
Beberapa hari kemudian, di malam hari di kediaman keluarga Karendra. Pak Daniel dan Bu Sofia sedang bercengkrama di ruang tengah, sedangkan Kyra tengah belajar di dalam kamarnya.
Eric yang baru saja pulang dari rumah merah kini berjalan menghampiri mereka.
"Kamu sudah pulang?" tanya Bu Sofia.
"Iya Bu, ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi bersama mereka, jadi pulang agak sedikit malam hari ini" kata Eric sembari duduk di sofa.
"Oh ...."
"Bu, buatkan minuman sana!" ucap Pak Daniel kepada Bu Sofia.
Bu Sofia hanya mengangguk dan segera pergi menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Ada apa? katakan saja kepada Ayah" ucap Pak Daniel yang seolah olah mengerti kalau Eric ingin membahas sesuatu.
"Ck, Ayah ini seperti paranormal saja, aku belum mengatakan sesuatu tapi sudah tau dengan maksudku" gerutu Eric.
"Hahaha, tentu saja. Apakah si Freddy itu mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Pak Daniel.
"Tidak, aku hanya ingin membahas soal Kyra" sahut Eric.
"Ada apa dengan Kyra?" tanya Bu Sofia yang mendengar percakapan mereka dan membawakan dua cangkir teh di tangannya.
"Tidak ada, dia hanya bilang ingin tinggal di dekat kampusnya, perjalanan dari rumah ke kampus terlalu jauh. Jadi dia ingin tinggal di apartemen katanya" jelas Eric.
"Ibu tidak mengizinkannya tinggal di apartemen, meskipun dia sudah dewasa tapi Ibu tetap tidak tega membiarkannya tinggal sendirian di luar sana" kata Bu Sofia.
"Biarkan saja lah Bu, anak ingin belajar hidup mandiri kok dilarang" ucap Pak Daniel dengan santainya sembari menyeruput secangkir teh hangat yang ada di hadapannya.
"Tidak bisa Ayah, dia itu anak perempuan, kalau tinggal jauh dari orangtuanya aku khawatir dia akan kesulitan nanti" lanjut Bu Sofia.
"Justru itu, kita harus membuatnya belajar mandiri, jadi suatu saat nanti dia tidak akan kesulitan, ada ataupun tidak ada kita" tutur Pak Daniel.
"Pokoknya tidak bisa Yah"
"Kamu itu terlalu memanjakannya," gumam Pak Daniel. "Bagaimana menurutmu Eric?" lanjut Pak Daniel.
"Dia sangat berambisi ingin menjadi dokter, dan juga itu adalah kampus terdekat dari sini. Membiarkan dia sendirian di luar sana juga tidak baik, mengingat kita masih punya masalah dengan Pak Freddy, takutnya dia akan menggunakan Kyra untuk menekan kita" jelas Eric.
"Betul juga, aku lupa dengan masalah itu, lalu bagaimana?" kata Pak Daniel.
"Aku akan tinggal bersama Kyra sampai dia menyelesaikan pendidikannya" ucap Eric dengan tegas.
"Selain keamanan Kyra, aku juga tidak ingin ada laki-laki lain yang akan menggunakan kesempatan untuk mendekati Kyra kalau dia tinggal sendirian. Kyra kan masih terlalu bodoh kalau berurusan dengan laki-laki" batin Eric.
"Ide yang bagus juga, Bagaimana menurut mu Bu?" kata Pak Daniel sembari menoleh ke arah Bu Sofia.
"Terserah lah, yang penting Kyra aman dan tidak kesulitan itu sudah cukup bagi Ibu" ucap Bu Sofia.
"Oh ya Eric, Ayah akan memilihkan rumah untuk kalian di dekat kampus itu" ucap Pak Daniel.
"Tidak perlu Ayah, aku sudah beli sebuah apartemen" cetus Eric.
"Apa? Apartemen? untuk kalian berdua mana cukup kalau hanya tinggal di sebuah apartemen" seru Bu Sofia yang sangat peduli dengan anak anaknya itu
"Ibu, apartemen yang aku beli juga sangat luas tidak kalah dengan sebuah rumah, jadi Ibu tenang saja" jelas Eric.
"Hufftt, baiklah, terserah kalian saja" kata Bu Sofia.
"Kalau begitu aku akan beritahu Kyra, kalau kalian sudah setuju" ucap Eric.
"Hemm," gumam Pak Daniel sembari mengibas ngibaskan tangannya menyuruh Eric pergi.
Eric pun segera pergi menuju ke kamar Kyra, sesampainya di depan pintu ia pun segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kyra yang tengah duduk di kursi meja belajarnya pun segera menoleh ke arah pintu.
