What's Wrong With My Brother?

What's Wrong With My Brother?
Episode. 59



Setengah jam berlalu namun Kyra tak kunjung kembali. Ingin rasanya Eric menyusul Kyra namun sedari tadi di cegah oleh Serlyn.


"Kalau kamu pergi, akan aku beritahu Kyra yang sesungguhnya" bisik Serlyn di telinga Eric.


Seketika Eric pun mengurungkan niatnya untuk menyusul Kyra ke toilet.


"Kenapa dia belum kembali?" gumam Farhan.


Serlyn pun mengarahkan pandangannya ke Zian dan mengisyaratkan sesuatu. Zian yang mengerti maksud dari kakaknya, segera saja beranjak dari tempat duduknya.


"Permisi, saya akan ke toilet sebentar" ucap Zian.


"Hem, ya ... pergilah" balas Jacob.


Zian pun melangkahkan kakinya menuju ke toilet wanita. Dia berdiri di depan pintu menunggu Kyra keluar. Setelah beberapa menit, akhirnya Zian tidak sabar dan masuk ke dalam toilet wanita tersebut yang untungnya saja sedang sepi.


Zian mencari Kyra ke sana kemari namun tidak menemukannya.


"Kemana perginya Kyra?" gumam Zian. "Ah sial, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendekatinya, jangan sampai aku kehilangan kesempatan malam ini. Kakak sudah berhasil dengan rencananya, sekarang giliran ku untuk mendapatkan Kyra"


Zian pun tak tinggal diam, ia mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Kyra namun tidak ada jawaban darinya.


"Dimana dia?" gumam Zian.


Di sisi lain, Farhan yang tadinya sedang menikmati makan malamnya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sejenak ia melihat layar ponselnya dan terlihatlah Ardan sedang meneleponnya.


Farhan pun beranjak mencari tempat yang tidak terlalu ramai.


"Ada apa?" kata Farhan.


Ardan pun mulai membicarakan sesuatu di seberang telepon, setelah Ardan selesai berbicara Farhan langsung mematikan ponselnya.


Setelah mendapat telepon dari Ardan, Farhan kembali ke tempat semula. Ia ingin berbicara dengan Eric, namun Eric terlihat sibuk dengan beberapa klien yang dia undang untuk makan malam.


"Kamu mau kemana Farhan?" tanya Jacob yang melihat Farhan tengah terburu-buru hendak keluar dari restoran.


"Cari angin" jawab Farhan singkat.


"Hem?" gumam Jacob yang melihat Farhan keluar dari restoran.


"Kemana tuh bocah?" kata Susan.


"Gak tau, biarin aja"


Farhan pun melangkahkan kakinya menyusuri pinggir jalan. Pandangannya kesana kemari mencari-cari seseorang.


Setelah beberapa meter berjalan Farhan pun menghentikan langkahnya dan melihat seseorang yang sedang duduk di bangku taman sendirian.


"Ah, ternyata kamu di situ" gumam Farhan lalu mengahampiri wanita tersebut.


Semakin Farhan mendekatinya, samar-samar terdengar suara isak tangisnya.


"Kyra?" kata Farhan.


Kyra pun menoleh ke belakang dan melihat Farhan dengan matanya yang sembab akibat menangis.


Dengan cepat Kyra memalingkan wajahnya dan mengusap kasar sisa-sisa air matanya.


"Kyra, kenapa duduk di sini? Di sini dingin tau" kata Farhan sambil duduk di samping Kyra.


Kyra hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.


"Hey, ayo kembali masuk ke restoran, kamu kan belum makan'' kata Farhan.


"Kak Farhan duluan saja, aku masih ingin di sini sendirian" ucap Kyra tanpa melihat Farhan.


"Baiklah, akan aku temani kamu di sini" kata Farhan sambil melepaskan jasnya dan memakaikannya kepada Kyra.


"Tidak perlu kak" kata Kyra hendak melepaskan jas Farhan.


"Kak?" ucap Kyra.


"Hem?"


"Boleh aku pinjam pangkuan kakak sebentar?" kata Kyra.


