
"Kyra kamu-" ucap Farhan menggantung sambil memandang ke arah Kyra.
"Hiks hiks hiks"
"Kyra kenapa menangis?" tanya Farhan sambil menepuk punggung Kyra.
"Kenapa hiks ... Aku benci sekali dengannya ..." ucap Kyra dengan berlinangan air mata.
"Hey ... tenangkan dirimu. Jangan terlalu stress, kasihan anak yang ada di dalam perutmu"
"Hiks hiks ..."
"Sudahlah, tenang saja. Ada aku di sini, aku akan menjagamu. Lupakan yang sudah berlalu, yang penting sekarang kamu dan anakmu sudah baik-baik saja?" kata Farhan sambil menarik Kyra ke dalam pelukannya.
Kyra pun menangis di dalam pelukan Farhan. Hatinya masih tidak bisa menerima perlakuan Eric yang telah berusaha membunuh anaknya. Ada rasa kesal dan juga sakit hati ketika melihat wajah kakaknya tersebut.
Malam itu, Kyra tertidur setelah puas menangis di dalam pelukan Farhan. Setelah membaringkan Kyra di ranjang dan menyelimutinya, Farhan pun keluar dari ruangan tersebut. Di luar ruangan, tampaklah Eric sedang duduk di depan ruang inap Kyra.
"Kamu masih ada di sini?" ucap Farhan setelah duduk di sebelah Eric.
"Hem, Apakah dia sudah tidur?"
"Ya, dia baru saja tertidur" ucap Farhan sambil meletakkan punggungnya di sandaran bangku.
Eric pun menghela nafas panjang, hatinya merasa tidak tenang setelah melihat perlakuan Kyra kepadanya.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Eric.
"Kau sudah keterlaluan Ric. Wajar saja dia marah kepadamu" ucap Farhan yang mendengar gumaman Eric.
"Hufft. Aku tau. Aku takut dia tidak akan bisa memaafkan ku"
"Baguslah jika dia tidak bisa memaafkan mu. Perlakuan mu kepadanya memang tidak bisa di maafkan. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, dan kamu malah ingin membunuh anaknya. Sekarang, lihat. Dia kembali masuk ke rumah sakit lagi. Itu semua juga karena kamu" ucap Farhan menyalahkan.
Eric pun terdiam mendengar ucapan Farhan. Dalam hatinya, perasaan bersalah dan juga sedih kini sedang menyelimutinya.
"Tolong ... Selamatkan anak kita"
Kata-kata itu terus berputar di kepala Eric. Ia semakin bersalah karena telah berusaha membunuh anaknya sendiri. Andai saja waktu itu dia tidak marah, andai saja dia tahu yang sebenarnya dari awal, andai saja Susan tidak membohonginya. Maka sekarang dia pasti sudah bahagia bersama Kyra.
"Aku sudah memperingatkan mu Ric, jika dia terluka. Aku akan membawanya pergi darimu" kata Farhan.
"Jangan harap kamu bisa melakukannya Farhan"
"Kenapa tidak? Kamu lihat sendiri. Dia bahkan lebih memilihku tadi daripada kamu"kata Farhan.
"Jangan senang dulu Farhan. Aku tidak akan membiarkan mu membawanya ataupun memilikinya" kata Eric dengan kesal.
"Jika dia yang memilih pergi, apa kamu juga akan menahannya?"
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkannya pergi dariku" kata Eric percaya diri.
"Benarkah? Kamu bahkan baru saja ingin membunuh anaknya. Bukankah itu sama saja mendorong dia untuk jauh darimu? Aku lihat dia bahkan sangat kesal kepadamu akan hal itu" ucap Farhan membuat Eric terdiam. "Ingat Ric, meskipun aku sahabat mu. Dan kamu juga bukan kakak kandungnya. Aku tidak akan menyerah kepada Kyra. Jika bukan dia sendiri yang mendorongku pergi. Tapi jika dia bersedia bersamaku. Maka kamu juga jangan menghalangi keputusannya"
Eric pun diam membisu. Ia masih menyesali kebodohannya tempo hari. Ia menyesal karena tidak menyelidiki ataupun bertanya kepada Kyra tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia terlalu marah dan cemburu yang kini membuat kerenggangan di antara dia dan Kyra.
Farhan pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke masuk kembali ke ruang inap Kyra.
Saat Farhan masuk ke dalam ruangan, di sana terlihat Kyra yang sudah terbangun di atas ranjang.
