What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 21



Di sebuah apartemen.


"Sayang, tumben kamu ke sini pagi-pagi, nggak ke kantor?" kata seorang wanita yang baru keluar dari kamar mandi.


"Enggak" kata Jony kakaknya Farel.


"Kenapa, kamu sudah di singkirkan ya sama papamu?" lanjut wanita itu yang bernama Leni sembari menghampiri Jony yang tengah duduk di sofa.


"Mana mungkin, aku sudah membantu menjalankan rencananya selama bertahun-tahun, mana mungkin aku akan di buang" jelas Jony.


"Lalu?"


"Aish, aku hanya cuti sayang ... aku hanya ingin bertemu dengan mu," kata Jony sembari menarik pinggang wanita tersebut ke dalam pangkuannya.


"Benarkah?"


"Tentu saja" ucap Jony sembari memeluk tubuh Leni yang masih menggunakan handuk.


"Kapan kamu akan menuntaskan rencana mu itu? apakah kamu berniat hanya menjadikan ku istri simpanan saja seumur hidupku?" ucap Leni dengan ketus.


"Bersabarlah, sebentar lagi, papa akan menguasai perusahaan milik Karendra itu, jika aku membantunya dan menjadi orang kepercayaannya, maka akan lebih mudah untukku menguasainya, setelah papa meninggal akulah yang akan mewarisi hartanya" jelas Jony sambil menciumi pundak Leni.


"Lalu bagaimana dengan adik dan istrimu itu?"


"Adikku itu lemah sekali, dia mana bisa bersaing dengan ku, dan lagi wanita itu sudah sakit-sakitan sebentar lagi juga akan mati" ucap Jony.


"Jangan marah dong, setelah melihatmu habis mandi seperti ini, aku jadi ingin sarapan" ucap Jony sembari menggigit kecil telinga Leni dan meremas pay**aranya.


"Aku nggak mau," kata Leni sambil melepaskan tangan Jony dari dadanya.


"Ayolah, jangan marah, nanti aku anterin kamu belanja, oke?" ucap Jony sembari mengecup pangkal leher Leni.


Karena mendengar Jony ingin menemaninya belanja ia pun hanya diam saja dan menerima semua sentuhan Jony.


Bibir Jony kini sedang menelusuri leher jenjang Leni, sedangkan tangan kanannya bermain di dada Leni.


"Emmhhh" lenguh Leni ketika tangan Jony meremas kuat buah dadanya.


Kini tangan Jony yang satunya lagi menyibakkan handuk yang di pakai Leni dan mulai menelusuri tubuh bagian bawah Leni.


Ting tong


Terdengar ada seseorang yang menekan bel pintu.


"Ah, sial, siapa yang pagi-pagi sudah kesini?" gerutu Jony.


"Cepat bukakan pintu sana, aku mau ganti baju" kata Leni lalu pergi ke kamar.


Jony pun membukakan pintu, sebelum dengan jelas ia melihat siapa yang ada di depan pintu tiba-tiba satu pukulan keras tepat mengenai wajahnya dan membuatnya terjungkal ke lantai.


Tak terasa di sudut bibir Jony pun mengeluarkan darah akibat terkena pukulan tadi.


"Cih, siapa yang berani memukulku" ucap Jony sembari mengusap bibirnya dan berbalik ke arah pintu.


"Oh, ternyata kamu adikku tersayang" kata Jony yang kini tengah menghadap Farel yang tadi memukulnya.


Tanpa berbicara, Farel pun menghampiri Jony dan mencengkeram erat kerah kemeja Jony.


"Ppffftt, hahahaha" Jony pun tertawa dengan keras.


"Dasar bodoh, aku tidak menyentuhnya sama sekali" kata Jony lagi sembari menyunggingkan senyuman miring.


"Kau," gerutu Farel sembari merapatkan cengkeraman tangannya.


"Hey, sudahlah, pagi-pagi begini, kenapa kamu marah-marah, santai saja, lagian dia juga wanita miskin yang tidak berharga, jadi yah, anak buahku kan juga butuh hiburan" ucap Jony dengan santainya sambil melepaskan tangan Farel yang ada di kerahnya.