"Ck, kalau masuk ke kamar orang, ketuk pintu dulu kenapa," gumam Kyra yang melihat Eric berjalan menghampirinya.
Eric pun hanya diam saja dan kini tengah berdiri di belakang Kyra.
"Aku punya berita bagus untukmu" ucap Eric yang kini sudah memeluk Kyra dari belakang.
"Berita apa?" kata Kyra yang masih sibuk dengan tugas yang dia kerjakan.
"Ibu dan Ayah sudah setuju kalau aku akan tinggal bersamamu" lanjut Eric lagi.
"Oh ...."
"Cuek banget sih, kamu tidak senang ya mendengar hal itu?" seru Eric yang malah meresak kan kepalanya di pundak Kyra.
"Biasa aja" jawab Kyra dengan masih sibuk dengan laptopnya. "Sudahlah kakak, pergi sana, aku lagi sibuk nih" imbuhnya lagi sembari melepaskan tangan Eric yang memeluknya.
"Mau aku bantu?" tanya Eric sembari berdiri.
"Tidak perlu, pergilah" gumam Kyra.
Eric pun menarik tubuh Kyra supaya berdiri dari kursinya, dengan cepat Eric pun duduk di kursi tersebut.
"Kakak ... apa yang ka—" ucap Kyra terputus karena Eric dengan cepat menarik pinggang Kyra ke dalam pangkuannya.
"Aku akan membantumu mengerjakan tugas" bisik Eric yang kini tengah memeluk pinggang Kyra.
"Kakak ... lepaskan," pinta Kyra yang berusaha melepaskan tangan Eric.
"Nggak mau" cetus Eric yang malah merapatkan pelukannya dan menempatkan dagunya di bahu Kyra.
Kyra pun kini mengerjakan tugasnya dengan duduk di pangkuan Eric. Melihat Kyra yang tengah fokus dengan laptopnya, Eric pun berinisiatif untuk menjailinya.
Eric pun menyibakkan rambut panjang Kyra ke samping dan menaruh dagunya agar lebih dekat ke leher Kyra, sehingga kini Kyra bisa merasakan napas Eric yang mengenai kulit lehernya.
Melihat Kyra yang kini tengah gusar dengan perlakuannya, Eric justru malah semakin merapatkan tubuhnya.
"Ssstt ... kakak ..." ucap Kyra sambil mendorong kepala Eric agar menjauhi lehernya.
"apa?" tanya Eric.
"Kamu membuatku tidak bisa berkonsentrasi tau" ucap Kyra lalu mengangkat ujung bibirnya.
"Aku kenapa? aku tidak melakukan apapun, tapi bukankah ini seharusnya begini?" kata Eric sembari menunjuk ke arah laptop Kyra.
"Eh iya, betul juga sih" gumam Kyra yang kini teralihkan perhatiannya.
Eric pun tersenyum ketika melihat Kyra yang sudah teralihkan perhatiannya, ia pun mulai mendekatkan bibirnya ke leher jenjang Kyra. Mula mulanya Kyra hanya diam saja hingga saat bibir Eric menyentuh kulit lehernya dan mengecup ringan di sana.
"Ssstt ... kakak ..." gumam Kyra sembari menggeliatkan tubuhnya.
"Fokus saja ke laptopmu" bisik Eric tanpa menjauhkan bibirnya dari leher Kyra, yang justru membuat Kyra merasa geli karena gerakan bibirnya ketika berbicara.
Eric pun memejamkan matanya dan mengirup aroma tubuh Kyra dalam-dalam, ia kini mulai menelusuri leher Kyra dengan bibirnya dari bawah telinga hingga ke pangkal leher Kyra secara berulang-ulang, yang membuat Kyra lebih gusar dengan perlakuannya.
"Kakak ..." gumam Kyra yang tengah bergidik merasakan geli di lehernya akibat perlakuan Eric.
Melihat reaksi Kyra, Eric justru lebih berani dan malah berganti menjulurkan lidahnya untuk menulusuri leher Kyra.
"Mhhh ... kakak ... berhentilah ... geli ..." ucap Kyra lirih.
Eric hanya tersenyum mendengarnya, dia bahkan mulai mencium dan menghisap ringan leher Kyra.
"Ssstt ... kakak ... mmmhh ... berhenti ..." gumam Kyra yang malah mencengkeram lengan Eric yang kini tengah berada di pinggangnya.
"perasaan apa ini? kenapa justru aku sangat menginginkannya" batin Kyra.
Mulut Kyra meminta Eric untuk berhenti dengan aktivitasnya namun justru tubuh Kyra ingin merasakan lebih dari itu.
Eric mulai gencar menciumi dan menjilati leher jenjang Kyra, yang membuat Kyra memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya.
"Mmmmhh ... kak ..." desah Kyra tak tertahankan.