"Kyra?" ucap Farhan sesaat setelah menutup pintu dan menghampiri Kyra. "Kenapa bangun? Ini masih malam. Tidurlah lagi" kata Farhan sambil mengusap kepala Kyra.
"Aku lapar" ucap Kyra dengan wajah memelas.
"Pfftt, maaf. Aku lupa kamu belum makan sama sekali. Apa kamu masih ingin makan nasi Padang?"
"Tidak, aku ingin makan buah saja" kata Kyra sambil memandang sekeranjang buah di atas nakas.
"Baiklah, tunggu sebentar"
Farhan pun bergegas mengambil beberapa buah dan memotongnya.
"Kak?"
"Apa kakak tidak lelah? Kakak dari tadi menjagaku"
"Kalau lelah ya tinggal tidur saja. Kan ada sofa di sana" ucap Farhan sambil menunjuk ke arah sofa.
"Ya, kan siapa tau kakak lelah dan pengen pulang, istirahat di rumah"
Farhan hanya membalas senyuman kecil ke arah Kyra.
"Kak? Sudah selesai?" ucap Kyra.
"Ya, ini tinggal sedikit lagi" Farhan pun beranjak ke arah ranjang Kyra. "Sini aku bantu duduk" lanjutnya sambil membantu Kyra duduk di ranjang.
"Ughh" gumam Kyra meringis kesakitan.
"Ada apa? Apa perutmu sakit?"
Kyra mengangguk sambil berusaha menaruh punggungnya di sandaran ranjang.
"Hem ... Perutku masih nyeri" kata Kyra.
"Apa perlu aku panggilkan dokter?" kata Farhan khawatir.
"Tidak perlu, ini hanya sakit karena memar kok"
"Hufft, ya sudah. Makan lah" Farhan pun memberikan sebuah piring yang berisi potongan buah. "Perlu aku suapi?"
"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri kok"
"Oh benarkah? Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang jika aku ingin menyuapimu?'' kata Farhan sambil tersenyum menggoda Kyra.
"Apa sih kak. Tadi itu aku cuma mau buat kak Eric pergi dari sini" kata Kyra sambil mengunyah sepotong buah apel.
"Hemm ..." gumam Farhan sambil mengelus rambut Kyra. "Apa kamu begitu membencinya sampai-sampai tidak ingin dia ada di sini?"
"Ya. Aku benci dia" ucap Kyra dengan kesal.
"Lalu? Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan?"
"Apanya?"
"Kyra ..." ucap Farhan lembut sambil duduk di samping Kyra di atas ranjang. "Tidak mungkin kan kamu akan membesarkan anakmu sendiri tanpa seorang laki-laki di samping mu?"
Kyra yang tadinya bersemangat mengunyah beberapa potong buah kini terdiam mendengar ucapan Farhan.
"Lagipula, sebentar lagi perutmu akan membesar. Lalu apakah kamu tidak berencana untuk memberitahu kedua orang tuamu lebih awal? Jika mereka terlambat untuk mengetahui ini, takutnya mereka akan malah marah kepadamu" kata Farhan.
"Tapi ... Aku ... Aku belum siap memberitahu mereka kak" kata Kyra lirih sambil menundukkan kepalanya.
"Kyra ... Sekarang aku tanya kepadamu. Apakah kamu sudah memberi tahu ayah anak ini jika kamu hamil anaknya?"
Kyra hanya mengangguk pelan.
"Lalu? Apa dia akan bertanggung jawab?" tanya Farhan yang sebenarnya belum tau jika anak yang di kandung Kyra adalah anak Eric.
"Entahlah ... Dia akan segera menikah dengan orang lain" gumam Kyra lirih.
"Laki-laki macam apa itu? Dia akan menikah dengan orang lain tapi malah menghamilimu? benar-benar ... Lalu apakah kamu masih berharap bisa bersamanya?" kata Farhan sedikit kesal.
"Tidak. Aku sadar ... Bahwa kita tidak mungkin bisa bersama" ucap Kyra merasa putus asa. "Dia adalah kakakku. Bagaimana mungkin kita bisa bersama"
"Kyra ... Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Entahlah kak Farhan. Semua ini terlalu mendadak untukku. Meskipun begitu, aku juga tidak ingin membunuh anak ini. Tapi aku juga tidak tau apa yang akan aku lakukan"
"Aku punya jalan keluar untukmu"
"Apa itu?"
Farhan pun menaerik nafas dalam-dalam.
"Menikahlah denganku"