkan?"batin Kyra sambil sesekali melirik ke arah Eric.
Setelah selesai sarapan, mereka berdua pun pergi menuju ke kampus Kyra.
Di perjalanan Kyra dan Eric hanya diam saja tidak seperti biasanya, karena Eric tau bahwa Kyra ingin menghindarinya, kini Eric menahan diri dan mencoba untuk mengikuti keinginan Kyra.
Sesampainya di depan kampus.
"Aku pergi dulu ya kak" ucap Kyra yang turun dari mobil dan berjalan menuju ke kampusnya.
Sama seperti Kyra, Eric juga mempunyai suatu rencana untuk membuat Kyra menyerah agar mengurungkan niatnya yang berusaha menjauh dari Eric.
Eric pun turun dari mobil sambil membawa paper bag kecil yang berisikan sebuah ponsel lalu berjalan menyusul Kyra.
"Kyra!" teriak Eric dan Kyra pun berhenti tepat sebelum masuk ke dalam gerbang kampusnya.
Kyra lalu menoleh ke arah Eric. "Ada apa?" tanya Kyra.
Eric pun berjalan mendekati Kyra lalu memberikan paper bag tadi.
"Apa ini?"
"Ponsel baru, kata Farhan ponselmu rusak waktu dia tertabrak kemarin" jelas Eric.
"Hah? kak Farhan sudah siuman?" tanya Kyra sambil menerima paper bag dari Eric.
"Sudah"
"Sejak kapan? kenapa tidak memberi tahuku?" gerutu kyra.
"Eh? kenapa kakak tiba-tiba berubah? tadi di mobil juga masih acuh, tapi sekarang kenapa kembali perhatian lagi?" batin Kyra lalu menatap Eric dengan curiga.
"Kemarin malam, kamu sudah tidur jadi aku tidak memberitahu kamu"
Dari kejauhan Eric melihat Zian dan beberapa teman Kyra yang berjalan hendak masuk ke dalam kampus.
Eric pun menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kyra.
"Seberapa lama kamu akan menjauhiku?" bisik Eric.
"Apa maksudmu?" tanya Kyra terheran-heran.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan, setelah ini kita lihat apakah masih ada yang mau mendekatimu"
Eric lalu menegapkan badannya, melihat Zian yang berjalan semakin dekat, Eric malah meraih tengkuk Kyra.
Dengan cepat Eric langsung mencium bibir Kyra dan mendorong tubuh Kyra ke samping sehingga Zian dan beberapa teman-temannya melihat adegan tersebut.
"Ah... So sweet banget" kata salah satu mahasiswi yang melihat Kyra dan Eric berciuman.
Zian yang kini tengah menyukai Kyra, melihat adegan tersebut yang tepat di hadapannya ia pun mengepalkan tangan.
Sadar kini telah menjadi tontonan, Kyra langsung mendorong tubuh Eric agar menjauh darinya.
"Apa yang kakak lakukan?" ucap Kyra kesal namun setengah berbisik.
Eric hanya menyeringai dan mengusap bibirnya sendiri dengan punggung tangannya lalu mengangkat ujung alisnya menandakan kepuasannya.
Eric pun berjalan mendekati Kyra dan berbisik di telinganya. "Kejutan" sambil menyeringai kembali.
"Kakak" ucap Kyra dengan geram dan setengah berbisik.
"Baiklah sayang, aku akan pergi ke kantor dulu" kata Eric dengan nada sedikit tinggi di buat agar semua orang di tempat itu mendengarnya.
Eric pun mengedipkan sebelah matanya ke arah Kyra lalu berbalik dan meninggalkan Kyra di sana.
Kyra yang masih terdiam di tempatnya tak percaya bahwa Eric akan bertindak seperti itu kepadanya di tempat umum.
"Hey Kyra, itu pacarmu ya ... ah kalian serasi sekali" kata seorang mahasiswi yang menghampirinya.
"Eh bukan ... dia ka—"
"Kyra!" teriak Zian yang kini berada di belakangnya.
Kyra lalu menoleh ke arah Zian. "Ada apa?" tanya Kyra yang terheran karena wajah Zian nampak kesal.
"Tadi itu siapa?" ucap Zian dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu bilang dia kakakmu, lalu kenapa kalian bisa ciuman?" lanjutnya lagi.
"Di—dia memang kakakku"
"Halah, kamu pasti berbohong kan?" kata Zian agak kesal.
Melihat Zian yang seolah-olah memojokkannya Kyra pun malah merasa jengkel.
"Kenapa aku harus menjelaskannya kepada mu? kamu bukan siapa-siapa ku" ucap Kyra lalu pergi dari hadapan Zian.
"kakak ... kamu benar-benar membuatku kesal" batin Kyra sambil berjalan menuju kelasnya.