Eric pun tanpa henti menciumi leher Kyra dan beralih ke daun telinga Kyra lalu memainkan lidahnya di sana.
"Mhhh ... " lenguh Kyra ketika merasakan lidah Eric tengah menjilati dan menyecap daun telinganya.
Mendengar desahan Kyra, Eric justru lebih bersemangat lalu mulai menciumi leher Kyra lagi dan menghisap kuat pangkal leher Kyra, hingga meninggalkan bekas merah keunguan di sana.
"Uhhh ..." desah Kyra sembari menggigit bibir bawahnya dan mempererat cengkeraman tangannya di lengan Eric.
Eric pun menjauhkan bibirnya dari leher Kyra dan mengangkat tubuh Kyra agar menghadap ke arahnya. Wajah Kyra yang memerah dan mata yang masih terpejam kini tengah duduk di pangkuan Eric dengan wajah mereka yang saling berhadapan.
Kyra pun membuka matanya ketika merasakan sapuan tangan Eric di wajahnya. Eric tersenyum ketika melihat wajah Kyra yang memerah.
Eric pun melingkarkan kedua tangan Kyra ke ke lehernya dan menarik tengkuk Kyra lalu mencium bibirnya.
Entah mengapa, ketika ia menghirup aroma tubuh Kyra, Eric justru sangat menginginkannya. Eric pun terus mencium dan menyecap bibir Kyra dengan penuh gairah.
Kyra yang sedari tadi sudah terbuai oleh perlakuan Eric, kini justru malah merapatkan pelukannya dan malah menarik tubuh Eric hingga kedua tubuh mereka berdua sekarang menempel erat.
"mmmhh ... mhhh ..." desah Kyra yang kini merasakan lidah Eric yang tengah menyeruak masuk ke dalam rongga mulutnya.
Eric pun terus memainkan lidahnya di dalam rongga mulut Kyra, membelit lidah Kyra dan sesekali menyecap bibirnya. Semakin panas ciuman mereka, semakin Eric menginginkan lebih dari itu.
Tanpa sadar kini tangan Eric telah menyeruak masuk ke dalam baju tidur Kyra dan mengusap lembut pinggang Kyra.
Kyra yang merasa geli dengan sapuan tangan Eric kini mulai menggeliatkan tubuhnya.
"Mmmhh ...."
Melihat Kyra yang tengah menggeliat membuat Eric tidak bisa lagi mengontrol nafsunya. Semakin gencar Eric mencium Kyra dan melu*mat bibirnya. Dan karena dorongan nafsunya, kini tangan Eric telah menjalari punggung Kyra dan hendak menangkup buah dada Kyra.
"Oh tidak, bukankah ini terlalu cepat? aku harus berhenti sebelum aku kehilangan kendali atas diriku" batin Eric sembari menghentikan kegiatan bibirnya.
Eric pun memandang wajah Kyra yang masih terpejam dan terengah-engah akibat ciuman penuh gairahnya tadi. Sebelum Kyra membuka matanya, Eric lagi-lagi kembali mencium bibir Kyra dan kini mengangkat tubuh Kyra untuk membawanya ke tempat tidur.
Sambil tetap berciuman, Eric pun dengan pelan membaringkan tubuh Kyra ke atas ranjang. Kini Eric pun mulai melepaskan ciumannya dan memandangi wajah Kyra yang sekarang berada di bawah tubuhnya.
Dengan lembut ia mengusap wajah Kyra yang masih memerah.
"Kakak ..." gumam Kyra lirih sembari memandang lembut wajah Eric yang tengah berada di atas tubuhnya.
"Heemm ..." gumam Eric sambil mengusap sisa air liur mereka yang ada di bibir Kyra dengan ibunya jarinya.
"Bukankah ini salah? seharusnya aku tidak melakukan itu dengan kakak, tapi kenapa ... justru aku malah menikmatinya" batin Kyra yang kini tengah merasa bersalah.
"Ada apa?" tanya Eric yang melihat Kyra diam saja.
Kyra hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
"Hemm, ya sudah ... sekarang sudah malam, lebih baik kamu tidur dan lanjutkan pekerjaanmu besok" ucap Eric yang tengah menyelimuti tubuh Kyra. "Selamat malam" bisik Eric dengan lembut lalu mencium kening Kyra.
Kyra yang masih berdebar-debar kini hanya diam saja dan melihat Eric yang berjalan keluar dari kamarnya.
"Kakak ... ada apa dengan mu? kenapa kamu selalu bersikap manis seperti itu kepada ku? ... jika kamu terus seperti itu, aku takut, aku akan jatuh cinta kepada mu ... bukankah itu salah?" gerutu Kyra lalu meresak ke dalam selimutnya.