"Kau memang keterlaluan!" teriak Farel sembari mengarahkan satu pukulan ke wajah Jony, namun dengan sigap Jony pun menepisnya.


"Aku sungguh tak percaya, kau memang benar-benar bodoh, bukankah kau sudah telat untuk memukulku,? kejadian itu bahkan sudah lebih dari seminggu yang lalu, ck ck ck" decak Jony sambil memberikan tatapan merendahkan kepada Farel.


"Kau!"


"Aish, papa sudah kehilangan satu kesempatan untuk mendekati keluarga Karendra karena mu, jadi sesuai perintahnya aku akan


membersihkan sampah yang menghalangi jalannya meskipun sampah itu adalah kamu sekalipun" ucap Jony sembari duduk di sofa.


"Kakak, kenapa kamu berubah begitu kejam sekali,? dulu kamu tidak seperti ini" ucap Farel.


"Heeemm, dunia itu memang kejam Farel, lagipula aku lebih suka dengan diriku yang sekarang, daripada diriku yang dulu sepertimu ini, lemah dan rapuh"


"Tapi kenapa harus Luna? aku yang salah seharusnya kamu menghukum ku saja" kata Farel sambil mengepalkan tangannya.


"Hahahaha, menghukum Luna adalah satu-satunya cara agar kamu menderita Farel" Kata Jony.


"Tunggu saja, aku akan membuat perhitungan dengan mu" ucap Farel dengan geram.


"Heh, memangnya aku takut denganmu? kamu bahkan hanya laki-laki lemah, dan lagi sekarang papa sudah tidak butuh denganmu, apa kamu masih bisa melawanku?" kata Jony dengan sinisnya.


"Kalian memang benar-benar keterlaluan, apakah begitu penting kekuasaan dan harta yang kalian incar itu? sehingga kalian bisa seenaknya saja menghancurkan hidup seseorang?" teriak Farel.


"Kamu itu naif sekali adikku, nyatanya dengan adanya harta dan kekuasaan, kita bisa lebih mudah untuk mengendalikan segalanya" kata Jony.


"Dan lagi, papa sudah memperingatkan mu bahwa jangan macam-macam dengannya apalagi sampai tidak mematuhinya, jadi rasakan lah akibatnya kalau kamu jadi anak yang bandel"


Mendengar penuturan Jony, Farel pun mulai teringat kata-kata Eric tempo hari, menjadi orang yang kuat dan berkuasa untuk melindungi orang-orang yang di cintai. Kini dia mulai sadar, dia bukanlah apa-apa di hadapan mereka.


Dulu ia berfikir, dengan mencintai Luna dengan tulus maka ia akan bahagia bersamanya, namun kenyataannya malah sebaliknya, cinta tulus yang ia miliki terhadap Luna, justru malah menghancurkan hidup wanita yang ia cintai itu.


"Apa yang kamu pikirkan? ingin membalas ku silahkan saja? aku yakin kamu juga tidak akan mampu" ejek Jony.


"Heh, tunggu saja, suatu saat nanti aku pasti akan membalas mu karena sudah menindas ku selama ini" gerutu Farel.


"Kalau sudah tidak ada urusan, pergi sana, kamu mengganggu aktifitas ku saja"


"Cih, aku juga tidak sudi lama-lama di sini, dasar anj*ng"


seru Farel sembari keluar dari sana dan membanting keras pintu apartemen tersebut.


Di dalam perjalanan, Farel terus saja terngiang-ngiang akan kata-kata Jony tadi.


"Aku memang naif sekali, aku pikir, selagi aku punya cinta yang tulus, itu adalah sebuah harta yang tak ternilai, ternyata aku salah, untuk melindungi orang yang kucintai ternyata aku juga butuh harta dan kekuasaan. Lihat saja kalian, aku pasti bisa berdiri di kakiku sendiri untuk mewujudkan semua itu. Untuk Luna, untuk orang yang aku cintai, aku pasti bisa melakukannya" gerutu Farel kepada dirinya sendiri


Kini Farel pun bertekad untuk menjadi seseorang yang sukses agar bisa melindungi orang yang ia sayangi, entah kenapa, kata-kata Eric tempo hari justru malah di jadikannya sebagai motivasi untuk menjadi orang yang lebih kuat lagi.