"Silahkan"


Kyra pun menaruh kepalanya di pangkuan Farhan. Beberapa saat kemudian Kyra mulai menangis. Seolah mengerti perasaan Kyra, Farhan pun mengusap kepala Kyra untuk menenangkannya.


"Aku tidak tau apa yang membuatmu menangis, tapi jika kamu mau, kamu bisa cerita sama aku, aku pasti jadi pendengar yang baik" gumam Farhan.


Kyra hanya diam dan menangis sesenggukan di pangkuan Farhan.


Dengan setia Farhan menemani Kyra yang menangis hampir setengah jam. Melihat Kyra sudah berhenti menangis, Farhan pun melirik ke wajah Kyra.


Kyra yang kelelahan, ternyata sekarang sedang tertidur. Farhan pun tersenyum melihat wajah cantik Kyra yang tengah tertidur di pangkuannya.


"Aku tau, kamu pasti sedih karena kakakmu kan? Hufft ... kenapa hubungan kalian rumit sekali. Kalian adalah saudara, kenapa harus memiliki perasaan lebih yang pada akhirnya hanya akan melukai kalian berdua" gumam Farhan sambil mengusap rambut Kyra dengan lembut.


"Jika kita lebih awal bertemu sebelum kamu jatuh cinta sama Eric, apa kamu akan jatuh cinta sama aku Kyra?" kata Farhan sambil mengelus pipi Kyra yang mulai agak dingin.


Tanpa sadar Farhan mendekatkan wajahnya ke pipi Kyra namun sebelum dia mencium pipi Kyra, tiba-tiba ponsel Kyra berdering.


"Haish" gumam Farhan lalu mengambil ponsel Kyra dan mengangkat teleponnya.


"Kyra, kamu dimana?" kata Eric dari balik telepon.


"Kyra ada bersama ku" ucap Farhan.


"Farhan? Kenapa kamu bisa pegang ponsel Kyra?"


"Sudah ku bilang dia bersamaku. Dia sedang tidur sekarang" jelas Farhan sambil tangannya masih mengusap lembut kepala Kyra.


"Dimana kalian sekarang?"


"Di kamar hotel" kata Farhan.


"Hey, Farhan. Jangan bercanda" teriak Eric dari balik telepon.


"Pfftt, ya ya ya. Kami sedang di taman di dekat restoran" kata Farhan.


Tanpa berkata lagi, Eric langsung mematikan panggilan ponselnya.


"Hufft ..." desah Farhan. "Bukankah ini akan lebih baik, jika Eric menikah. Kalian akan berangsur melupakan perasaan satu sama lain. Aku hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua, yang satu adalah sahabatku dan yang satunya lagi adalah orang yang kusukai" gerutu Farhan.


Beberapa menit kemudian, terlihatlah Eric yang tengah berlari kecil menghampiri mereka.


"Apa yang terjadi dengannya? kenapa dia bisa tidur di sini?" tanya Eric saat tiba di depan Farhan.


"Dia hanya ingin mencari udara segar, jadi aku menemaninya" ucap Farhan dengan santainya.


Eric pun mendekatkan dirinya ke arah Kyra. "Kenapa kamu tidur disini, lihatlah kamu kedinginan" gumam Eric sambil mengusap pipi Kyra.


"Berikan kunci apartemen mu, biar aku antar dia pulang. Kamu kan masih sibuk dengan klien-klien mu itu atau dengan calon istrimu"


Eric hanya diam saja, dia langsung menggendong Kyra ala bridal style dan meninggalkan jas Farhan.


"Terimakasih jasnya. Aku akan membawanya pulang"


"Heh ... Baiklah. Tapi Ric" Farhan pun berdiri dari tempatnya. "Aku sarankan kamu agar mengambil keputusan yang tepat untuk kalian berdua. Aku hanya khawatir perasaan kalian ini hanya akan menyakiti satu sama lain"


Eric pun terdiam sejenak "Aku tau Farhan. Aku bisa mengurus masalah ini sendiri" ucap Eric lalu beranjak pergi.


"Huh, baiklah. Aku hanya memberi saran. Tapi Ric, jika kamu menyakitinya jangan salahkan aku, jika aku adalah orang pertama yang akan mengambilnya darimu" gumam Farhan yang tak mungkin terdengar oleh Eric yang sudah menjauh.